Mandi Pagi di Air Terjun Batanta, Raja Ampat

 

Raja Ampat, Papua

PAPUA, 8 MEI 2017–Pak Francis mempererat persilangan tangan di depan dadanya. Tubuh berisinya tampak sedikit gemetar. Kaus hitam tanpa lengan yang dikenakan Pak Francis pagi itu tidak cukup menahan udara yang tiba-tiba menyejuk. Namun, ia harus tetap berdiri di anjungan kapal sebagai mata pengganti Pak Noak yg mengemudikan mesin di belakang. Suara lirih mesin kapal Pak Noak membelah keheningan hutan bakau di Pulau Batanta, Raja Ampat, Papua.

Pulau Batanta merupakan pulau terkecil di antara empat pulau utama di Kepulauan Raja Ampat. Luasnya sekitar 453 km². Dari kejauhan, pohon-pohon besar masih menutup rapat sebagian besar Pulau. Pagi itu, hanya kapal pak Noak yang melintas di muka Batanta. Sepertinya, banyak pejalan yang melewatkan Batanta sebagai destinasi. Padahal pulau yang terletak di utara pulau Salawati ini menyembunyikan pesona sumber air tawar di jantungnya. Penduduk lokal menamainya air terjun Warmon. Air terjun inilah yang membuat saya, Nova, Nuni, Idha, Diah, Andri, Dewi, Ria, dan Widha  bangun pagi-pagi sekali.

Raja Ampat, Papua

“Tidak mau ke Batanta? Ada air terjun. Bagus,” usul Bu Wisye, pemilik homestay yang kami inapi di Pulau Mansuar. 

Saya berpikir tidak ada ruginya menyisipkan Batanta ke dalam rencana perjalanan pada hari ketiga. Lumayan sebagai selingan air tawar setelah berhari-hari bermain air asin. Lagi pula, saya belum pernah menginjakan kaki di Pulau Batanta sejak kali pertama bertandang ke Raja Ampat. Delapan teman lain pun setuju.

Sekitar pukul enam pagi waktu indonesia bagian timur (WIT), kami menuju pulau yang berada di sebelah barat Sorong ini. Gelombang laut masih tenang. Semilir angin pagi serasa “meninabobokan” mata. Namun, matahari yang terbit di sisi kiri kapal membuat mata saya terjaga. Sayang, jika pemandangan indah ini dilewatkan dalam lelap.

Bu Wisye memperkirakan perjalanan akan memakan waktu dua jam. Baru satu jam, kapal sudah memasuki mulut hutan bakau Batanta.  Pohon-pohon tinggi menjulang membuat suasana hutan bakau lebih teduh. Udara berubah sejuk. Kami pun larut dalam keheningan hutan. Ada perasaan damai sekaligus waswas. Potongan adegan film Alligator terbayang dibenak. Bagaimana buaya yang menjadi tokoh utama film tersebut mengendap dalam air gelap dan menerkam tiba-tiba. Saya membatalkan niat  menyentuh air muara yang berwarna kehitaman.

Lebar muara hutan bakau Batanta sekitar empat meter. Sangat cukup untuk kapal berkapasitas 12 orang melintas. Namun Pak Francis tetap siaga memberi kode kepada Pak Noak agar perahu tak menabrak akar-akar bakau yang menjulang ke permukaan. Setelah melewati muara yang berkelok, kapal berhenti di sebuah dermaga kayu. Daun kuning kecokelatan berserakan di atas dermaga yang lembab dan licin. Dermaga sepanjang sekitar 100 meter ini tampak jarang dilewati.

Raja Ampat, Papua

“Pak, jalurnya mendaki seperti di Teluk Kabui enggak?” tanya saya kepada Pak Francis.

Sudah beberapa hari, kami selalu disuguhi tanjakan dan ratusan anak tangga demi mencapai puncak bukit. Jadi, saya harus menyiapkan dengkul kalau-kalau bertemu tanjakan lagi. Untung saja, jalan menuju Warmon landai. Kami hanya perlu berhati-hati menginjakan kaki di tanah yang basah. Vegetasi di pulau Batanta sangat baik. Berbagai flora dan fauna endemik hidup bebas di hutan hujan tropis tersebut. Langkah saya spontan terhenti saat mendengar teriakan Wida. Seekor ular bergelung di depan perempuan asal Tasikmalaya ini. Dewi yang berjalan di depan Wida segera menarik lengan sahabatnya dengan gemas.

“Itu ular cincin. Tidak berbahaya,” jelas Pak Francis menenangkan kami.

Saya jadi lebih mawas memerhatikan pijakan. Untung saja, tidak ada seekor ular pun yang nongol. Hanya serangga mirip kaki seribu yang kadang terlihat. Suara gemuruh Warmon menyelinap di balik pepohonan. Langkah kaki saya percepat agar lekas tiba di kaki air terjun. Tak sampai 15 menit berjalan, air terjun setinggi sekitar tujuh meter sudah berdiri tegak di depan mata. Volume air Warmon tidak besar karena hujan jarang turun di hulu sungai.

Pak Noak menyeburkan diri ke dalam Waremo dan berenang mendekati ceruk serupa gua kecil  di dinding air terjun. Dinding air terjun Warmon mengingatkan saya pada air terjun Bantimurung di Maros Sulawesi. Batunya bukan berupa batu cadas, melainkan sejenis batu kapur yang berwarna putih kecokelatan. Di depan ceruk, ia berpose bak model. Kami tertawa melihat tingkahnya. Diah, Nuni dan Nova menyusul kemudian. Mereka tampak menikmati dinginnya air yang menusuk rusuk. Ingin rasanya ikut mandi pagi di kolam kehijauan Warmon. Namun, saya dilema antara harus memotret atau menyeburkan diri. Memotret dalam keadaan basah akan menyiksa alat bidik yang baru saja kembali dari servis.  Saya pun hanya berendam hingga mata kaki.

Raja Ampat, Papua

Selain Warmon, ada sebuah air terjun yang lebih besar di hulu sungai. Airnya menjuntai dengan ketinggian di atas 10 meter. Diameter kolamnya juga lebih besar. Dari Warmon, air terjun ini bisa digapai dengan mendaki hulu sungai sekitar satu jam. Walau medannya lebih berat, wisatawan akan terhibur oleh suara burung-burung dari puncak pohon dan pepohonan hutan hujan tropis yang berusia ratusan tahun. Kami tidak sempat ke sana.

Bu Wisye memanggil kami untuk kembali ke kapal. Dia khawatir air muara akan surut lebih cepat dan menyulitkan kapal keluar dari hutan Bakau. Diah, Nunik dan Nova mengakhiri keriangan mandi pagi di bawah gemericik Warmon. Kami kembali meniti jalan yang tadi dilewati. Suara gemuruh air semakin samar ditelan keheningan hutan bakau. Kali ini, jalan lebih terang karena sinar matahari sudah menembus pepohonan. Tak sampai sepuluh menit, kapal pak Noak sudah meninggalkan mulut hutan bakau Batanta.

Raja Ampat, Papua

Selain air terjun dan aktivitas trekking di tengah hutan hujan tropis, wisatawan juga bisa melakukan pengamatan burung. Pak Francis berkisah beberapa tahun lalu ada warga yang melihat burung purba yang hidup di hutan Batanta. Namun tidak ada penjelasan apakah itu jenis Archaeopteryx atau Pterodactyl. Kisah si burung purba juga masih simpang-siur. Di sekitar pulau Batanta, terdapat titik untuk menyelam dan snorkeling. Penyelam bisa menikmati terumbu karang yang menyelimuti pesawat P47 milik angkatan udara AS yang karam pada perang dunia II di perairan Pulau Wai di dekat Batanta.

Walau menjadi pulau bungsu di antara empat pulau utama Kepulauan Raja Ampat, Batanta menyimpan kekayaan hayati yang belum banyak terjamah. Menyurusi hutan hujan tropisnya memberikan warna petualangan “empat kerajaan” yang tidak melulu air asin. Injo Raja Ampat! Injo Papua!

Raja Ampat, Papua

CATATAN KAKI

  • Berkunjung ke air terjun Batanta lebih baik sejak pagi saat air pasang
  • Menuju Batanta juga bisa langsung dari Sorong dengan menyewa speedboat Rp 5juta/hari
  • Jika ingin bermalam di Batanta, ada resort di pantai timur laut Batanta
  • Bawa bekal makanan dan minuman yang cukup karena tidak ada penjaja makanan, tapi semua bungkus harus dibawa lagi ke kapal
  • Gunakan sandal gunung atau sepatu trekking karena jalur menuju Batanta berupa tanah basah dan lumpur
  • Gunakan lotion anti serangga

GET LOST IN WAYAG, RAJA AMPAT #3

(CHAPTER 3. DESA ITU BERNAMA FAM’S)

Lamunan tentang nasi hangat dan ikan sambal dabu-dabu buyar oleh kapal yang bergerak menjauh dari daratan. Rupanya, nahkoda kapal memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan ke pulau berpenduduk bernama Pam. Berdasarkan informasi manusia di seberang daratan sana, Pam tidak jauh. Baru saya ketahui kemudian bahwa daratan tadi adalah sebuah cottage. Oleh karena itu, kami tadi sukar untuk merapat. Tersisip perasaan legah bahwa nahkoda sudah mengetahui posisi kami. Setidaknya kami masih di Raja Ampat, bukan di Maluku.

Tak sampai sepuluh menit, kapal sudah menepi di sebuah dermaga kayu. Cuitan kawan-kawan pun kembali terdengar. Akhirnya, kami kembali menginjakan kaki di daratan. Saat tiba, Pulau Pam sudah sepi dan gelap. Ada satu sumber cahaya  diujung dermaga mencerahkan mata. Semoga ini bukan fatamorgana.

“Tuh, ada warung tuh,” kata saya.

Seperti laron, tujuh kawan langsung ngacir ke sumber cahaya. Mimpi apa pemilik warung, malam-malam diserbu wisatawan Jakarta yang bentuknya sudah enggak karuan. Warung kelontong ini cukup besar dan lengkap. Dari mulai kebutuhan pokok, berenceng-renceng cemilan, hingga berbagai jenis pakaian tersedia. Ine dan Anif yang sudah kedingingan menyambar sepasang babydoll hijau dan krem yang digantung  di etalase warung. Sedangkan, Ijang membeli kaos pokemon berwarna biru tua.

“Yang paling mending ini. Tadi malah ada yang om telolet om,” Ijang memamerkan kaos pokemon barunya.

Sambil menunggu beberapa kawan yang masih berjibaku di kamar mandi warung, saya mencoba mencari letak Pulau Pam di dalam peta ala kadar yang saya bawa. Peta ini sebenarnya hanya flyer  sebuah eco resort yang mencantumkan peta kepualauan Raja Ampat. Lembaran kertas ini pun menjadi berharga saat Google Map tidak berdaya. Boro-boro sinyal internet, jaringan telepon saja muncul dan tenggelam.

Saya tidak menemukan Pulau Pam di dalam peta berukuran A5 tersebut.  Awalnya saya pikir Pam ini singkatan “Perusahaan Air Minum”. Saya perlihatkan peta ini kepada Pak Heka Sauyai, suami bu Wisye. Ia mengarahkan jarinya ke salah satu simbol kotak merah bergaris putih di paling ujung kiri bawah. Di ikon selam tersebut bertulis “Fam’s Village”. Baru teranglah posisi kami di muka bumi. Fam’s terletak di bawah pulau Pianemo yang seharusnya menjadi destinasi besok. Menurut peta, Painemo berjarak dua jam dari pulau Mansuar. Hal konyol jika kami memaksa balik ke Mansuar malam itu juga.  Bensin kapal kami tidak cukup menempuh perjalanan sejauh itu. ABK mengatakan penjual bensin subsidi hanya ada di desa lain. Mau tidak mau, kami bermalam di desa Fam’s.

“Malam ini, kita tidur di sini dulu. Ada rumah saudara suami di sini,” ucap bu Wisye.

Tidur beratap rumah jelas terdengar mewah daripada terombang-ambing di atas kapal. Saya dan Citra mengikuti bu Wisye membelah jalanan desa yang sudah gelap. Sementara beberapa kawan masih saja betah di kamar mandi warung. Dalam perjalanan, bu Wisye bercerita bahwa ia tidak mengetahui punya saudara di pulau Fam’s. Perempuan asal Ambon ini jarang mengikuti acara keluarga dari suami yang dinikahinya beberapa tahun lalu itu.

Hujan deras tanpa bak bik buk mengguyur Fam’s. Untungnya, semua kawan sudah berkumpul di rumah. Dengan latar desau hujan, kami mengatur rencana untuk esok hari. Perbedaan pendapat sempat mencuat dalam rapat kecil kami. Sebagian ingin lanjut ke Pianemo. Sebagian lagi menginginkan langsung kembali ke homestay di Pulau Mansuar. Dengan pertimbangan waktu dan biaya, kami sepakat melanjutkan petualangan ke Pianemo “the little Wayag”.

Di balik kejadian get lost ini, banyak hal positif yang kami tuai kemudian. Salah satunya, kami diganjar kompensasi dari bu Wisye dan pemilik kapal. Bu Wisye bercerita bahwa si juragan sempat mengerahkan sejumlah kapal untuk mencari awaknya yang tidak juga pulang. Di pulau Mansuar, satu desa pun mengetahui kami kesasar. Bagaimana tidak, bu Wisye yang menjadi juru kuci Gereja hilang tak ada kabar selama berjam-jam.

“Besok hari Minggu toh . Kunci Gereja ada di saya,” kata mantan guru matematika ini.

Raja Ampat, Papua
Formasi 3-4-2 di rumah family Pak Heka di Desa Fams.

Sekitar pukul sebelas malam, kami mulai mengatur posisi tidur. Jangan bayangkan kasur membel dengan bedcover tebal. Bisa merebahkan badan di atas tikar pun sudah anugerah. Belum sempat jatuh ke alam mimpi, pemilik rumah tiba-tiba membawakan kasur berukuran king. Kami menolak halus, tapi pemilik rumah tidak mengindahkan. Ia malah membawakan dua kasur lagi berukuran single dan beberapa bantal-guling.

Sampai saat ini, saya masih merasa bersyukur menunaikan “umrah” ke Raja Ampat bersama Anif, Ine, Lia, Tita, Icha, Wilda, Citra, dan abang saya, Ijang. Hilang arah di tengah laut yang gelap menjadi cerita yang seru. Tapi kalau ada opsi enggak pakai nyasar, pasti kita milih yang lempeng sampai pulau Mansuar.  Mereka  dalam situasi yang enggak sesuai bayangan  ini masih bisa selow, fleksibel, dan enggak deramah. Semua kaya sudah diatur.

“Jalan sama kita ada aja ceritanya. Mayan, kita jadi deket ke Pianemo. Dapat bonus satu pulau lagi, Pam’s Village. Hahaha…,” kelakar kami menutup hari.

Raja Ampat, Papua
Kami bersama bu Wisye (baju ungu), Mama (dua dari kiri), dan Pak Heka (kanan) di Mangrove Homestay di Pulau Mansuar, Raja Ampat.

 

Get Lost In Wayag, Raja Ampat #1 [Prolog] 

Get Lost In Wayag, Raja Ampat #2 [Tujuh Jam Sebelum]

Get Lost In Wayag, Raja Ampat #2

Raja Ampat, Papua

(CHAPTER 2. TUJUH JAM SEBELUM)

Pucuk-pucuk gunung kars semakin kasat mata saat speedboat yang kami sewa memasuki perairan biru toska.  Di atas perairan dangkal tersebut, speedboat melenggang lebih tenang. Padahal, beberapa jam sebelumnya, gelombang cukup besar mengocok badan kapal sekaligus isi perut kami. Hari itu, cuaca tidak cukup baik. Beberapa kali kami diguyur hujan selama perjalanan. Bahkan, mesin speedboat sempat mengalamami kerusakan.  Lelah perjalanan segera berganti riang-riuh saya, Anif, Ine, Lia, Tita, Icha, Wilda, Citra, dan abang saya, Ijang saat melihat bibir pantai Wayag.

“Selamat datang di Wayag”

Raja Ampat, Papua
Beberap menit sebelum mesin kapal mati dalam perjalanan ke Wayag.

Waktu sudah melewati pukul 1 siang. Ini berarti kami mulur 2-3 jam dari waktu tempuh normal, yakti 4-5 jam. Ijang langsung melompat padahal speedboat belum bersandar sempurna. Ia celupkan wajahnya ke air beberapa kali. Wajah yang pucat-pasi kembali berwarna. Selama perjalanan, abang saya ini muntah berkali-kali sampai tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan.

Bukan cuma ijang yang ”rindu” daratan, usai kapal merapat, beberapa teman tunggang-langgang mencari pojokan. Berjam-jam di kapal membuat kantung kemih berontak minta dikosongkan. Sementara itu, perut kami berteriak minta diisi segera. Melihat wajah-wajah lapar, bu Wisye menyiapakan makan siang yang disusunnya dalam rantang. Perempuan kelahiran 1985 ini adalah pemilik homestay Mangrove di Pulau Mansuar. Walau sudah bertahun-tahun tinggal di Raja Ampat, ini kali pertama bu Wisye menginjakan kaki di Wayag.

Raja Ampat, Papua
Jalur berbatu kars dan berakar menuju Puncak Wayag.

Saya lahap satu-satu jenis menu yang dibawakan Bu Wisye untuk mengisi tenaga yang terkuras selama perjalanan. Konon, jalur ke puncak Wayag  cukup menantang. Dan benar saja! Jalur terjal menyambut kami yang kekenyangan. Perkiraan saya, kemiringannya sekitar 50-60 derajat dengan medan kars dan bertanah. Untungnya, banyak akar pohon yang  bisa dijadikan pegangan. Sebenarnya jarak dari kaki ke puncak Wayag hanya seratus meter. Tapi baru sepertiga perjalanan, napas mulai tersengal-sengal. Saya harus tetap fokus memilih pijakan.  Salah-salah, batu sekepel tangan yang saya pijak malah gelinding  ke jidad kawan yang di belakang.

Saya tiba di puncak Wayag. Akhirnya, pemandangan yang selama ini hanya saya lihat lewat foto, kini ada di depan mata. Gugusan bukit kars terhampar seperti kura-kura hijau yang sedang muncul ke permukaan. Saya langsung angkat kamera membingkai ikon “istana” empat raja. Saya tidak peduli lagi dengan rambut kusut karena pengikatnya putus tanpa saya sadar. Berlatar biru toska, setiap anak sibuk berfoto, kecuali Lia dan Tita yang  sibuk untuk difotokan. Dalam perjalanan kali ini, Lia jarang memanggil saya, tidak seperti biasa. Tampaknya, dia sedang menjinakan rasa takut ketinggian yang menghinggapinya. Tepuk tangan paling meriah untuk teman SMA saya ini yang bisa bercokol di puncak Wayag.

“Ayo turun. Nanti terlalu sore,” Panggil Bu Wisye.

Saya turun paling awal agar bisa memvideokan berjuangan teman-teman menuruni jalur terjal Wayag. Naiknya sulit, turunnya ampun. Makan siang tadi sepertinya sudah impas dengan tenaga untuk naik-turun Wayag. Setibanya di kaki Wayag, saya langsung nyemplung ke laut. Baju yang sudah kering menjadi basah lagi. Anif bergabung bersama saya, disusul Ine, Icha, dan Lia.

Hiu-hiu kecil sesekali melintas di sekitar kami. Hiu jenis blacktip ini tidak agresif, jadi tidak perlu khawatir. Hari itu, hanya kami yang ada di Wayag. Ikon Raja Ampat ini serasa milik sendiri.  Akhirnya, satu rukun “umrah laut” bisa juga saya ditunaikan, walau dengan ujian gelombang besar, hujan, dan gangguan mesin kapal.

Raja Ampat, Papua
Ini bukan hiu blacktip, tapi Icha black

Karena sudah hampi pukul setengah lima sore, satu spot di sekitar Wayag kami relakan. Pulau yang  berjarak satu jam dari kaki Wayag ini terdapat pos penjaga.  Speedboat dua mesin pun melaju menuju Desa Selpele. Suasana di atas kapal lebih hidup daripada saat kami berangkat tadi.

“Itu lumba-lumba!” teriak Citra.

Sekelompok mamalia tersebut semakin melengkapi cerita perjalanan kami.  Di Selpele, pemandu kami turun. Kami pun diperbolekan melihat-lihat kampung selama tiga puluh menit untuk menunggu speedboat isi bensin. Saya berjalan ke dermaga besar untuk menfoto anak-anak memancing. Saat menjemput pemandu tadi siang, saya melihat Kapal KM Kurisi bersandar di dermaga ini. Kapal KM Kurusi bisa menjadi alternatif murah untuk transportasi ke Selpele. Dari desa terdekat dengan Wayag ini, kita bisa mencari penyewaan kapal yang mau mengantar ke Wayag. Sayangnya jadwal KM Kurisi tidak jelas. Jadi tidak disarankan untuk pelancong yang memiliki waktu singkat.

Matahari mulai turun, ABK memanggil kami untuk merapat ke speedboat. Bertolaklah kami kembali ke homestay Mangrove milik Bu Wisye dan suami, Pak Heka Sauyai.  Speedboat berpacu lebih perkasa daripada saat berangkat. Gelombang pun lebih tenang. Semoga kami lekas sampai homestay. Bayang-bayang nasi hangat dan ikan goreng buatan Mama—orangtua dari Bu Wisye—memenuhi  benak sampai saya terjatuh ke alam mimpi sejenak.

Langit tidak terlalu cerah. Namun, kelap-kelip bintang masih terlihat. Saya tengok jam tangan, angkanya sudah di angka tujuh. Perkiraan saya, 30 menit lagi akan sampai. Perut sudah mulai lapar. Berbagai cemilan dikerahkan untuk mengganjal seluruh manusia di Kapal. Saya tengok lagi jam tangan. Kini sudah di angka delapan. Speedboat kami masih di kepung gelap. Belum tampak siluet pulau apalagi titik-titik cahaya pemukiman warga. Yang ada hanya titik-titik  hijau plankton yang menyala di sekitar badan kapal. Kami dimana? [to be countinue…]

Get Lost In Wayag, Raja Ampat #1 [Prolog] 

Get Lost In Wayag, Raja Ampat #3 [Desa itu bernama fam’s]

Get Lost In Wayag, Raja Ampat #1

Raja Ampat, Papua

(CHAPTER 1. PROLOG)

Jesus! Dia pu bahasa so beda,” teriak spontan ABK.

Keterkejutan anak buah kapal (ABK) tersebut lebih seperti sebuah pengesahan di telinga saya.  Ya, kami sah tersesat di laut Raja Ampat, Papua Barat. Saya, Anif, Ine, Lia, Tita, Icha, Wilda, Citra, dan abang saya, Ijang kesasar dalam perjalanan pulang dari Wayag menuju Pulau Mansuar. Beberapa penumpang tampak mulai gusar. Termasuk Bu Wisye, pemilik homestay yang  kebetulan ikut menemani kami hari itu. Saya tengok jam oranye yang selalu menemani saya berkelana beberapa tahun terakhir. Angkanya  hampir menyentuh jam sembilan malam. Padahal, wajarnya sekitar pukul tujuh tadi kami sudah mendarat di kasur empuk dalam homestay Mangrove yang sudah menunggu untuk direbahi.

“Kita tidur di kapal malam ini enggak apa-apa. Besok lanjut lagi kalau sudah terang,” usul Citra, salah satu kawan jalan.

Tak ada yang mengamini usul kawan asal Palu tersebut. Tak ada pula yang membantah. Kami  semua sudah terlampau pasrah. Bermalam di atas kapal dengan pakaian setengah basah adalah opsi terbaik saat itu. Setidaknya daratan berpenghuni sudah terlihat, daripada terombang-ambing di tengah laut antah-berantah. Walau ini artinya kami harus merelakan makan malam yang pasti sudah disiapkan Mama—orang tua bu Wisye—di homestay. Bye bye nasi hangat dan ikan goreng dengan sambal dabu-dabu yang segar dan pedasnya menggigit lidah.

“Mama kasihan sendirian di homestay. Pasti Mama khawatir ini,”  cemas Bu Wisye yang terus memeriksa sinyal telepon genggamnya. [to be countinued…]

 

Get Lost In Wayag, Raja Ampat #2 [Tujuh Jam Sebelum]

Get Lost In Wayag, Raja Ampat #3 [Desa itu bernama fam’s]

Menziarahi Makan USAT Liberty

BALI

-1 Januari 2017-

Tujuan awal kedatangan saya ke Bali awal Januari lalu untuk menyelam di Pulau Menjangan, Bali Barat. Namun, cerita kapal Liberty milik Amerika Serikat yang terkubur di bawah laut Tulamben merubah rute perjalanan. Saya meninggalkan Bali Barat lebih awal dan meluncur ke Bali bagian timur. Inilah nikmatnya solotraveling ketika tujuan bisa diubah‘seenak dengkul’.

Lagi-lagi karena solotraveling, saya mendapat tumpangan cuma-cuma ke Tulamben. Ada satu kursi tersisa di mobil rombongan turis asal China yang sedang mengikuti program sertifikasi volunteer di divecenter Sea Hua Haha. Bersama mereka, saya membelah jalanan Buleleng menuju Tulamben. Laut, pure-pure, dan kebun anggur di pekarangan rumah menjadi pemandangan yang menghibur tiga jam perjalanan. Agus, pemandu grup volunteer, menceritakan tentang kemansyuran anggur Buleleng di kalangan penikmat wine dunia. Dengan label lokal Sababay Winery, minuman fermentasi ini meraih perhargaan berbagai ajang wine internasional. Sayang sekali, cerita semenarik ini hanya saya dengar dari dalam mobil.

Hampir pukul delapan malam, saya tiba di Sea Huahaha Divecenter, Tulamben. Pak Sukerdana—pemilik Sea Hua Haha—mengarahkan para volunteer terkait penyelaman besok. Saya antusias sekaligus gugup membayangkan penyelaman perdana saya di Tulamben. Entah karena saya akan menyelam dalam kelompok besar atau karena bayang-bayang bangkai kapal. Ini akan menjadi penyelaman pertama saya dalam grup besar sekaligus menjadi penyelaman kedua saya di bangkai kapal. Akhir 2015, saya pernah menyelami bangkai kapal Jepang yang karam di Pelabuhan Tua Tahuna, Sangihe, Sulawesi Utara. Kapal jenis kargo tersebut karam pada 1943, setahun setelah USAT Liberty karam di perairan Tulamben. Menyelam di bangkai kapal yang sama-sama dari era Perang Dunia II akan menarik, apalagi keduanya berasal dari negara yang berseteru.

Kapal USAT Liberty karam tepatnya pada Januari 1942.  Kapal kargo Angkatan Darat Amerika Serikat ini melintas di atas perairan Bali Timur dalam perjalanan dari Australia menuju Filipina. Alih-alih sampai tujuan, ia malah tertembak torpedo kapal selam milik Jepang. Kapal pengangkut kebutuhan Perang Dunia II ini  rusak parah. Tentara Sekutu berusaha menyelamatkannya, tapi gagal. USAT Liberty malah terdampar selama dua dasawarsa di tepian pantai Tulamben. Pada 1963, gunung Agung meletus dan melontarkan  material vulkanik hingga ke Kubu, Karangasem. Si kapal tak bertuan ikut terhempas oleh aliran lahar dan tenggelam ke dasar.

BALI

“Tahun 1986-an, (kapal karam) masih kelihatan sebagian di permukaan. Posisi kapal jadi miring karena sudah berkarat dan adanya gempuran ombak,” kenang Pak Suker.

Bangkai kapal Liberty yang separuh rebah ini terkubur sekitar 20 meter dari bibir pantai. Penyelam cukup berjalan kaki untuk melakukan entry. Namun, berjalanan dengan beban tabung dan pemberat di badan bukan perkara gampang. Apalagi, medan yang ditempuh  berupa bebatuan. Saya sering kali hampir terpeleset. Tapi inilah uniknya Pantai Tulamben. Jika umumnya pantai berhampar pasir, Pantai Tulamben didominasi bebatuan. Penamaan Tulamben sendiri berasal dari  “batulambih” yang berarti banyak batu. Hari berikutnya, saya iseng berjemur di atas batu dari letusan gunung Agung ini. Sensasinya serupa hot stone massage.

Setelah berhasil melewati bebatuan, Pak Suker mengarahkan ibu jarinya ke bawah. Isyarat agar kami segera masuk. Penyelaman pun dimulai. Hamparan batu berganti dengan pemandangan pasir, tapi yang dicari belum kelihatan.Visibitili siang itu memang tidak terlalu bagus. Dari tadi yang saya lihat malah penyelam. Saya jadi teringat celoteh seorang teman yang pernah menyelam di sini.

BALI

“Di bawahnya ramai sekali. Tengok kanan-kiri orang semua. Itu lautan manusia namanya,” candanya.

Tulamben memang tersohor sebagai “taman bermain” para penyelam. Bukan hanya penggiat scubadive tapi juga freedive dari mana-mana berziarah ke kuburan kapal USAT Liberty. Selain akses yang mudah, harga paket menyelamnya juga relatif murah. Saking semaraknya, saya sampai tidak sadar bangkai kapal sudah di depan mata. Bongkahan yang saya kira batu karang merupakan bagian tubuh kapal. Posisi kapal yang sudah miring menyulitkan saya menebak puing bagian mana.

Saat berusaha menebak, seekor kerapu besar berenang perlahan di bawah kaki kami. Untuk pertama kalinya saya melihat kerapu sebesar itu. Namun, saya tidak bisa memastikan ukurannya karena semua tampak lebih besar di dalam air. Kerapu tersebut adalah salah satu penghuni bangkai kapal Liberty. Pasca letusan Gunung Agung, pantai Tulamben menjadi hunian subur berbagai biota laut, dari softcoral besar hingga binatang super kecil. Binatang mikro ini yang menjadikan Tulamben sebagai tujuan para pemburu foto macro. Sayangnya, penyelaman kali ini saya hanya berbekal actioncame.

BALI
Ujung terdangkal Liberty di kedalaman 5 meter.

Depthmeter saya sudah menyentuh angka 20. Belum setengah badan kapal yang kami telusuri. Kapal Liberty di Tulamben ini jauh lebih besar daripada kapal kargo Jepang di Sangihe. Panjang kapal Liberty mencapai 120 meter dengan salah satu ujung berada di kedalaman 5 meter dan ujung lainnya terperosok hingga 29 meter. Pak Suker menginstruksikan saya untuk eksplorasi bagian dalam kapal bersama Nengah, buddy (pendamping) selam saya. Pak Suker dan volunteer divecourse kembali ke permukaan.

Saya memeriksa sisa udara di tabung. Ternyata masih di atas 100 bar. Arus yang cenderung tenang di Tulamben membuat tenaga dan napas saya lebih hemat. Saya membuntuti Nengah masuk ke dalam kapal Liberty. Tiang-tiang yang melintang masih tampak kokoh. Namun, penyelam harus waspada mengingat usia Liberty yang sudah renta. Beberapa bagian juga sudah berlubang. Namun, saya tidak dapat memastikan sebab lubang ini karena hantaman torpedo Jepang, gerusan lahar gunung Agung, atau  korosi air laut.

BALI

Dekat salah satu tiang kapal yang sudah terkapar di dasar, saya bertemu sekoloni garden eel. Belut laut ini langsung bersembunyi di pasir saat saya mendekat. Gerakannya yang gesit membuat saya kesulitan menangkap foto mereka. Tidak terasa pengukur udara hampir menyentuh garis merah. Saya harus kembali ke permukaan setelah sekitar satu jam saya berziarah di kuburan kapal USAT Liberty.

Selain kapal karam USAT Liberty, Tulamben memiliki dua titik selam yang juga menarik, yaitu Drop Off  dan Coral Garden. Letak keduanya tidak jauh dari bangkai kapal. Konon di Drop Off, ikan-ikan besar seperti hiu martil kadang muncul. Tapi, saya tidak berjodoh dengan satu pun hiu di titik ini. Saya malah bertemu schoolingfish goldline dalam formasi lingkaran super besar. Hiu jenis blacktip baru saya jumpai justru di Coral Garden.

Tulamben, Bali
Schoolingfish goldline.

Di titik selam yang terbentang di kedalaman 3-28 meter ini pula saya disuguhi atraksi shrimp cleaning membersikan gigi Kadek, buddy selam saya. Saya mencoba atraksi bersih-bersih ini dengan mengulurkan tangan. Dengan sigap udang ini membersih sela-sela kuku saya. Lumayan juga daripada pedicure ke salon. Tapi jelas bukan atraksi bersih-bersih ini yang menggoda saya untuk menyelam di Coral Garden.  Di titik ini terdapat taman stupa, patung budha, dan patung dewa-dewi lainnya. Patung batu ini sengaja ditenggelamkan sebagai media transplantasi coral.

“Kita ada jadwal rutin memeriksa kondisi patung. Patung-patung ada yang jatuh karena gelombang di sini besar,” cerita Kadek.

Coral Garden juga menjadi spot favorit saya untuk snorkeling. Kedalaman tiga meter sudah terhampar anemone beserta penghuninya, si ikan badut “nemo”. Di dekat anemone, beraneka ikan berseliweran mencari makan. Ada oriental sweetlips, triggerfish, sepasang morish idol, dan sekelompok panda butterfly. Saya iseng membututi ikan palette surgeonfish yang berenang sendirian. Begitu sadar diikuti, ikan yang menjadi karakter utama film Finding Dory ini langsung ngacir. Saya langsung teringat adegan saat Dory berkejaran dengan Marlin.

Lokasi snorkeling asik lainnya adalah ujung terdangkal bangkai kapal USAT Liberty. Titik ini juga menjadi incaran para freediver untuk uji kemampuan. Dalam satu tarikan napas, mereka menyusuri bangkai kapal. Saya sempat mencoba, tapi napas saya masih pendek untuk masuk lebih dalam. Butuh belajar teknik khusus untuk sehandal para freediver ini. Di Tulamben sendiri sudah ada sekolah khusus freedive bernama Apnea. Mungkin lain waktu saya ingin juga belajar di sana agar bisa menikmati keindahan laut Indonesia dengan cara berbeda. Selamat berkelana!

 

RANSEL

  • Tulamben bisa dicapai dengan sewa mobil dari Bandara I Gusti Ngurah Rai Rp 500,000/ 8 jam. Alternatif lebih hemat dengan travel Perama Rp 175.000/ orang dari Kuta setiap pukul tujuh pagi. Bandara-Kuta dengan TransBali Sarbagita Rp 3,500.
  • Beberapa penginapan di Tulamben memiliki kamar dormitori AC Rp 100,000/ malam termasuk sarapan.
  • Harga paket selam khusus diver ber-lisence Rp 250,000-400,000. Untuk discovery (tanpa lisence) Rp 350,000-500,000.
  • Tulamben juga terdapat objek wisata Rumah Pohon dimana Gunung Agung terlihat sangat dekat. Buka pukul 07.00-18.00 WITA dengan tiket Rp 20,000.
  • Untuk menemukan camilan lokal bisa pergi ke pasar tradisional di Tulamben yang hanya digelar tiga hari sekali berdasarkan penanggalan Bali.

 

**) Tulisan ini dimuat di rubrik Perjalanan Koran Tempo Akhir Pekan, 4-5 Maret 2017

 

#CelotehTukangJalan : Perjalanan Paling Epic Failed-nya

Biak2015__SUM5

Beberapa tahun lalu. Tepatnya enggak akan gw sebut. Sama seperti tahun sebelumnya. Gw masih merampungkan beberapa bucketlist travelling gw. Walau “keranjang” yang gw maksud ini ga pernah ditulis rapih dalam poin-poin. Semuanya menggantung 7 cm depat di atas kepala gw. Mungkin kalau gw ngaca, itu awan mimpi udah kaya balon gas peresmian gedung baru. Saking banyaknya, kalau awan itu berwujud fisik, gw dah bisa kebawa terbang sampe ke bulan kali ya.

Kalau emang benaran bisa ke bulan, ini bakal jadi travelling paling epic. Haha.. Tapi nyatanya gw masih aja di bumi. Dan sejauh ini, semua list travelling gw di bumi masih apic (baca: epic). Ga semua berjalan sesuai rencana, namanya juga travelling. Ga semua sesuai ekspektasi, dan itu menjadi bagian seru dari tiap perjalanan.  Makanya saat nyonya-nyonya #CelotehTukangJalan memutuskan tema tentang “epic fail trip” untuk sesi ke-3, gw rada mikir juga.

Gw coba searching dalam memori perjalanan gw dengan kata kunci “epic fail travelling” . Hasilnya “the search key was not found in any record”. Seberapa melencengnya sebuah kegiatan melancong gw, akhirnya selalu bikin seneng. Alias, yang ga asik-asik biasanya nguap gitu aja dan yang ngendap yang seru-seru. Dulu seorang senior di kantor yang juga penulis handal pernah nanya. Kurang lebih gini bunyinya:

“Ta,  dari semua perjalanan lu, tempat atau kota mana yang  paling ga banget menurut lu?”  

Gw mikir lama. Dan bingung kasih jawabannya. Bukan lantaran gw malu menjawab si penulis handal ini. Tapi, gw beneran ga tau. Semua perjalanan itu keren dengan ceritanya masing-masing.

“Apa ya, Mas. Bingung gw. Abisnya semuanya kayanya seru,” jawab gw sambil mesem-mesem.

Menurut dia, seharusnya emang begitulah traveller. Ga men-judge sebuah lokasi baik atau buruk. Karena, semua tempat kan punya budaya masing-masing. Ga bisa diukur dengan frame kepala kita yang udah dikotakan sama tempat asal kita. Kemudian, senior saya ini mengkritik penulis buku perjalanan yang baru dia baca, dimana judgment lokasi kerap dilakukan penulis. Okelah bertambah petengetahuan gw tentang etika perjalanan.

Jadi, mungkin edisi 3 #CelotehTukangJalan ini gw ga akan bahas tentang lokasi yang epic failed-nya. Pengalaman terburuk gw terkait travelling justru bukan saat travelling berlangsung. Justru terjadi beberapa hari atau seminggu setelahnya.  Lagi-lagi bukan tentang lokasi, melainkan tentang teman perjalanan. Gw ga akan sebut nama sih dengan alasan etika juga. Okeh mari kita sejenak masuk mesin waktu menuju masa yang gw sebut sebagai “beberapa tahun lalu”.

Masih inget banget beberapa hari setelah kepulangan gw dari menunaikan salah satu list di bucket, gw ketemu dengan seorang kawan yang enggak ikutan jalan-jalan. Blablabla… sampailah pada pertanyaan:

“Gimana perjalanan lu kemarin?”

“Seru! He he he..”

“Oia?”

Gw pun menceritakan singkat keseruannya. Kawan gw ini tau banget gimana kondisi gw beberapa bulan belakangan.  Pada era “beberapa tahun lalu” itu, gw mang lagi diinvasi besar-besaran dari segala penjuru sektor kehidupan. Ibaratnya, gw lagi diuji sama yang punya dunia apakah gw ini manusia apa ikan. Jadi, gw anggap pertanyaan ini semacam atensi kawan gw atas kondisi gw waktu itu. Sampai mulailah pertanyaannya rada menyempit sampai menyebut nama makanan yang gw ga kenal.

Hahaha… untuk teman yang sering jalan sama gw mungkin tau cerita kericuhan macam apa yang ditimbulkan makanan aneh ini. Yang wujudnya aja belum pernah gw lihat. Konon, gara-gara makanan ini gw bikin rusuh perjalanan kita waktu itu. Konon gw merusak acara travelling waktu itu. Konon gw maksain buru-buru bali ke bandara daripada nyobain kuliner khas lokal. Semua ini gw tulis dengan awalan “konon” karena emang ga ada kejadiannya. Sampai gw tanya ke teman perjalanan gw yang lain apakah gw lupa satu momen. Barangkali karena “beberapa tahun lalu” saya sedang depresi dan rada skip.

Teman-teman perjalanan gw yang lain itu pun menggeleng dan semua ga tau makanan apa. So, di sini ternyata ada satu temen jalan yang rada delusional dan ngarang-ngarang cerita ke luar dari kelompok perjalanan kita waktu itu. Yang sempat bikin gw membuncah jelas bukan perkara makanan aneh ini. Cerita makanan ini cuma satu dari sekian banyak cerita membualnya. Motifnya masih ga paham gw sampe sekarang. Mungkin mang hobinya kali karena beberapa temannya oknum ini pernah tertimpa hal serupa. Baiklah…

Awalnya, saya agak sanksi untuk melakukan perjalanan dengan formasi 3 orang. Dari mulai kekhawatiran pembengkakan biaya sharecost hingga terbatasnya pilihan hostel dengan kamar triple. Namun, semua kekawatiran saya terpatahkan saat saya dan dua kawan saya @titatulititano @liyongyong melakukan perjalanan Thai lalu. Formasi trio ini malah banyak sisi menguntungkannya. Misal, kami mendapat kamar triple yang lebih murah dari kamar dua tamu. Dan yang paling menyenangkan adalah memiliki rekan perjalanan yang saling ngisi walau tidak selalu sepaham. Thanks gals untuk trip Thai yang seru ini. Selamat bertemu di belahan bumi lainnya #friendtime #backpacking #SumurdiladangGoToThai #snorkeling #surin #skyporn #wisatathailand #GoproHero4 salam #Sumurdiladang

A post shared by nita kelana (@sumurdiladang) on

Dari kejadian itu, gw akhirnya belajar lebih selektif memilih teman jalan. Khususnya, perjalanan yang masuk kategori  “dream come true”. Karena perjalanan kan bukan cuma bicara tentang tujuan mbak-bro. Sama kaya hidup, perjalanan itu bercerita tentang berencana, proses sampai ketujuan, dan cerita pas kita sudah kembali ke habitat asal. Sekiranya penting memilih teman jalan dengan gaya jalan yang sama. Seandainya emang tipenya beda, setidaknya bisa saling paham dan berjiwa raksasa sama kemauan masing-masing. Misi travelling gw kan mencari kawan, bukan lawan. Apalagi dunia inisempit, jadi biarkan diri kita yang meluas.

Tulisan ini semoga ga gibah. Hahaha.. Nyonya-nyonya  #CelotehTukangJalan lain juga punya cerita yang ga kalah  failed-nya.

Cerita gw mungkin rada beda sama ketiga kawan seceloteh dan sebangsa ini. Tapi ini emang trip yang paling epic failed-nya. Walau terkuak justru setelah kita balik ke habitat asal. Kalau inget-inget gw masih aja bingung. Intinya mah, selektif pilih teman jalan. Alangkah lebih arifnya kalau menyampakain apa yang ada di kepala. Biar semua urusan yang menohok selesai di lokasi trip.

Tulisan ini gw dedikasikan buat kawan-kawan perjalanan gw yang pada yahud. Thanks ya masih pada jadi patner perjalanan yang asik. Dan buat teman-teman asik yang gw kenal saat solotravelling. Semoga kebaikan kalian bisa gw tularkan kepada orang lain yang gw temui saat travelling. Mengutip statement seorang pengajar kelas menulis:

“Karma itu ada. Tapi Darma harus segera dibayar.”

#CelotehTukangJalan: Ke(m)Bali lagi?

 

bali-2007__sum6
Cave underwater spot di Pulau Menjangan, Bali Barat.

 

*) Perjalanan pada 1 Januari 2017

Lekuk bagian mana lagi yang belum dipertonton dari Pulau Bali. Ibaratnya tahi lalat di balik kutang pun sudah ditonton para pelancong. Entah melihat langsung atau tersiar di media sosial. Tapi, secomot kata “Bali” selalu terdengar eksotis sekaligus magis. Sepanjang tahun, para pelancong berdatangan dari mana-mana. Bahkan, datang untuk puluhan kali. Saya pun sudah beberapa kali ke Bali, walau masih hitungan jari. Namun, sebuah janji memanggil saya untuk terbang lagi ke pulau yang berjarak 1,200 km dari Jakarta. Janji sederhana kepada diri sendiri untuk berkelana ke Pulau Menjangan. Pulau kecil di ujung atas Taman Nasional Bali Barat ini pun menjadi perjalanan pembuka di 2017.

Setelah melewati malam pergantian tahun di udara, saya tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, sekitar pukul 01.30 Waktu Indonesia Tengah. Bandara Bali di tahun baru ternyata sepi. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya putuskan menunggu pagi untuk pergi ke terminal Ubung, dimana bus-bus dengan tujuan Gilimanuk standby 24 jam. Apalagi, sejumlah pejalan menceritakan nasib apes di terminal tersebut. Dari mulai tipu-tipu calo hingga aksi pemukulan. Ya sudahlah, lebih baik pejalan ala solotraveller macam saya mencari spot merebahkan badan.

Sebuah kursi besi panjang di dekat pintu keluar terminal kedatangan domestik menjadi pilihan paling asoy. Beberapa turis sudah lebih dulu terbujur nyenyak di kursi lain hingga hujan tiba-tiba mengguyur Bali. Dua turis terbangun lantaran tampias air hujan. Di sisi lain, udara Bali jadi lebih segar. Tapi sial, mata saya enggan terpejam. Padahal besok pagi bakal melakukan perjalanan panjang. Katanya, Ubung-Gilimanuk biasa ditempuh sekitar empat jam. Bye, bye…  kursi panjang. Saya menyandang kembali gembolan ke balik punggung dan menyusuri koridor kedatangan. Saya berharap keajaiban bisa menemukan angkutan murah menuju Ubung.

Ternyata mata ini masih manusiawi. Dua pasang sandal di luar musholah bandara lebih menggoda daripada papan daftar harga shuttle bus ke mana saja. Bukan sendalnya yang menarik minat saya masuk ke Musholah, melainkan peluang tidur nyenyak. Di dalam Musholah khusus wanita ini, dua orang sudah terlelap di pojok-pojok ruang. Saya memilih posisi di syaf belakang dekat pintu sehingga tidak akan mengganggu yang ingin salat Shubuh. Halo teman senasib se-musholah, saya ikut  bobo  ya…

Empat jam sudah saya terpejam tapi mata masih berat untuk membuka. Saya lirik jam tangan yang menunjukan hampir pukul enam. Berarti di Bali sudah pukul tujuh. Sementara saya masih mengumpulkan kesadaran, salah satu teman sekarpet saya sudah on ber-calling-calling dengan telepon genggam. Logat Jawanya cukup kental. Dari hasil curi dengar, baru saya ketahui ia adalah tenaga kerja wanita (TKW) yang akan pulang ke daerah asalnya. Kalau dia ke Gilimanuk sepertinya kita bisa jadi teman perjalanan selama empat jam. Tapi dari koper dan bawannya, saya duga dia sedang menungu perbangan yang rada siang.

Datang tak diundang, pergi pun saya tidak pamitan. Setelah cuci muka dan semprot wewangian, saya menyambut matahari pertama di 2017.

“Selamat Pagi 2017!”

 

BALI
Bali dari atas udara.

 

 

Sabar-sabar menunggu Sarbagita

 Bekas hujan semalam masih tampak di aspal bandara. Dengan kantuk yang masih berayun di pelupuk mata, saya mencari mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di terminal keberangkatan dan kedatangan dosmetik untuk top up saldo GoJek. Saya menyerahkan nasib saya kepada ojek berbasis internet tersebut.  Dari info seorang teman (Sahat), Gojek sudah bisa di Bali walau hanya bisa menjemput di luar kawasan Bandara. Dua lokasi ATM Bank Mandiri di bandara internasional ini tidak menyediakan menu ecommerce. Gagal lah saya menghemat sedikit biaya perjalanan. Tanpa promo GoPay, GoJek masih menjadi alternatif termurah untuk menjangkau Terminal Ubung.

“Bu, ojek? Mau kemana?” seorang bapak tiba-tiba menawarkan jasa di lorong Bandara. 

“Ke terminal Ubung berapa, pak?” saya balik bertanya.

“Seratus ribu ya? Kan kalo naik taksi bisa dua ratus,” jawab si bapak.

Setelah minta maaf, saya kembali berjalan ke arah gerbang. Saya berencana memesan Gojek saat sudah benar-benar di luar bandara. Entah ilham darimana, kepala saya menoleh  ke sebuah tangga kayu di sudut lorong. Tangga kayu dengann list biru ini  menjadi jawaban angkutan murah meriah yang pas di kantong solo traveller. Aha! Halte Sarbagita sudah ada di dalam Bandara, tepatnya di dekat terminal kedatangan domestik.

Dari papan biru yang bergantung di langit koridor, tidak ada jurusan ke Terminal Ubung. Tapi Terminal Mengwi tercatat di salah satu tujuan. Sepengetahuan saya Taman Nasional Bali Barat bisa ditempuh melalui terminal yang terletak di Badung tersebut. Dari Mengwi, saya akan lanjut dengan bus tujuan Gilimanuk dan turun dipertigaan sebelum pelabuhan. Dari situ, saya bisa naik bus atau kendaraan umum lain ke dermaga Lalang maupun Banyuwedang. Saya menunggu di dekat tangga dengan rasa legah. Beberapa orang ikut menunggu tapi tak lama pergi. Ternyata mereka hanya numpang duduk atau ingin ke toilet yang berada di dekat halte ala kadarnya ini. Saya seorang diri yang menjadi calon penumpang Sarbagita di Bandara.

 

bali-2007__sum3
Halte Trans Sarbagita di terminal kedatangan domestik, Bandara I Gusti Ngurah Rai

 

Tiga puluh menit berlalu. Saya masih menunggu. Nikmatnya jalan sendirian, saya tidak terikat jadwal. Perjalanan kali ini saya punya banyak waktu untuk dihambur-hampurkan. Satu jam kemudian, saya masih sabar menunggu. Saya mulai mencari informasi tambahan di mesin pencarian. Beberapa artikel menulis bahwa Sarbagita beroperasi dari pukul 05.00 hingga 21.00 WITA dengan rentang keberangkatan satu jam. Belum banyak wisatawan macam saya mengetahui keberadaan Sarbagita di Bandara. Sebagian besar memilih menggunakan travel. Untuk rombongan saya jelas menyarankan mobil travel. Tapi untuk yang ingin sedikit bertualang dan punya banyak waktu luang, boleh mencoba Trans Sarbagita.

Satu setengah jam berlalu, bus berwarna biru melintas di depan halte. Saya sontak berdiri, tapi tidak lama kembali duduk di atas trolly. Ternyata, itu Sarbagita tujuan Nusadua-Batubulan. Jurusan tersebut mengingatkan saya pada pengalaman pertama menjajal angkutan masal Bali ini, 2013 lalu. Saat itu, saya berencana ke Ubud tapi iseng menclok ke Nusadua lebih dulu. Dari halte Jimbaran saya ke Nusadua. Sekitar tiga jam saya menyusuri sudut-sudut Nusadua sebelum kembali ke pool untuk melanjutkan perjalanan ke terminal Batu Bulan. Dari terminal di Kabupaten Gianyar tersebut,  saya naik angkutan umum sejenis colt ke kawasan Mongkey Forest, Ubud. Tahun itu, ongkos colt sekitar Rp 30,000 untuk wisatawan lokal. Tiket Sarbagita masih Rp 3,500. Ternyata di 2017 ini, harga Sarbagita masih sama.

Dua jam berlalu yang ditunggu belum datang juga. Saya mulai gelisah dan bertanya kepada petugas kebersihan. Menurutnya, setiap 15 sampe 30 menit Sarbagita singgah di halte ini. Dia menyarakan saya untuk langsung ke pool Sarbagita di parkiran terminal kedatangan internasional. Jaraknya sekitar 100 meter dari sini. Belum sampai lima menit berjalan, jajaran bus besar berwarna biru sudah tampak berjajar rapih. Seperti kue lapis yang baru dipotong-potong. Tapi saya belum lihat kue lapis berwarna biru. Mungkin saya hanya lapar.

“Bus ke Mengwi yang nomor (body) 5685 jalan duluan. Tapi tunggu dulu saja di situ. Nanti kalau mau jalan baru dipanggil. Mungkin sekitar 30 menit lagi,” tukas salah satu petugas Sarbagita.

Tiga puluh menit rasanya tak terlalu lama. Saya pun duduk di kursi tunggu bersama dua calon penumpang lain. Untuk mengisi waktu, saya menyapa penumpang di sebelah saya. Perempuan asli Malang, Jawa Timur ini sudah menunggu di pool Sarbagita bandara dari pukul enam. Saya bingung kenapa bus Sarbagita belum jalan padahal beberapa armada sudah standby. Para supirnya juga sudah berkumpul. Perempuan yang saya tidak tahu  namanya ini pun undur diri. Dia menyerah dan seorang kawannya menjemput di luar bandara.

 

bali-2007__sum7
Penampakan si biru yang sudah lama di nanti, Sarbagita. 

 

Dulu kalau saya ke Bali, sepupu yang bekerja di Bali selalu menjemput di Bandara. Saya juga biasanya menumpang semalam di rumahnya sebelum memulai perjalanan. Aktivitas menumpang ini semacam rutinitas bagi saudara Jakarta yang berkunjung ke Bali. Beberapa bulan lalu, yang bersangkutan pindah tugas ke Jakarta. Jadilah saya ngembolang dengan Sarbagita.

Kondektur bus memanggil karena Sarbagita jurusan Mengwi akan segera berangkat. Bus yang saya naiki berbeda dengan yang ditunjuk tadi. Nomor berapa tidak lagi penting. Yang utama adalah saya bisa sampai Terminal Mengwi. Terima kasih Tuhan.

Bus yang saya tumpangi ini terbilang sepi. Begitu pula dengan jalanan Denpasar menjelang siang. Mungkin Bali masih beristirahat usai gempita pesta tahun baru semalam. Bus Sarbagita berhenti di beberapa halte yang lebarnya sekitar 2 meter dengan panjang 3-4 meter. Di salah satu halte, sekitar empat penumpang naik melalui pintu depan. Salah satunya masuk dengan celotehan kesal.

“Kok lama banget, sudah dua jam saya nunggu. Ibu ini malah sudah dari jam 7. Gila ini. Saya baru kali ini tunggu lama kaya gini,” kurang lebih seperti itu isi ungkapan kesal salah satu penumpang.

Ibu yang ditunjuk hanya mengangguk kecil, tanda setuju tapi tak sekesal bapak-bapak yang menunjuknya. Kondektur hanya tersenyum bingung menanggapi kekesalan penumpang. Ia menjelaskan bahwa khusus tahun baru, Sarbagita beroperasi lebih siang dari biasanya sesuai kebijakan Pemda. Terjawab sudah kenapa berjam-jam perjuangan saya untuk bisa menikmati transportasi murah lintas kabupaten ini. Tak lama si penumpang meminta maaf kepada kondektur.

Saya berkenalan dengan penumpang kesal tadi yang kebetulan duduk di sebelah saya. Kami pun mengobrol seputar tujuan kami masing-masing. Si bapak yang saya lupa namanya ini ternyata berencana nyeberang ke pulau Jawa melalui pelabuhan Gilimanuk. Beliau menyarankan saya untuk turun bareng di pool terakhir Sarbagita di Terminal Persiapan di Kabupaten Tabanan. Menurutnya, bus  tujuan Gilimanuk juga banyak di terminal yang berjarak 30 menit dari Mengwi ini. Saya setuju oleh ajakannya.

Tidur di musholah bandara ternyata tidak cukup membalaskan dendam tidur saya. Rasa kantuk kembali hinggap. Maka saya pergi ke dunia mimpi meninggalkan bapak tadi yang asik mengobrol dengan penumpang lain di depannya. Masih sekitar satu jam lagi dari total 2 jam perkiraan sampai Tabanan. Selamat tidur tuan dan puan.

 

BALI
Pagi terakhir di Pantai Tulamben, Karangasem, Bali Timur.

 

Selamat bertemu lagi di cerita lanjutan solo travelling saya  edisi  ke Bali Barat hingga akhirnya malah  menclok ke Bali Timur. Tiga kawan ngeblog #CelotohTukangJalan juga punya cerita perjalanan asik di pembuka 2017.  Formasinya masih sama:

Mari membaca dan jangan lupa berkelana. Salam Sumurdiladang…

NONA BELANDA DI KOTA TUA

KOTA TUA

Pelataran Museum Fatahillah masih lengang pengunjung. Mungkin mendung yang bergelantung sejak pagi di langit Jakarta menciutkan niat sejumlah pelancong. Tapi tidak dengan dua gadis di salah satu sudut alun-alun Kota Tua, Jakarta. Keduanya kusyuk menggaris warna di sekitar mata, memoles bedak, dan memasang bulu mata cetar membahana ala Princess Syahrini. Tidak lupa wig panjang  dan gaun megar melengkapi penampilan mereka. Devi (22) dan Yuli (18) bertransformasi menjadi “nona belanda”.

Dalam balutan gaun biru muda dan merah menyala, dua sahabat asal Brebes ini menarik perhatian pengunjung Kota Tua. Pengunjung yang sebagian besar kaum hawa berfoto dengan nona belanda. Tidak ada tarif khusus yang ditetapkan. Pengunjung sukarela memasukan rupiah ke dalam keranjang dari bak sampah.

Bagi Yuli, profesi nona belanda lebih asik dibanding menjadi buruh pengemasan sarden yang pernah dilakoninya. Lingkungan kerja santai dan penghasilan lebih besar. Namun profesi yang baru dijalani Yuli tiga bulan ini bukan tanpa resiko. Yuli pernah mendapat perlakuan tidak sopan dari pengunjung. Untung saja, perlakukan tersebut masih bisa ditolerir.

“Jangan macam-macam dengan anak sini. Kemarin ada yang berani nyopet aja digebukin abis,” ucap Devi yang sudah setahun menjadi nona belanda di Kota Tua.

Keranjang uang masing-masing nona belanda ini semakin meninggi. Saat pengunjung Kota Tua ramai, mereka bisa membawa pulang uang hingga Rp 500,000. Jika sepi, Rp 100,000 saja sudah lumayan untuk memenuhi kebutuhan satu hari. Sekitar 40 persen penghasilannya akan dibagi  kepada penyewa gaun.

KOTA TUA

Untuk menggelar lapak foto, Devi tidak dipungut biaya. Kompensasinya, Devi bersama nona belanda lain, manusia patung, tokoh pahlawan, putri duyung, pangeran, dan karakter costplay lain wajib mengikuti kerja bakti bersih-bersih kawasan Kota Tua. Kerja bakti ini dilakukan saban Sabtu dan Minggu pada pukul 1 dan Jumat setiap dua pekan sekali.

 

Matahari semakin tegak di atas kepala. Namun awan tebal masih setia di atas sana. Devi dan Yuli berdoa semoga hujan tidak turun seperti kemarin. Jika hujan, mereka hanya bisa ngacir melindungi gaun dan riasan mereka.

“Semoga enggak hujan,” harap-harap cemas sang nona belanda sambil mendongak ke langit Kota Tua.

KOTA TUA

 

*Perjalanan 15 Januari 2017. Tulisan ini diedit dari tugas saya saat mengikuti kelas “Basic Travel Photography & Writing Workshop”    bersama Citilink

For The King

Pada 31 Oktober 2016

This slideshow requires JavaScript.

Antrean mengular  tidak juga surut di lapangan dekat Grand Palace, Bangkok, Thailand. Padahal sudah hampir seharian warga Thailand mengantre demi mendoakan Raja Bhumipol yang meninggal 13 Oktober lalu. Dengan busana formal serba hitam, mereka rela berdiri di bawah terik matahari.  Siapa saja bisa ikut melayat  ke dalam istana Raja tersebut. Asalkan mereka mengenakan sepatu, kemeja, celana bahan bagi pria, dan rok bagi wanita.

Hari itu, saya sudah bersiap dengan baju hitam dan kain warna gelap untuk dijadikan bawahan. Sayangnya, kain biru tua yang saya pakai dianggap tak memenuhi syarat. Bersama para pelayat yang  senasib, saya mencari posko peminjaman pakaian. Setelah bolak-balik dan bertanya sana-sini, saya akhirnya menemukan posko yang dimaksud. Atasan dan bawahan yang disumbangkan warga digantung rapih  dengan hanger, sedangkan  sepatu dibiarkan menumpuk di samping posko.

Saya kembali menelan kecewa karena muka lokal saja tidak cukup ampuh. Pelayat harus meninggalkan kartu identitas penduduk Thailand untuk mendapatkan pinjaman cuma-cuma tersebut. Dengan berat hati, saya tereliminasi dari barisan pelayat setelah mengantre sekitar empat jam. Dua kawan perjalanan saya pun turut keluar barisan. Kami memutuskan untuk berkeliling di area pelayatan dimana ratusan posko berdiri.  Dari mulai posko kesehatan, makanan, minuman, buah, pijat, salon hingga posko foto dengan potret raja.

Saya sangat tertarik berfoto sambil memegang potret Raja Bhumipol. Tapi niat itu saya urungkan karena tidak ingin menambah panjang antrean warga Thailand yang sedang khusyuk mengenang rajanya.  Mereka cukup antusias dengan posko foto ini.  Sebelum berfoto, beberapa pelayat  memoles bedak bayi yang disiapkan pemilik posko. Alhasil, minyak di wajah berkurang saat berhadapan dengan kilat lampu studio.

Warga, pelajar, pramuka, militer, pemerintah hingga perwakilan negeri tetangga mendirikan posko ini untuk memberikan support kepada pelayat. Tentu semuanya tanpa pengutan biaya. Banyaknya pelayat anak-anak dan lanjut usia mengharuskan sukarelawan disiagakan. Mereka berseliweran memastikan terpenuhi kebutuhan pelayat yang mengantre. Selama seharian berada di sana, saya sudah mendapat bubur kacang, sup bakso ikan, nasi goreng, ice cream, sari buah dingin, softdrink, macam-macam minyak angin, balsam, handuk basah, berbotol-botol air mineral dan komik yang berkisah hidup Raja Bhumipol.

Tangis histeris sudah tidak terdengar pada hari ke-delapan belas kepergian raja. Namun, duka masih kasat di wajah mereka.  Sampai saat ini, saya masih kagum dengan loyalitas rakyat Thailand mengantar hari-hari terakhir raja sebelum dikremasi.

“Saya berikan bunga ini gratis. Doakan untuk raja kami,” pesan salah seorang ibu. Kapunkha. 

 

Baca juga perjalanan saya Thailand lainnya  ROTI SAI MAI, ARUM MANIS ALA THAILAND

ROTI SAI MAI, ARUM MANIS ALA THAILAND

Perjalanan 1 November 2016

Penjaja makanan berlalu-lalang di lorong gerbong kereta ekonomi yang akan mengantar saya menuju Phra Nakhon Si Ayutthaya di utara kota Bangkok, Thailand. Dari mulai penjaja makanan berat, pencuci mulut, hingga sekedar camilan. Rasanya terselip rindu akan suasana kereta ekonomi Jakarta-Bogor dulu, dimana penjual bebas berseliweran di dalam kereta. Untuk menikmati rasa rindu itu, saya membeli beberapa kudapan dari penjual yang lewat. Walau sudah membeli beberapa kudapan, saya masih tergoda oleh jajanan yang dilahap bocah kecil di depan saya.

“Roti sai mai,” ucap ibu dari si bocah kecil.

Tutorial cara hap roti sai mai

Sekilas roti sai mai menyerupai arum manis di Indonesia. Namun, arum manis ala Thailand ini digulung di dalam selempar dadar hijau. Jika Indonesia memiliki arum manis dengan tekstur crunchy, roti sai mai bertekstur lebih lembut dan tidak kaku. Kudapan khas  Ayutthaya ini belum setenar kuliner Thailand lainnya. Jadi jika kompleks candi Ayutthaya ada di list perjalanan anda, masukan roti sai mai menjadi kuliner lokal yang harus dicoba.

Saat penjual roti sai mai kembali berseliweran, saya pun segera memberikan 40 Baht untuk satu plastik roti Ayutthaya ini. Rasa manis roti sai mai yang lumer dimulut membuat perjalanan panjang menuju stasiun Ayutthaya ini semakin manis. Aroy (enak)…

Makan Itu Cinta

“Lu nyari apa sih kok jalan mulu?”

“Masa ga ada yang yangkut?”

“Kok jalan sendirian aja?”

Bombardir pertanyaan macam ini sering banget gw dapetin tiap mau travelling atau abis pulang travelling. Dari mulai gw jawab asal sampe cuma gw jawab ngakak garing. Biasanya, pertanyaan gemesin  ini bakal keluar setelah pertanyaan oleh-olehnya mana. Karena gw sering ditanya beginian, akhirnya mulailah ini pertanyaan menelusup masuk di gang otak gw yang sempit. Dengan kata lain, gw mulai kepikiran. Dan mungkin emang sudah saatnya gw mikirin.

Etapi bukan mikirin pertanyaan jodoh apalagi pertanyaan oleh-oleh. Tapi gw lagi mikirin jawaban yang pas, yang menukik, dan yang  membungkam si keponers. Berhari-hari gw mikirin sampe gw-nya yang malah hanyut ke masa-masa lalu dan tempat-tempat nun jauh. Tanpa gw sadarin, gw malah tersadar sama banyak hal. Terrrrrr….nyata, gw sebenernya pas travelling udah sering ketemu cinta. Pertemuan yang ga pernah direncanain dan ga pernah gw sadarin sampe pertanyaan usil ini menyentil. Cinta ya… Namanya cinta, selalu ada yang pertama.

 

#1

Pertengahan Juni 2013, matahari Pulau Sangalaki lagi sadis-sadisnya kaya Afgan. Mata rasanya pedih kalau lama-lama liatin  garis khayal Kepulauan Derawan, Berau, Kalimantan ini. Gw jadi lebih sering buang mata  ke bawah, dimana pasir putih putih melati ali baba berarakan bebas. Pasirnya alus. Tapi makin dekat ke bibir pantai, pasirnya mulai nyampur sama pecahan karang.

Di antara karang yang pabalatak ini, gw ketemu cinta. Ini dia si cinta pertama. Bentuk cinta yang gw temukan jauh sebelum cinta kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Bentuknya solid tapi ga sempurna. Bocel-bocel dikit. Pas diangkat enteng bener. Tapi tetep sakit kalau diadu ke kepala yang keras pula. Cinta Sekeras Batu.

cinta-series__1-derawan1

 

 

#2

Hari segera menutup terangnya saat gw yang lagi ikut rombongan Pelni tiba di pantai Nirwana, Baubau, Sulawesi Tenggara pada 10 September 2014. Jadi ga banyak yang bisa dilakuin di penghujung hari itu. Kebanyakan pada duduk cantik di bale sambil basahin kerongkongan. Gw sendiri milih basahin kaki di tepi pantai. Dari pas sampe Baubau, gw belum “salaman” sama lautnya Baubau. Enggak jauh dari ritual sakral gw sama laut Baubau, se-gengan bocil lagi seru-serungnya main kejar-kejaran  sambil  ciprat-cipratan. Anak-anak dan laut jadi makanan pokok lensa gw tiap travelling ke laut. Seperkian detik, cinta kedua mencuat indah di antara siluet bocil dan langit yang menyenja. Cinta Seindah Senja.

 cinta-series__2-baubau

#3

Kemping di gunung, sudah sering banget dari SMP. Kemping di bumi perkemahan, lebih sering lagi pas Pramuka SD. Kemping di pantai, nah… ini baru gw lakuin akhir 2014 karena bisa nikmatin laut dengan cara beda. Salah satu pulau yang asik buat gelar tenda adalah Pulau Melinjo kepulauan Seribu, Jakarta. Bukan Cuma bersih, spot snorkelingnya juga masih asri.  Tanpa bak bik buk, gw langsung meluncur air. Brrrrrr…. Karena masih pagi, lautnya masih dingin.  Jadi beberapa kawan memilih ngeringin badan di atas anjungan kapal. Di balik anjungan, segumpal hati  bertengger di langit biru muda. Cinta setinggi langit.

 DCIM101GOPROGOPR8884.

#4

Belasan file itinerary perjalanan udah gw rangkum dari hasil ngayal santai-santai di pantai.  Aktivitas nyenengin buat gw, tapi ternyata ga berlaku buat sebagian traveler. Sampai tiba pada masanya gw jadi seperi kelompok yang sebagian itu. Pertanyaan tentang itenarary dan budget jadi bikin jengah. Jadi ajah September 2015, gw diem-diem solotravelling ke Gorontalo. Ga pake ada yang nanyain itin dan ga booking tiket balik. Bekal gw waktu tu cuma rasa penasaran sama  Olele, taman laut di Gorontalo bagian Selatan. Panjang cerita sampe gw akhirya tiba di Olele. Awalnya tempat yang gw kira taman laut ini ternyata lebih dari itu. Olele itu surga yang ngumpet di bawah desa nelayan yang biasa abis. Makin dalem gw nyelam, makin dalem pula gw jatuh cintrong.  Cinta Sedalam Samudera.

DCIM103GOPROG4224043.

 

#5

Selain kagum, cape yang tersisa dari penyelaman gw di gunung bawah laut Banuawuhu dekat pulau Mangahetang, Kepulauan Sangihe. Kalo lagi cape-capenya kaya gini, justru badan gw nolak buat diem. Pas yang lain ikut ngobrol sama tetua-tetua desa Pulau Para, gw nurutin mau badan buat nyusurin pemukiman. Lumayan cari gambar sambil tunggu kapal ferry pulang ke Tahuna. Lagi-lagi anak dan laut jadi komposisi favorit buat gw. Anak laki dan perempuan loncat bergantian dari atas dermaga yang mayan tinggi. Mereka semua lebur di bawah laut. Walau kadang keliatan takut,  bocal-bocil Para tetap lompat bebas tanpa beban. Cinta Sebebas Bebasnya.

cinta-series__5-sangihe

#6

Kali kedua, gw ke pesisir  Biluhu Timur di desa Batudaa Pantai, Gorontalo. 2015, Biluhu Timur jadi pantai pembuka solotravelling gw.  Pas 5 Mei 2016, desa tempat vila le Lubis bercokol ini menjadi penutup petulangan  gw ke Gorontalo. Nyusurin bangunan vila, dapur  bu Nano, Amin dan pantai Biluhu Timur kaya perjalanan nostalgila yang terlalu dini.  Karena belum juga 6 bulan, gw udah balik lagi ke sini. Tapi ada yang gw lewatin dari kunjungan pertama gw dulu:  tirai-tirai karang di teras vila. Ada simbolisasi hati yang menggantung. Walau sekeras batu karang di Sangalaki, batu karang  Biluhu punya rongga-rongga yang lebih kentara.  Cinta Sekeras Batu Part.2

cinta-series__6-biluhu

 

-Bersambung-

 

FULLMOON DI FULL MOON BUNGALOW

Nita Dian Afianti
nitadianafianti@gmail.com
instagram @sumurdiladang

 

*Perjalanan pada Mei 2016

Malam sudah terlalu malam saat saya dan adik saya belum memutuskan penginapan mana yang akan dipilih untuk melepas lelah hari pertama di Nusa Penida, Bali.  Pemilik rumah makan Bian—tempat  kami makan malam—menyarankan untuk menginap di Krisna. Menurutnya, penginapan Krisna cocok untuk lowbudget traveler. Setelah makanan turun dengan baik di lambung, saya pun segera meluncur ke Krisna yang berjarak sekitar 10 menit dari Bian.

Malam di Nusa Penida lebih gelap karena minimnya penerangan jalan. Untungnya, bulan sedang bulat-bulatnya menggantung di atas kepala saya. Cahayanya yang temaram lumayan menerangi jalanan malam itu. Apesnya, hotel Krisna tidak juga tampak padahal sepeda motor saya sudah hampir melewati pelabuhan Nyuh.

“Yah…,” harapan segera merebahkan badan pun pupus.

Sebenarnya, ada banyak homestay, resort, atau hotel di Nusa Penida dengan harga dan fasilitas yang bervariasi. Seorang  teman pernah memberikan informasi bahwa di sekitar Toyapakeh ada  banyak penginapaan lowbudget. Namun menjadi sulit ditemukan karena gelap malam. Jadi saya menyarakan untuk mencari penginapan saat masih ada matahari.

Adik saya pun mengarahkan sepeda motornya ke jalan Ped. Beberapa pemuda yang asik nongkrong pun menjadi sasaran untuk bertanya mengenai penginapan terdekat. Dua di antaranya mengantarkan sampai pertigaan agar kami tidak salah belok untuk sampai ke jalan Ped. Jalan Ped terasa panjang karena gelapnya malam. Hingga mata saya menangkap bias lampu hias kebiruan di sisi kanan jalan.  Saat dekat,  tulisan FULL MOON BUNGALOW melingkar di atas kayu bulat.

Nita Dian Afiantinitadianafianti@gmail.com
instagram @sumurdiladang
Full Moon Bungalow di jalan Ped

“Aha!” harapan dan pengharapan muncul bersamaan.

Full Moon Bungalow salah satu penginapan yang menjadi incaran saya. Sayangnya saat berusaha melakukan booking di booking.com, kamar Full Moon sudah full booked. Rada bertaruh juga untuk  berhenti dan menanyakan kesediaan kamar kosong malam itu. Resepsionis menyampaikan kabar terbaik dan paling ditunggu oleh saya dan adik: tersedia satu bungalow single room untuk tidur nyaman malam ini. Temaram fullmoon malam ini yang membawa saya ke Full Moon Bungalow, Nusa Penida.

Full Moon Bungalow memiliki 3 jenis kamar: deluxe bungalow (Rp 300,000/room), double room (Rp 200,000/room), dan dorminitory (Rp 100,000/orang).  Deluxe bungalow dan double room memiliki fasilitas yang hampir sama. Bedanya, Deluxe memiliki kamar lebih luas, kamar mandi lebih cantik, dan fasilitas AC. Double room dilengkapi dengan kipas angin. Kamar tipe Dorminitory memiliki 5 kasur dan kamar mandi sharing.

Senang sekali saya bisa menemukan penginapan yang  diinginkan dan sesuai budget perjalanan Rp 200,000/ kamar/ malam. Harga ini terhitung murah untuk kenyamanan yang kami dapat. Sebenarnya kamar kami terdapat AC dan kipas sekaligus. Jika saya ingin mengaktifkan AC akan dikenakan biaya tambahan Rp 50,000. Saya rasa hembusan kipas sudah cukup karena suhu di Nusa Penida saat malam hari cukup sejuk.

Kamar bilik bambu berukuran sekitar 3×3 meter yang saya tempati  bersih dan terawat. Di langit-langitnya dipasang kelambu untuk menghalau serangga. Walau pada kenyataannya, kami tidak diganggu nyamuk atau serangga selama dua malam menginap.  Kamar mandinya juga cukup bersih dan legah. Fasilitas yang tersedia adalah wc duduk, pancuran, sabun cair dan handuk. Untuk shampo dan sikat gigi, penginapan ini sepertinya tidak menyediakan.

Full Moon Bungalow juga tidak menyediakan sarapan seperti penginapan umumnya. Namun tak perlu kawatir karena di samping resepsionis ada restoran mungil bernama Gallery. Restoran yang buka dari jam 7 pagi-11 malam ini menyediakan makanan western. Sangat mengeyangkan untuk sarapan ala perut Indonesia. Bagi yang lebih suka sarapan dengan nasi, di seberang Full Moon ada warung sederhana yang menyediakan menu nasi dan mi.

 

“Ada Indomie bu?” Tanya adik saya yang lagi mindo Indomie dari siang.

Pemilik The Gallery menjelaskan bahwa rumah makannya tidak menyediakan menu lokal termasuk mie instan. Sepertinya ini dilakukan agar tidak menyaingi warung-warung lokal di sekitar Full Moon Bungalow. Menu favorit saya di Gallery adalah es teh rosella yang pucuk bunganya dipetik langsung dari kebun kecil di belakang  Gallery.

 

 

PAK WAYAN

Bulan purnama kembali ke peraduannya berganti bulatan matahari pagi . Tenang sekali rasanya menikmati cahaya pagi yang menelusup dari rindang pepohonan. Seandainya ada segelas teh jahe hangat.

“Selamat pagi,” sapa seorang staff.

Lamunan segelas teh jahe pun buyar. Saya segera membalas sapaan laki-laki yang awalnya saya duga adalah staff . Dalam diam, ia menyirami tanaman hias di sekitar bungalow. Saya pun memecah diamnya dengan melemparkan sejumlah pertanyaan seputar rencana saya menyeberang ke Nusa Lembongan.  Dari obrolan kami, saya merubah haluan perjalanan ke Pantai Atuh dan kolam alami Tembeling. Namanya Pak Wayan. Baru kemudian, saya ketahui ia adalah pemilik Full Moon Bungalow.

Pak Wayan sangat ramah dan informatif. Ia menceritakan ihwal berdirinya bungalow yang belum berumur satu tahun ini. Beliau juga menuturkan segala potensi Nusa Penida yang tidak kalah indahnya dari daerah Bali lainnya. Saya belum banyak eksplore pulau Dewata, tapi saya setuju bahwa Nusa Penida mematahkan paradigma Bali liburan mainstream.

Bagi pelancong yang ingin eksplore Nusa Penida dengan jasa tur, Full Moon Bungalow memiliki mitra paket tour overland, snorkeling, atau diving. Sedangkan untuk yang lebih nyaman jalan tanpa tur, Full Moon Bungalow menyediakan sewa mobil, sepeda gowes, dan sepeda motor. Untuk sewa sepeda motor, harganya berkisar Rp 60,000/ hari. Harga ini lebih murah dari sepeda motor yang saya sewa saat tiba di dermaga Nyuh. Selain itu, Full Moon juga menyediakan free antar-jemput di sejumlah dermaga.

Ramah, asri, fasilitas yang memadai, dan harga yang relatif murah ini mungkin yang menyebabkan Full Moon Bungalow hampir selalu full. Untuk itu, saya sarankan pesan kamar jauh-jauh hari melalui situs pencarian hotel. Sementara ini, staff mengatakan Full Moon Bungalow baru terdaftar di bookig.com. Atau, kamu bisa hubungi langsung Full Moon Bungalow: 0852 0587 1291 (Pak Wayan) atau 0853 3854 4575 (Tony).

Selamat bertualang dan jejalah Indonesia Indah lainnya!

Salam @sumurdiladang

“Kalau ada umur yang panjang boleh kita menumpang mandi. Kalau ada #sumurdiladang boleh kita berjumpa lagi”

SURGA TERSEMBUNYI DI BARAT DAYA NUSA PENIDA

nusapenida-nitadian__1

Perjalanan dilakukan pada Mei 2016

Napas sudah setengah terengah-engah, tapi yang dicari belum juga tampak. Saya kembali mengecek ponsel berharap ada sinyal untuk mencari arah. Ah, sinyal sial! Ia ikut mengering di padang rumput tandus ini. Kiki, adik saya yang menjadi patner perjalanan kali ini, mencoba meyakinkan bahwa jalan setapak yang dipilihnya benar.  Kami pun kembali melangkah sambil menyisakan beberapa teguk air mineral. Sesekali saya mengambil gambar panorama yang memang indah dari atas punggungan. Hamparan laut, langit biru, tebing-tebing karang, dan rerumput yang mengering menjadi pelipur mata. Tak terbayangkan keindahan macam apa yang akan disuguhkan Pantai Atuh, surga tersembunyi yang sedang kami cari.

Pantai Atuh tersembunyi di Desa Pejukutan, ujung barat daya Pulau Nusa Penida, Bali. Di peta wisata Bali yang saya bawa, pantai Atuh tidak tercantum. Namun, informasi mengenai kemolekan surga tersembunyi  ini sudah tersiar di dunia maya.  Namanya  juga surga, untuk sampai dibutuhkan perjuangan yang tidak biasa. Sebelum bertemu jalan setapak, kami lebih dulu berjibaku dengan kontur menanjak, aspal rusak, jalan berbatu, hingga matahari Bali yang menyengat. Sekitar 2 jam, kami menyiksa motor matic yang kami sewa dari pelabuhan Toyapakeh ini. Untunglah motor matic pak Made ini cukup bandel walau beberapa kali bagian bawahnya beradu dengan bongkahan batu. Kami sempat berpapasan dengan sepasang wisatawan yang menyerah dan memutuskan kembali.

Nita Dian Afiantinitadianafianti@gmail.com
instagram @sumurdiladang
Malu bertanya sesat dijalan

Namanya juga surga, selalu ada malaikat penolong di sekitarnya.  Malaikat kami siang itu adalah dua penebang kayu yang kebetulan melintas. Dengan logat Bali kental, malaikat tak bersayap ini mengarahkan kami ke jalan yang benar.  Kami seharusnya belok kiri setelah 50 meter dari lokasi kami parkir motor. Parkir motor di sini bukan lapangan luas dengan karcis berbayar. Melainkan, semak-semak teduh yang menyisakan lapak 2 x 2,5 meter. Asal tidak ganggu orang melintas, saya anggap sudah parkiran. Jangan takut curanmor. Pemilik hotel tempat saya menginap menyampaikan bahwa Nusa Penida aman dari segala tindak pencurian. Seperti umumnya orang Bali, mereka sangat percaya karma.

Akhirnya, saya menemukan belokan yang dimaksud para penebang kayu. Wajar tadi belokan ini terlewati karena tidak terlihat seperti jalur yang sering dilalui orang dan tanpa petunjuk arah.  Namun, perjuangan untuk bersantai di Pantai Atuh belum tamat. Di depan mata, titian puluhan anak tangga menunggu untuk kami turuni. Tak sempat saya hitung jumlah persis anak tangga yang bertengger di tebing sisi kiri pantai Atuh ini. Yang jelas  jumlahnya tampak lebih manusiawi daripada jalur tangga di tebing seberang.

Nita Dian Afiantinitadianafianti@gmail.com
instagram @sumurdiladang
Landscape pantai Atuh dari tangga di jalur kiri

Ada dua jalur yang bisa dilalui untuk sampai ke Pantai Atuh. Keduanya tertulis jelas di satu papan penunjuk jalan: Pantai Atuh panah lurus dan Pantai Atuh panah ke kiri.  Panah lurus akan berujung pada tebing sisi kanan pantai Atuh, sedangkah belok kiri berakhir di sisi tebing yang kami pijak ini. Pemilik warung di pertigaan  jalan  menyarankan untuk memilih jalur ke kiri. Menurutnya, jalur kedua ini lebih dekat walau kondisi jalannya kurang bersahabat. Beberapa kali saya harus turun dari motor karena medan curam dan berkerikil. Singkat cerita, sampailah saya di anak tangga tebing kiri.  Walau jumlah anak tangganya lebih manusiawi, lutut saya tetap terasa berdenyut. Tangga-tangga ini kurang cocok disebut sebagai ‘anak tangga’. Mereka lebih cocok disebut sebagai ‘emak tangga’.

Segenap perjuangan ini langsung terbayar tuntas saat kepingan surga yang kami cari terhampar di depan mata. Terlebih lagi, surga ini serasa milik saya dan kiki. Hanya ada dua pengunjung lain yang sedang asik berguling-guling dengan ombak. Hari itu, ombak Pantai Atuh memang lebih besar dari biasanya. Saya sendiri memilih bersantai di bangku pantai sambil menyeruput sekaleng cola dingin. Ada beberapa penjual kelapa dan minuman ringan dingin di pantai Atuh, tapi tidak untuk makanan berat. Perbekalan cukup sangat penting jika ingin menikmati pantai Atuh dengan perut terisi.

Nita Dian Afiantinitadianafianti@gmail.com
instagram @sumurdiladang
Pura Sad Kahyangan Atuh

 

Tidak jauh dari bibir pantai, sebuah komplek bangunan khas Bali berdiri dengan anggun. Bli Made, seorang pecalang Atuh, menjelaskan bangunan itu adalah Pura Sad Kahyangan Atuh. Di pura yang dikeliling kebun kacang ini, sembahyang pujawali akan digelar pada hari raya yang jatuh pada purnama ke-10. Atau, bulan ke-9 dalam penanggalan masehi. Dalam perayaan mohon keselataman ini, sebagian sesajen akan di larung  ke laut. Mendengar cerita Bli Made, saya ingin sekali bisa kembali ke Pantai Atuh di bulan tersebut.

Konon, matahari terbit sangat indah di Pantai Atuh. Pada bulan ke-8, sunrise akan merayap naik tepat di tengahnya. Oleh karena itu, beberapa situs menyarankan untuk berkunjung ke Atuh saat hari masih fajar. Mengingat beratnya medan perjalanan, saya merekomendasikan para pemburu sunrise untuk bermalam di area pantai. Namun, jangan harap menemukan homestay apalagi hotel di Atuh. Fasilitas penunjang wisata di pantai yang masih perawan ini masih minim.

Kamping adalah solusi paling seru. Malam hari, pengunjung akan diselimuti bintang-bintang yang bertabur di langit pantai Atuh. Saat pagi, matahari terbit akan menyapa dengan cantiknya. Untuk menggelar tenda, pengunjung  tidak dibebani tambahan biaya. Pengunjung hanya membayar Rp 5,000/ orang untuk retribusi masuk ke Pantai Atuh.  Biaya yang sama jika kita masuk ke setiap destinasi di Nusa Penida. Tidak perlu repot bawa tenda dari kota asal. Nusa Penida berjamuran tempat penyewaan tenda dan keperluan kamping lainnya.

Nita Dian Afiantinitadianafianti@gmail.com
instagram @sumurdiladang
Santai-santai di Pantai

Di sekitar Pantai Atuh, ada beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi antara lain pantai Volcom (Swehan) dan bukit Teletubbies. Namun, petualangan bukit kami rasa tidak tepat saat mahatari sedang tegak-tegaknya di atas kepala. Di saat itu pula, sekelompok pengunjung tampak kepayahan meniti anak tangga tebing kanan. Bli Made sepertinya akan kedatangan banyak tamu hari ini. Saya dan kiki pun pamit untuk melanjutkan pencarian kepingan surga lain yang disembunyikan Nusa Penida. Selamat menjelajah!

 

Catatan:

Jika ingin kamping di Pantai Atuh, bisa menghubungi Bli Made untuk informasi lebih jelas  melalui  nomor +6285338544471

Primadona Baru di Botubarani

This slideshow requires JavaScript.

 

Sherly , nama yang diberikan nelayan setempat kepada tamu yang kedatangannya tak pernah diundang ini. Asal-usulnya masih menjadi tanda tanya. Berapa usianya pun belum ada yang mengetahui pasti. Tapi yang jelas, ia kini menjadi sang primadona baru di Desa Botubarani, Gorontalo. Layaknya kembang desa,  pesona Sherly mampu menggoda orang-orang dari berbagai belahan dunia untuk  bertandang ke Desa yang berjarak tak sampai 20 menit dari Pusat Kota Gorontalo ini. Begitu pula dengan saya. Setelah mendengar kabar kehadiran sang primadona, saya memutuskan kembali terbang ke Gorontalo. Padahal, belum enam bulan sejak kali pertama saya menginjakan kaki di Gorontalo.

“Sherly, Sherly, Sherly…” panggil seorang nelayan sambil mengetok-ngetokan dayung ke badan jukung.

Tak lama, seekor hiu paus bergerak mendekat. Ia mengadahkan kepalanya ke permukaan dan membuka mulutnya lebar-lebar. Dua orang pengunjung pun berteriak kompak dari atas Jukung yang mereka sewa. Mereka sangat ketakutan melihat makhluk sebesar itu berenang hanya satu meter di depan mata. Namun, Sherly tak ambil peduli. Bersama kawanannya, ia tetap asik menikmati sarapan favoritnya, yakni sekantong ampas udang.

Sherly terbilang paling belia di antara kawanannya. Panjangnya hanya sekitar 3 meter. Sedangkan hiu paus yang terpanjang  di Botubarani mencapai 10 meter. Yang terpanjang ini dinamai Hercules. Mendengar nama itu membuat saya tertawa. Saya membayangkan “Hercules si paus” memiliki tubuh maco seperti pahlawan dalam mitologi Yunani tersebut.

Padahal, jenis kelamin paus-paus ini belum jelas.  Belum ada penelitian resmi terkait mereka saat saya datang di awal Mei. Maklum, keberadaan Sherly dan kawanannya baru diketahui sekelompok penyelam lokal secara tidak sengaja.  Saat melakukan penyelaman Apri lalu, mereka melihat kawanan hiu paus di Botubarani.

Walau sebenarnya, hewan bernama latin Rhincodon typus ini sudah kerap muncul dua tahun belakangan di perairan Botubarani. Tepatnya, di area pabrik pengelolaan udang.  Ampas udang yang dibuang pabrik telah mengundang  kedatangan hiu paus. Namun, nelayan belum tertarik dengan kemunculan tamu tak diundang ini, sampai sosial media meramaikannya.

Desa nelayan Botubarani yang lengang langsung kebanjiran wisatawan lokal dan mancanegara. Tepian pantai yang tadinya kosong berubah menjadi pos masuk dan warung jajanan. Banyak pula warga menyulap pekarangan rumahnya menjadi lahan parkir dengan tarif Rp 2,000-5,000. Sedangkan untuk masuk, wisatawan dikenakan retribusi Rp 50,000/ kepala. Mahal memang, tapi harga tesebut bisa ditawar. Biaya tiket masuk masih diluar sewa jukung dan ampas udang.  Warga juga menyediakan sewa snorkel dan masker untuk pengunjung yang ingin snorkeling . Harga sewa satu setnya sekitar Rp 30,000.

Bagi pengunjung yang ingin mengamati hiu paus dari kedalaman, sejumlah operator selam menyediakan paket penyelaman di spot hiu paus. Saya sendiri bergabung dengan operator selam Miguels untuk menyelesaikan misi utama kembalinya saya ke Gorontalo. Di atas perahu cepat Miguels, saya bersama empat penyelam lain yang juga memiliki misi serupa. Sepasang penyelam asal Swiss dan sepasang penyelam asal Jakarta. Namun, saya tidak menyelam bersama mereka di spot hiu paus. Saya memilih mengabadikan kelincahan Sherly dan kawan-kawannya tanpa tabung dan pemberat.

“Mbak Nita, tidak takut?” Tanya Dive Master Miguels sebelum penyelaman.

Saya menggeleng bingung. Mungkin perjalanan bertemu makhluk berukuran besar ini memiliki arti yang sama besarnya bagi saya. Antusiasme yang kelewatan ini menggerus rasa takut hingga tanpa sisa. Apalagi, ketika seorang kru memberitahu  bahwa seekor hiu paus sedang mendekati kapal kami. Saat si kepala tutul-tutul menyembul di balik air, adrenalin saya langsung melonjak. Ah…. Itu Sherly!

“Selamat pagi, Sherly!” sapa saya dalam hati.

Hiu paus  Botubarani sering muncul ke permukaan. Mereka menghampiri jukung-jukung nelayan dan memberi kode untuk segera diberi sarapan. Saya terpengarah melihat sosok-sosok besar itu berenang  dengan perlahan. Mana Sherly dan yang mana Hercules sudah tidak terlihat bedanya. Mereka semua tampak sangat besar di dalam air.

Dari informasi terakhir, ada 17 ekor hiu paus yang menghuni sekitar perairan desa Botubarani. Pagi itu, saya hanya bertemu lima di antaranya. Namun, lima saja sudah berulang kali membuat saya salah tingkah. Hiu paus bisa tiba-tiba melintas di balik punggung. Bahkan, seekor hiu paus menganga di depan lensa saya. Sudah tak sempat untuk saya berenang menghindar. Saya hanya diam pasrah sambil berharap semoga tidak ditabrak atau minimal kesepak ekornya yang setinggi badan saya. Membayangkan wajah saya ditampar kulit yang tebalnya bisa 10 cm pasti rasanya lumayan. Untunglah, hiu paus cukup lihai mengemudikan ekornya untuk menghindari benturan.

Geger lintang—sebutan hiu paus dalam masyarakat Jawa—ini merupakan hewan yang jinak. Oleh karena itu, mudah sekali mengambil gambar mamalia raksasa ini. Apalagi jika di dekat mereka ada gelembung udara yang dihembuskan para penyelam. Hiu paus sangat suka melintas di atas gelembung, sama seperti saya. Hiu paus mungkin mengira gelembung tersebut adalah sumber makanan. Atau mungkin juga, mereka mengambil udara yang tersimpan di dalam gelembung.

Hampir satu jam saya menyelam bebas bersama Sherly dan kawanannya. Dive master Miguels di bawah sana mengetuk tabung oksigennya beberapa kali. Tandanya, kami harus kembali ke kapal. Dengan wajah berbinar, kami melanjutkan perjalanan ke spot penyelaman ajaib lainnya di Taman Laut Olele yang berjarak 10-15 menit. Gorontalo memang surga bagi para penggiat selam. Ada sekitar 38 titik selam di Gorontalo. Penyelam akan disuguhi pengalaman yang berbeda di tiap titiknya. Berenang bersama hiu paus adalah salah satu pengalaman yang sangat luar biasa.  Tidak akan cukup dilakukan sekali.

Saya pun memutuskan kembali ke desa Botubarani di hari-hari berikutnya. Kali ini, saya ditemani para nou dan uti—sapaan untuk laki-laki dan perempuan di Gorontalo. Bersama kawan baru ini, saya berenang menuju zona makan hiu paus yang hanya terentang 10 meter dari  bibir pantai. Jika ingin berenang leluasa, datanglah saat masih pagi. Pengunjung belum ramai dan visibiliti masih baik. Cahaya matahari pun jatuh lebih indah di atas tubuh besar sang primadona .

“Selamat pagi, Sherrly!”

* Perjalanan ini dilakukan pada Mei 2016. Kini, Sherly dan kawanannya sudah migrasi meninggalkan  warga Botubarani, Gorontalo