TULAMBEN, BALI

Kapal USAT Liberty karam tepatnya pada Januari 1942.  Kapal kargo Angkatan Darat Amerika Serikat ini melintas di atas perairan Bali Timur dalam perjalanan dari Australia menuju Filipina. Alih-alih sampai tujuan, ia malah tertembak torpedo kapal selam milik Jepang. Kapal pengangkut kebutuhan Perang Dunia II ini  rusak parah. Tentara Sekutu berusaha menyelamatkannya, tapi gagal. USAT Liberty malah terdampar selama dua dasawarsa di tepian pantai Tulamben. Pada 1963, gunung Agung meletus dan melontarkan  material vulkanik hingga ke Kubu, Karangasem. Si kapal tak bertuan ikut terhempas oleh aliran lahar dan tenggelam ke dasar… [klik selanjutnya]

Menziarahi Makan USAT Liberty

BALI

-1 Januari 2017-

Tujuan awal kedatangan saya ke Bali awal Januari lalu untuk menyelam di Pulau Menjangan, Bali Barat. Namun, cerita kapal Liberty milik Amerika Serikat yang terkubur di bawah laut Tulamben merubah rute perjalanan. Saya meninggalkan Bali Barat lebih awal dan meluncur ke Bali bagian timur. Inilah nikmatnya solotraveling ketika tujuan bisa diubah‘seenak dengkul’.

Lagi-lagi karena solotraveling, saya mendapat tumpangan cuma-cuma ke Tulamben. Ada satu kursi tersisa di mobil rombongan turis asal China yang sedang mengikuti program sertifikasi volunteer di divecenter Sea Hua Haha. Bersama mereka, saya membelah jalanan Buleleng menuju Tulamben. Laut, pure-pure, dan kebun anggur di pekarangan rumah menjadi pemandangan yang menghibur tiga jam perjalanan. Agus, pemandu grup volunteer, menceritakan tentang kemansyuran anggur Buleleng di kalangan penikmat wine dunia. Dengan label lokal Sababay Winery, minuman fermentasi ini meraih perhargaan berbagai ajang wine internasional. Sayang sekali, cerita semenarik ini hanya saya dengar dari dalam mobil.

Hampir pukul delapan malam, saya tiba di Sea Huahaha Divecenter, Tulamben. Pak Sukerdana—pemilik Sea Hua Haha—mengarahkan para volunteer terkait penyelaman besok. Saya antusias sekaligus gugup membayangkan penyelaman perdana saya di Tulamben. Entah karena saya akan menyelam dalam kelompok besar atau karena bayang-bayang bangkai kapal. Ini akan menjadi penyelaman pertama saya dalam grup besar sekaligus menjadi penyelaman kedua saya di bangkai kapal. Akhir 2015, saya pernah menyelami bangkai kapal Jepang yang karam di Pelabuhan Tua Tahuna, Sangihe, Sulawesi Utara. Kapal jenis kargo tersebut karam pada 1943, setahun setelah USAT Liberty karam di perairan Tulamben. Menyelam di bangkai kapal yang sama-sama dari era Perang Dunia II akan menarik, apalagi keduanya berasal dari negara yang berseteru.

Kapal USAT Liberty karam tepatnya pada Januari 1942.  Kapal kargo Angkatan Darat Amerika Serikat ini melintas di atas perairan Bali Timur dalam perjalanan dari Australia menuju Filipina. Alih-alih sampai tujuan, ia malah tertembak torpedo kapal selam milik Jepang. Kapal pengangkut kebutuhan Perang Dunia II ini  rusak parah. Tentara Sekutu berusaha menyelamatkannya, tapi gagal. USAT Liberty malah terdampar selama dua dasawarsa di tepian pantai Tulamben. Pada 1963, gunung Agung meletus dan melontarkan  material vulkanik hingga ke Kubu, Karangasem. Si kapal tak bertuan ikut terhempas oleh aliran lahar dan tenggelam ke dasar.

BALI

“Tahun 1986-an, (kapal karam) masih kelihatan sebagian di permukaan. Posisi kapal jadi miring karena sudah berkarat dan adanya gempuran ombak,” kenang Pak Suker.

Bangkai kapal Liberty yang separuh rebah ini terkubur sekitar 20 meter dari bibir pantai. Penyelam cukup berjalan kaki untuk melakukan entry. Namun, berjalanan dengan beban tabung dan pemberat di badan bukan perkara gampang. Apalagi, medan yang ditempuh  berupa bebatuan. Saya sering kali hampir terpeleset. Tapi inilah uniknya Pantai Tulamben. Jika umumnya pantai berhampar pasir, Pantai Tulamben didominasi bebatuan. Penamaan Tulamben sendiri berasal dari  “batulambih” yang berarti banyak batu. Hari berikutnya, saya iseng berjemur di atas batu dari letusan gunung Agung ini. Sensasinya serupa hot stone massage.

Setelah berhasil melewati bebatuan, Pak Suker mengarahkan ibu jarinya ke bawah. Isyarat agar kami segera masuk. Penyelaman pun dimulai. Hamparan batu berganti dengan pemandangan pasir, tapi yang dicari belum kelihatan.Visibitili siang itu memang tidak terlalu bagus. Dari tadi yang saya lihat malah penyelam. Saya jadi teringat celoteh seorang teman yang pernah menyelam di sini.

BALI

“Di bawahnya ramai sekali. Tengok kanan-kiri orang semua. Itu lautan manusia namanya,” candanya.

Tulamben memang tersohor sebagai “taman bermain” para penyelam. Bukan hanya penggiat scubadive tapi juga freedive dari mana-mana berziarah ke kuburan kapal USAT Liberty. Selain akses yang mudah, harga paket menyelamnya juga relatif murah. Saking semaraknya, saya sampai tidak sadar bangkai kapal sudah di depan mata. Bongkahan yang saya kira batu karang merupakan bagian tubuh kapal. Posisi kapal yang sudah miring menyulitkan saya menebak puing bagian mana.

Saat berusaha menebak, seekor kerapu besar berenang perlahan di bawah kaki kami. Untuk pertama kalinya saya melihat kerapu sebesar itu. Namun, saya tidak bisa memastikan ukurannya karena semua tampak lebih besar di dalam air. Kerapu tersebut adalah salah satu penghuni bangkai kapal Liberty. Pasca letusan Gunung Agung, pantai Tulamben menjadi hunian subur berbagai biota laut, dari softcoral besar hingga binatang super kecil. Binatang mikro ini yang menjadikan Tulamben sebagai tujuan para pemburu foto macro. Sayangnya, penyelaman kali ini saya hanya berbekal actioncame.

BALI

Ujung terdangkal Liberty di kedalaman 5 meter.

Depthmeter saya sudah menyentuh angka 20. Belum setengah badan kapal yang kami telusuri. Kapal Liberty di Tulamben ini jauh lebih besar daripada kapal kargo Jepang di Sangihe. Panjang kapal Liberty mencapai 120 meter dengan salah satu ujung berada di kedalaman 5 meter dan ujung lainnya terperosok hingga 29 meter. Pak Suker menginstruksikan saya untuk eksplorasi bagian dalam kapal bersama Nengah, buddy (pendamping) selam saya. Pak Suker dan volunteer divecourse kembali ke permukaan.

Saya memeriksa sisa udara di tabung. Ternyata masih di atas 100 bar. Arus yang cenderung tenang di Tulamben membuat tenaga dan napas saya lebih hemat. Saya membuntuti Nengah masuk ke dalam kapal Liberty. Tiang-tiang yang melintang masih tampak kokoh. Namun, penyelam harus waspada mengingat usia Liberty yang sudah renta. Beberapa bagian juga sudah berlubang. Namun, saya tidak dapat memastikan sebab lubang ini karena hantaman torpedo Jepang, gerusan lahar gunung Agung, atau  korosi air laut.

BALI

Dekat salah satu tiang kapal yang sudah terkapar di dasar, saya bertemu sekoloni garden eel. Belut laut ini langsung bersembunyi di pasir saat saya mendekat. Gerakannya yang gesit membuat saya kesulitan menangkap foto mereka. Tidak terasa pengukur udara hampir menyentuh garis merah. Saya harus kembali ke permukaan setelah sekitar satu jam saya berziarah di kuburan kapal USAT Liberty.

Selain kapal karam USAT Liberty, Tulamben memiliki dua titik selam yang juga menarik, yaitu Drop Off  dan Coral Garden. Letak keduanya tidak jauh dari bangkai kapal. Konon di Drop Off, ikan-ikan besar seperti hiu martil kadang muncul. Tapi, saya tidak berjodoh dengan satu pun hiu di titik ini. Saya malah bertemu schoolingfish goldline dalam formasi lingkaran super besar. Hiu jenis blacktip baru saya jumpai justru di Coral Garden.

Tulamben, Bali

Schoolingfish goldline.

Di titik selam yang terbentang di kedalaman 3-28 meter ini pula saya disuguhi atraksi shrimp cleaning membersikan gigi Kadek, buddy selam saya. Saya mencoba atraksi bersih-bersih ini dengan mengulurkan tangan. Dengan sigap udang ini membersih sela-sela kuku saya. Lumayan juga daripada pedicure ke salon. Tapi jelas bukan atraksi bersih-bersih ini yang menggoda saya untuk menyelam di Coral Garden.  Di titik ini terdapat taman stupa, patung budha, dan patung dewa-dewi lainnya. Patung batu ini sengaja ditenggelamkan sebagai media transplantasi coral.

“Kita ada jadwal rutin memeriksa kondisi patung. Patung-patung ada yang jatuh karena gelombang di sini besar,” cerita Kadek.

Coral Garden juga menjadi spot favorit saya untuk snorkeling. Kedalaman tiga meter sudah terhampar anemone beserta penghuninya, si ikan badut “nemo”. Di dekat anemone, beraneka ikan berseliweran mencari makan. Ada oriental sweetlips, triggerfish, sepasang morish idol, dan sekelompok panda butterfly. Saya iseng membututi ikan palette surgeonfish yang berenang sendirian. Begitu sadar diikuti, ikan yang menjadi karakter utama film Finding Dory ini langsung ngacir. Saya langsung teringat adegan saat Dory berkejaran dengan Marlin.

Lokasi snorkeling asik lainnya adalah ujung terdangkal bangkai kapal USAT Liberty. Titik ini juga menjadi incaran para freediver untuk uji kemampuan. Dalam satu tarikan napas, mereka menyusuri bangkai kapal. Saya sempat mencoba, tapi napas saya masih pendek untuk masuk lebih dalam. Butuh belajar teknik khusus untuk sehandal para freediver ini. Di Tulamben sendiri sudah ada sekolah khusus freedive bernama Apnea. Mungkin lain waktu saya ingin juga belajar di sana agar bisa menikmati keindahan laut Indonesia dengan cara berbeda. Selamat berkelana!

 

RANSEL

  • Tulamben bisa dicapai dengan sewa mobil dari Bandara I Gusti Ngurah Rai Rp 500,000/ 8 jam. Alternatif lebih hemat dengan travel Perama Rp 175.000/ orang dari Kuta setiap pukul tujuh pagi. Bandara-Kuta dengan TransBali Sarbagita Rp 3,500.
  • Beberapa penginapan di Tulamben memiliki kamar dormitori AC Rp 100,000/ malam termasuk sarapan.
  • Harga paket selam khusus diver ber-lisence Rp 250,000-400,000. Untuk discovery (tanpa lisence) Rp 350,000-500,000.
  • Tulamben juga terdapat objek wisata Rumah Pohon dimana Gunung Agung terlihat sangat dekat. Buka pukul 07.00-18.00 WITA dengan tiket Rp 20,000.
  • Untuk menemukan camilan lokal bisa pergi ke pasar tradisional di Tulamben yang hanya digelar tiga hari sekali berdasarkan penanggalan Bali.

 

**) Tulisan ini dimuat di rubrik Perjalanan Koran Tempo Akhir Pekan, 4-5 Maret 2017

 

NONA BELANDA DI KOTA TUA

KOTA TUA

Pelataran Museum Fatahillah masih lengang pengunjung. Mungkin mendung yang bergelantung sejak pagi di langit Jakarta menciutkan niat sejumlah pelancong. Tapi tidak dengan dua gadis di salah satu sudut alun-alun Kota Tua, Jakarta. Keduanya kusyuk menggaris warna di sekitar mata, memoles bedak, dan memasang bulu mata cetar membahana ala Princess Syahrini. Tidak lupa wig panjang  dan gaun megar melengkapi penampilan mereka. Devi (22) dan Yuli (18) bertransformasi menjadi “nona belanda”.

Dalam balutan gaun biru muda dan merah menyala, dua sahabat asal Brebes ini menarik perhatian pengunjung Kota Tua. Pengunjung yang sebagian besar kaum hawa berfoto dengan nona belanda. Tidak ada tarif khusus yang ditetapkan. Pengunjung sukarela memasukan rupiah ke dalam keranjang dari bak sampah.

Bagi Yuli, profesi nona belanda lebih asik dibanding menjadi buruh pengemasan sarden yang pernah dilakoninya. Lingkungan kerja santai dan penghasilan lebih besar. Namun profesi yang baru dijalani Yuli tiga bulan ini bukan tanpa resiko. Yuli pernah mendapat perlakuan tidak sopan dari pengunjung. Untung saja, perlakukan tersebut masih bisa ditolerir.

“Jangan macam-macam dengan anak sini. Kemarin ada yang berani nyopet aja digebukin abis,” ucap Devi yang sudah setahun menjadi nona belanda di Kota Tua.

Keranjang uang masing-masing nona belanda ini semakin meninggi. Saat pengunjung Kota Tua ramai, mereka bisa membawa pulang uang hingga Rp 500,000. Jika sepi, Rp 100,000 saja sudah lumayan untuk memenuhi kebutuhan satu hari. Sekitar 40 persen penghasilannya akan dibagi  kepada penyewa gaun.

KOTA TUA

Untuk menggelar lapak foto, Devi tidak dipungut biaya. Kompensasinya, Devi bersama nona belanda lain, manusia patung, tokoh pahlawan, putri duyung, pangeran, dan karakter costplay lain wajib mengikuti kerja bakti bersih-bersih kawasan Kota Tua. Kerja bakti ini dilakukan saban Sabtu dan Minggu pada pukul 1 dan Jumat setiap dua pekan sekali.

 

Matahari semakin tegak di atas kepala. Namun awan tebal masih setia di atas sana. Devi dan Yuli berdoa semoga hujan tidak turun seperti kemarin. Jika hujan, mereka hanya bisa ngacir melindungi gaun dan riasan mereka.

“Semoga enggak hujan,” harap-harap cemas sang nona belanda sambil mendongak ke langit Kota Tua.

KOTA TUA

 

*Perjalanan 15 Januari 2017. Tulisan ini diedit dari tugas saya saat mengikuti kelas “Basic Travel Photography & Writing Workshop”    bersama Citilink

For The King

Pada 31 Oktober 2016

This slideshow requires JavaScript.

Antrean mengular  tidak juga surut di lapangan dekat Grand Palace, Bangkok, Thailand. Padahal sudah hampir seharian warga Thailand mengantre demi mendoakan Raja Bhumipol yang meninggal 13 Oktober lalu. Dengan busana formal serba hitam, mereka rela berdiri di bawah terik matahari.  Siapa saja bisa ikut melayat  ke dalam istana Raja tersebut. Asalkan mereka mengenakan sepatu, kemeja, celana bahan bagi pria, dan rok bagi wanita.

Hari itu, saya sudah bersiap dengan baju hitam dan kain warna gelap untuk dijadikan bawahan. Sayangnya, kain biru tua yang saya pakai dianggap tak memenuhi syarat. Bersama para pelayat yang  senasib, saya mencari posko peminjaman pakaian. Setelah bolak-balik dan bertanya sana-sini, saya akhirnya menemukan posko yang dimaksud. Atasan dan bawahan yang disumbangkan warga digantung rapih  dengan hanger, sedangkan  sepatu dibiarkan menumpuk di samping posko.

Saya kembali menelan kecewa karena muka lokal saja tidak cukup ampuh. Pelayat harus meninggalkan kartu identitas penduduk Thailand untuk mendapatkan pinjaman cuma-cuma tersebut. Dengan berat hati, saya tereliminasi dari barisan pelayat setelah mengantre sekitar empat jam. Dua kawan perjalanan saya pun turut keluar barisan. Kami memutuskan untuk berkeliling di area pelayatan dimana ratusan posko berdiri.  Dari mulai posko kesehatan, makanan, minuman, buah, pijat, salon hingga posko foto dengan potret raja.

Saya sangat tertarik berfoto sambil memegang potret Raja Bhumipol. Tapi niat itu saya urungkan karena tidak ingin menambah panjang antrean warga Thailand yang sedang khusyuk mengenang rajanya.  Mereka cukup antusias dengan posko foto ini.  Sebelum berfoto, beberapa pelayat  memoles bedak bayi yang disiapkan pemilik posko. Alhasil, minyak di wajah berkurang saat berhadapan dengan kilat lampu studio.

Warga, pelajar, pramuka, militer, pemerintah hingga perwakilan negeri tetangga mendirikan posko ini untuk memberikan support kepada pelayat. Tentu semuanya tanpa pengutan biaya. Banyaknya pelayat anak-anak dan lanjut usia mengharuskan sukarelawan disiagakan. Mereka berseliweran memastikan terpenuhi kebutuhan pelayat yang mengantre. Selama seharian berada di sana, saya sudah mendapat bubur kacang, sup bakso ikan, nasi goreng, ice cream, sari buah dingin, softdrink, macam-macam minyak angin, balsam, handuk basah, berbotol-botol air mineral dan komik yang berkisah hidup Raja Bhumipol.

Tangis histeris sudah tidak terdengar pada hari ke-delapan belas kepergian raja. Namun, duka masih kasat di wajah mereka.  Sampai saat ini, saya masih kagum dengan loyalitas rakyat Thailand mengantar hari-hari terakhir raja sebelum dikremasi.

“Saya berikan bunga ini gratis. Doakan untuk raja kami,” pesan salah seorang ibu. Kapunkha. 

 

Baca juga perjalanan saya Thailand lainnya  ROTI SAI MAI, ARUM MANIS ALA THAILAND

Di Gerbang Istana Laut Selatan

 

This slideshow requires JavaScript.

Perjalanan pada  5 Agustus 2015

Sebentar lagi matahari akan terbenam di ufuk barat Pantai Parangkusumo, Kabupaten bantul, Yogyakarta. Saatnya ritual malam Selasa Kliwon dilakukan. Berbekal bunga dan dupa, doa-doa dihantarkan. Parangkususmo dipercaya sebagai pintu gerbang masuk ke istana Laut Selatan. Maka di sanalah upacara tradisi itu dijalankan, di tengah keriuhan wisatawan yang menikmati keriaannya sendiri.

 

*) Essai Foto telah dipublikasikan di Koran Tempo Minggu, 28 September 2014 [klik Publikasi]

 

 

Bocah Koin Baubau

This slideshow requires JavaScript.

*Perjalanan pada 10 September 2014

Kapal Pelni Kelimutu belum  bersandar di Pelabuhan Murhum, Baubau, siang itu. Namun, sebagian besar penumpang sudah bersiap di tepi kapal. Mereka memilih menghabiskan sisa waktu perjalannya dengan menikmati landscape pelabuhan yang  ditempuh selama enam jam dari Pelabuhan Wanci di Wakatobi tersebut. Pemandangan Murhum semakin menyita mata penumpang saat sekelompok bocah mendayung koli-koli mendekat. Petugas memberikan peringatan agar koli-koli menjauh demi keselamatan.

Gerombolan bocah tersebut tetap melaju di antara hempasan gelombang dari Kapal Pelni. Mereka memberikan isyarat kepada penumpang untuk melempar koin. Sayangnya, Kapal Pelni Kelimutu sudah bersandar sempurna. Hari yang apes untuk para bocah koin Baubau. Senyum Madan (20) kembali berkembang saat melihat selembar Rp 50 ribu dibentangkan seorang penumpang.

“Untuk tiga kali lompatan, ya,” penumpang itu menantang.

Madan mengangguk cepat. Tak lama pasukan kecilnya sudah berkumpul. Aldi (15), Safar (12), dan Riswan (8) memanjat tambang. Dari atas kapal Pelni, mereka melompat bergantian dan sesekali bersamaan. Walau mengaku sering melakukan atraksi ini, wajah  ragu kadang terlihat di paras mereka. Tapi semua ragu itu sirna ketika kepala mereka menyembul di antara riak ombak pelabuhan Murhum Baubau, Sulawesi Tenggara.

 

*) foto esai ini telah diterbitkan di Koran Tempo, 28 September 2014 [ klik  Publikasi untuk versi cetak]

 

Primadona Baru di Botubarani

This slideshow requires JavaScript.

 

Sherly , nama yang diberikan nelayan setempat kepada tamu yang kedatangannya tak pernah diundang ini. Asal-usulnya masih menjadi tanda tanya. Berapa usianya pun belum ada yang mengetahui pasti. Tapi yang jelas, ia kini menjadi sang primadona baru di Desa Botubarani, Gorontalo. Layaknya kembang desa,  pesona Sherly mampu menggoda orang-orang dari berbagai belahan dunia untuk  bertandang ke Desa yang berjarak tak sampai 20 menit dari Pusat Kota Gorontalo ini. Begitu pula dengan saya. Setelah mendengar kabar kehadiran sang primadona, saya memutuskan kembali terbang ke Gorontalo. Padahal, belum enam bulan sejak kali pertama saya menginjakan kaki di Gorontalo.

“Sherly, Sherly, Sherly…” panggil seorang nelayan sambil mengetok-ngetokan dayung ke badan jukung.

Tak lama, seekor hiu paus bergerak mendekat. Ia mengadahkan kepalanya ke permukaan dan membuka mulutnya lebar-lebar. Dua orang pengunjung pun berteriak kompak dari atas Jukung yang mereka sewa. Mereka sangat ketakutan melihat makhluk sebesar itu berenang hanya satu meter di depan mata. Namun, Sherly tak ambil peduli. Bersama kawanannya, ia tetap asik menikmati sarapan favoritnya, yakni sekantong ampas udang.

Sherly terbilang paling belia di antara kawanannya. Panjangnya hanya sekitar 3 meter. Sedangkan hiu paus yang terpanjang  di Botubarani mencapai 10 meter. Yang terpanjang ini dinamai Hercules. Mendengar nama itu membuat saya tertawa. Saya membayangkan “Hercules si paus” memiliki tubuh maco seperti pahlawan dalam mitologi Yunani tersebut.

Padahal, jenis kelamin paus-paus ini belum jelas.  Belum ada penelitian resmi terkait mereka saat saya datang di awal Mei. Maklum, keberadaan Sherly dan kawanannya baru diketahui sekelompok penyelam lokal secara tidak sengaja.  Saat melakukan penyelaman Apri lalu, mereka melihat kawanan hiu paus di Botubarani.

Walau sebenarnya, hewan bernama latin Rhincodon typus ini sudah kerap muncul dua tahun belakangan di perairan Botubarani. Tepatnya, di area pabrik pengelolaan udang.  Ampas udang yang dibuang pabrik telah mengundang  kedatangan hiu paus. Namun, nelayan belum tertarik dengan kemunculan tamu tak diundang ini, sampai sosial media meramaikannya.

Desa nelayan Botubarani yang lengang langsung kebanjiran wisatawan lokal dan mancanegara. Tepian pantai yang tadinya kosong berubah menjadi pos masuk dan warung jajanan. Banyak pula warga menyulap pekarangan rumahnya menjadi lahan parkir dengan tarif Rp 2,000-5,000. Sedangkan untuk masuk, wisatawan dikenakan retribusi Rp 50,000/ kepala. Mahal memang, tapi harga tesebut bisa ditawar. Biaya tiket masuk masih diluar sewa jukung dan ampas udang.  Warga juga menyediakan sewa snorkel dan masker untuk pengunjung yang ingin snorkeling . Harga sewa satu setnya sekitar Rp 30,000.

Bagi pengunjung yang ingin mengamati hiu paus dari kedalaman, sejumlah operator selam menyediakan paket penyelaman di spot hiu paus. Saya sendiri bergabung dengan operator selam Miguels untuk menyelesaikan misi utama kembalinya saya ke Gorontalo. Di atas perahu cepat Miguels, saya bersama empat penyelam lain yang juga memiliki misi serupa. Sepasang penyelam asal Swiss dan sepasang penyelam asal Jakarta. Namun, saya tidak menyelam bersama mereka di spot hiu paus. Saya memilih mengabadikan kelincahan Sherly dan kawan-kawannya tanpa tabung dan pemberat.

“Mbak Nita, tidak takut?” Tanya Dive Master Miguels sebelum penyelaman.

Saya menggeleng bingung. Mungkin perjalanan bertemu makhluk berukuran besar ini memiliki arti yang sama besarnya bagi saya. Antusiasme yang kelewatan ini menggerus rasa takut hingga tanpa sisa. Apalagi, ketika seorang kru memberitahu  bahwa seekor hiu paus sedang mendekati kapal kami. Saat si kepala tutul-tutul menyembul di balik air, adrenalin saya langsung melonjak. Ah…. Itu Sherly!

“Selamat pagi, Sherly!” sapa saya dalam hati.

Hiu paus  Botubarani sering muncul ke permukaan. Mereka menghampiri jukung-jukung nelayan dan memberi kode untuk segera diberi sarapan. Saya terpengarah melihat sosok-sosok besar itu berenang  dengan perlahan. Mana Sherly dan yang mana Hercules sudah tidak terlihat bedanya. Mereka semua tampak sangat besar di dalam air.

Dari informasi terakhir, ada 17 ekor hiu paus yang menghuni sekitar perairan desa Botubarani. Pagi itu, saya hanya bertemu lima di antaranya. Namun, lima saja sudah berulang kali membuat saya salah tingkah. Hiu paus bisa tiba-tiba melintas di balik punggung. Bahkan, seekor hiu paus menganga di depan lensa saya. Sudah tak sempat untuk saya berenang menghindar. Saya hanya diam pasrah sambil berharap semoga tidak ditabrak atau minimal kesepak ekornya yang setinggi badan saya. Membayangkan wajah saya ditampar kulit yang tebalnya bisa 10 cm pasti rasanya lumayan. Untunglah, hiu paus cukup lihai mengemudikan ekornya untuk menghindari benturan.

Geger lintang—sebutan hiu paus dalam masyarakat Jawa—ini merupakan hewan yang jinak. Oleh karena itu, mudah sekali mengambil gambar mamalia raksasa ini. Apalagi jika di dekat mereka ada gelembung udara yang dihembuskan para penyelam. Hiu paus sangat suka melintas di atas gelembung, sama seperti saya. Hiu paus mungkin mengira gelembung tersebut adalah sumber makanan. Atau mungkin juga, mereka mengambil udara yang tersimpan di dalam gelembung.

Hampir satu jam saya menyelam bebas bersama Sherly dan kawanannya. Dive master Miguels di bawah sana mengetuk tabung oksigennya beberapa kali. Tandanya, kami harus kembali ke kapal. Dengan wajah berbinar, kami melanjutkan perjalanan ke spot penyelaman ajaib lainnya di Taman Laut Olele yang berjarak 10-15 menit. Gorontalo memang surga bagi para penggiat selam. Ada sekitar 38 titik selam di Gorontalo. Penyelam akan disuguhi pengalaman yang berbeda di tiap titiknya. Berenang bersama hiu paus adalah salah satu pengalaman yang sangat luar biasa.  Tidak akan cukup dilakukan sekali.

Saya pun memutuskan kembali ke desa Botubarani di hari-hari berikutnya. Kali ini, saya ditemani para nou dan uti—sapaan untuk laki-laki dan perempuan di Gorontalo. Bersama kawan baru ini, saya berenang menuju zona makan hiu paus yang hanya terentang 10 meter dari  bibir pantai. Jika ingin berenang leluasa, datanglah saat masih pagi. Pengunjung belum ramai dan visibiliti masih baik. Cahaya matahari pun jatuh lebih indah di atas tubuh besar sang primadona .

“Selamat pagi, Sherrly!”

* Perjalanan ini dilakukan pada Mei 2016. Kini, Sherly dan kawanannya sudah migrasi meninggalkan  warga Botubarani, Gorontalo