#CelotehTukangJalan: Backpacker Pantang Bawa Oleh-oleh!

 

Cho Ben Thanh, pasar tertua di Ho Chi Minh, Vietnam, Maret 2016.

Cho Ben Thanh, pasar tertua di Ho Chi Minh, Vietnam, Maret 2016.

Lu masih lebih ga?”

“Gw bayarin deh oleh-oleh lu. Buat tante gw belum nih. Tetangga gw juga belum lagi. Nyesel kenapa tadi eggak beli yang banyak.”

“Duw teman kantor juga belum. Bos gw beliin apa ya? ”

“Enak ga ya kalau oleh-olehin ginian?”

 Punya teman dermawan macam gini sudah pasti menyenangkan. Tiap traveling, ingat orang-orang di dunia nyatanya. Dari orang tua, pasangan, adik, kakak, sepupu, tante, ponakan, tetangga lima deret ke samping kanan, tetangga empat deret ke kiri, bos tiga divisi, teman segala sektor kehidupan, sampai temannya temen gebetan. Daftar oleh-olehnya panjang benar kaya Choki-choki. Kebayangkan spare waktu yang disiapkan khusus belanja oleh-oleh untuk satu klan macam begini. Belum lagi kalau ada yang kelupaan. Terpaksa deh, harus balik lagi buat ngudek-ngudek pusat oleh-oleh.

Kamu punya teman jalan tipe ini? Pasti ada, satu atau dua biji mah. Tapi, yang pasti itu bukan gw. Hahaha… Muasalnya, gw pun berlaku demikian. Punya daftar penerima oleh-oleh. Dasarnya,  gw memang suka pasar bukan sebagai ladang perburuan oleh-oleh. Aktivitas di pasar selalu menarik untuk dibingkai.  Tapi ya dasar gw mata keranjang (baca: keranjang belanjaan), enggak bisa banget lihat barang lucu nan murah. Kemudian, terbengkalailah itu kamera di leher.

Sampai pada satu titik, gw menjadi lelah dengan problematika peroleh-olehan ini. Tepatnya, setelah kuantitas traveling gw meningkat tajam, tapi gaji landai-landai saja. Niat jalan ala backpacker tapi pas balik jadi berpack-packer. Tangan kanan: keresek berisi oleh-oleh sandal, kain, syal, makanan khas. Tangan kiri: seperangkat kamera dibayar tunai. Keril: baju kotor, tripod, dome, satu set snorkle lengkap dengan fin, oleh-oleh baju. Taubat dah! Selain prinsip “bubur tanpa kecap”, gw pun memproklamirkan satu prinsip baru dalam hidup gw: “BACKPACKER PANTANG BAWA OLEH-OLEH!”

 

Thai 2016__SUM2-new

Gembolan terbesar selama jalan.  Lokasi: Phi Phi Island, Thailand, November 2016. (Photo by Tita Agustin)

 

“Ih,pelit!”

Emang! Hahaha…  Sebenarnya, urusannya bukan cuma  ngemberatin dompet, tapi juga ngemberatin tas. Saat transit di Bandara Changi, Singapura, gw dan dua kawan jalan lainnya terpaksa bongkar isi keril sampai ke dasar. Tas kita bertiga overweight buat masuk ke kabin. Sedangkan, kita beli tiket promo yang tidak menyertakan bagasi. Konon, Changi lumayan rajin  mengecek  bawaan para calon penumpangnya. Daripada nanti repot saat chek-in, jadi kita buang-buangin barang yang sekiranya bisa dibuang. Sabun mandi, sampo, baterai A2, pakaian basah yang sudah enggak puguh, dan sebagainya diikhlasin ke tempat sampah. Kamera, tripot, baterai kamera, flash, diempet-empetin ke tas selempang. Gopro ditenteng. Jaket tebal dipakai biar kata gerah. Topi rajut yang berat karena basah dipakai juga. Celana bahan jeans di-double. Semua ini demi mendapat berat tas ideal, setelah obesitas karena oleh-oleh.

Belanjaan oleh-oleh gw paling sedikit dibanding dua kawan lainnya. Tapi pas ditimbang, tas gw selalu paling berat. Karena apa??? Karena setiap traveling template muatan gw adalah kamera darat sampai air, lensa cadangan, tripod, tongsis, flash, berbagai baterai cadangan, casing waterproff, dan segala rupa. Alhasil, tas kamera gw sendiri bisa 5-10 kg. Sedangkah maksimal berat kabin, cuma 7 kg.

Setelah 70 hari gw ga ke laut. Apa yang terjadi? – kerja kena komplain berulang – follower stagnan dan malah ada nge-block – main tiadatara – rajin moto dan eksplor jakarta – blog nitakenala.wordpress.com jarang update – berhasil nulis perjalanan untuk diterbitin – belajar detail – belajaan anaknya – Jadi bisa gambar dan mewarnai karena kak @rayaelfira dan @viantiaisha thanks ya – sidejob meningkat tajam – berat badan turun tembus di bawah 60kg Itu semua demi apa? Rajaampat 😘 #countdown #rajaampat #backpackers #sharecost #needvitaminsea #bucketlist #travelblog #papua #instabeach #snorkeling #gopro #canon #stuff #jalanjalan salam #Sumurdiladang @liyongyong @titatulititano @anifichi @tantriaineke @wildapohan

A post shared by nita kelana (@sumurdiladang) on

 

“Taro Bagasilah!”

Tahukah kamu, bahwa transportasi menyumpang pengeluaran terbesar dalam anggaran perjalanan? Jadi, gw yang budget traveler ini (baca: gembels traveler) bakal beli tiket dengan harga paling murah saat menggunakan pesawat. Sabar-sabar deh nunggu tiket promo. Biar kata  tiketnya exclude makan, itung-itung diet. Enggak ada bagasi, sebodo teinglah. Yang penting murah dan selamat tiba di tempat. Mending uangnya ditabung buat tiket destinasi perjalanan berikutnya. Mengingat bucket list “things to do before i die” masih banyak. Jadi buat gw, bagasi bisa dicoretlah. Apalagi bagasi cuma untuk oleh-oleh?

“Anti oleh-oleh banget?”

Enggak dong ^,^) Gw senang kalau ada teman yang memberikan buah tangan dari hasil travelingnya. Kadang mengharu-biru pas oleh-olehnya khusus buat gw. Uhuy! Gw juga sempetin belanja oleh-oleh. Apalagi pas perjalanan karena penugasan kantor. Perjalanan macam itu kudu banget bawain oleh-oleh buat berjamaah sedivisi kantor. Pas traveling gembel pun kadang gw nyari oleh-oleh, tapi peruntukannya terbatas. Hanya untuk orang-orang yang kangen sama akuh pas travelling, hadiah untuk teman, atau  buat diri sendiri sebagai pengikat memori.

Intinya, oleh-oleh ini enggak bikin tas obesitas. Jadi, gw tetap nyaman motret. Enggak sedikit traveler yang kesibukan berburu oleh-oleh buat sekampung, tapi lupa menikmati perjalanan itu sendiri. Tapi manusia tipe ini juga jangan sampai binasa. Tipe macam gw jangan banyak-banyaklah. Karena, merekalah P3L: Pahlawan Peningkat Perekonomian Lokal. Dan, gw siap jadi penadah dari kesenangan mereka berbelanja oleh-oleh.

 

Padang 2013__sum1

Oleh-oleh wajib kalau ke Padang.  Lokasi: Padang, Sumatera Barat, 2013.

 

“Hmm… Tapi gw kurang suka”

Menohok betul rasanya saat gw ngasih oleh-oleh kopi khas daerah tertentu untuk seorang sobat. Sambil nerima, dia komentar bahwa kopi ini dia kurang suka karena kalah sama kopi daerah lainnya di Indonesia. Pernah mengalami dapat komentar negatif sejenis? Gw beberapa kali. Sedih ya… uhuk uhuk. Padahal, kita si pelaku perjalaanan demi oleh-oleh ini sudah melakukan banyak pengorbanan: uang, waktu, tenaga, pikiran. Uang yang harusnya bisa buat nyemil saat traveling. Waktu traveling yang harusnya bisa untuk ke destinasi lain. Tenaga tersisa buat ngudek-ngudek satu pasar cenderamata. Pikiran jadi bimbang untuk menentukan kira-kira penerima oleh-oleh suka atau enggak saja bisa satu jam. Sejak itu, gw mending beli oleh-oleh yang sekiranya bakal dipakai. Kalau sekiranya enggak, mending pikir-pikir lagi dah yaw, dari pada dongkol.

“Oleh-oleh = Silaturahmi”

‘Enggak enakan’ karena enggak beli oleh-oleh itu semacam down the line MLM. “Kalau beliin adiknya, ga enak sama kakanya. Kalau beliin kakaknya masa ga beliin suaminya. Oia dia kan tinggal sama mertua, sekalian deh.” Dan seterusnya, dan seterusnya. Demi apa? Menjaga hubungan kekerabatan alias silaturahmi. Menurut gw, silaturahmi itu seharusnya dijaga dengan orang-orang yang ditemui saat traveling. Apalagi, orang-orang tersebut sudah membantu.

Gw lebih memilih membawa “oleh-oleh” dari Jakarta untuk diberikan ke teman-teman baru saat traveling. Ga perlu yang besar, tapi yang ringkas dan sudah pasti ada maanfaatnya. Saya dan teman-teman jalan mulai iseng membawa buku bacaan, buku tulis, atau mainan untuk anak-anak di sekitar tempat traveling. Tapi jangan pernah membawakan bola mainan yang sudah ditiup ya. Sekalipun, tiket kita ada jatah bagasi sampai 100 kg, itu bola tetap enggak akan boleh masuk pesawat. Tekanan udara dalam pesawat bisa menyebabkan udara dalam bola berontak. Urusan bola ini pernah  menyebabkan kelompok saya nyaris ketinggalan pesawat ke Raja Ampat. Satu tas yang berisi alat snorkle dan bola plastik di tahan petugas saat detik-detik keberangkatan pesawat.

 

“Jadi oleh-oleh: yay or nay?”

Bebas! Sesuai kepercayaan masing-masing. Tapi mungkin oleh-oleh ini disesuaikan dengan kondisi kantong dan kapasitas bagasi. Jangan sampai mikirin orang segrambreng di dunia nyata, malah membuat kita alpa menikmati ‘me time’ saat perjalanan. Tapi jangan pula sampai benar-benar lupa sama orang-orang terkasih yang sudah menanti kepulangan kita. Demi kelancaran perijinan traveling berikutnya.

 

LOMBOK 2013__sum1

Oleh-oleh dari Desa Adat Sade, Lombok, NTB, 2013. (Photo by: Trias Kaka)

 

Tentang oleh-oleh ini menjadi pembuka celotehan Bubu Dita, Efi Epoy, dan Ria Mbakjaw untuk pada 2018. Kami punya cerita dan tips oleh-oleh versinya masing-masing. Oia, mulai 2018 ini #CelotehTukangJalan punya personel baru: Ury Ceria.

Semoga di 2018 ini dan dengan bertambahnya personel baru, #CelotehTukangJalan lebih konsisten ngeblog. Aminnnn… Selamat tahun baru saudara! Dan ingat, kalau ada yang sekoyong-konyong nanyain oleh-oleh berdalihlah dengan bilang:  “Backpacker pantang bawa oleh-oleh!”

Advertisements

#CelotehTukangJalan: Tuhan, tolong Hindarkan Hamba dari Miskin, Apalagi Karena Travelling

 

Sabtu masih terlalu pagi saat ponsel gw bergetar. Gw tengok sebentar untuk memastikan urgenty pesan yang menyelinap melalui aplikasi whatsup. Oh, ternyata hanya pesan di salah satu grup.  Jarang sekali gw merespon percakapan dalam grup tersebut. Apalagi saat akhir pekan. Rasanya gw jengah duluan oleh puluhan grup yang sudah berhimpitan di dalam ponsel compang-camping gw.  Grup kantor saja  jumlahnya sampai sepuluh, belum lagi berbagai grup perjalanan, grup hobi, grup pertemanan dari SD hingga Kuliah, dan perserikatan lainnya. Kadang, gw malas duluan jika notif chat  grup yang berbunyi.

Tapi Sabtu pagi itu, jari gw gatal untuk membuka pesan gambar yang dikirim seorang anggota grup. Gambar ini berupa screenshot akun twitter dimana menampilkan foto paspor dan KTP seorang perempuan. Dengan baju berkerah kuning, pas foto dalam paspor terlihat percaya diri. Pada lajur nama tertulis jelas FRANSISCA. Perempuan yang dipanggil Sispai ini menjadi viral di dunia maya. Bahkan, #BacotSispai sempat menjadi trending topic urutan kelima di Twitter Indonesia.

Di grup-grup perjalanan, aksi “pinjam-mangkir” Sispai menjadi pergunjingan hangat. Konon, hutang  Sispai ke para korbannya mencapai ratusan juta. Lagi-lagi konon, uang sebanyak itu digunakan untuk membiayai hobi travelling di dalam dan luar negeri. Mungkin percaya diri Sisspai bisa langsung kicep kalau membaca komen-komen sarkas para korban “pinjam-mangkirnya”.

Thai 2016__SUM1

 “Dulu satu temen gw ada nih yang model begini,” ketik gw menimpali chat grup.

Dan ternyata bukan cuma satu, melainkan ada dua model begini dan ceritanya cukup melegenda di dua grup. Jauh sebelum Sispai, temen gw sudah lebih dulu mempraktikan jurus “pinjam-mangkir”. Yang pertama seorang mas-mas dari grup foto. Yang kedua, seorang mbak-mbak dari grup perjalanan sharingcost. Angkanya bervariasi. Kalau teman gw si fotografer konon mencapai ratusan juta. Para korban bercerita peruntukannya sebagai penunjang gayahidup. Mungkin travelling salah satunya.

Sedangkan, si mbak traveler dari grup sharingcost kelasnya masih puluhan juta. Tapi, angka ini saja sudah bikin gerah banyak korbannya yang tidak lain teman sharingcost gw juga. Keperluannya konon untuk travelling, nonton konser, nongkrong, bayarin teman makan dan sebagainya yang cuma tuhan sama dia yang tahu. Awalnya korban ga saling tahu karena berlaku etika MEMBAHAS HUTANG TEMAN ADALAH TABU. Tapi ya ibarat bangkai, lama-lama tercium juga walau sudah ditutup kisah se-drama menyayat apapun. Semenyayat apa kisahnya?? Tunggu dibioskop-bioskop kesayangan anda.

Kelakuan minus teman foto dan teman jalan tersebut  bikin gw berpikir. Mungkin gw bisa saja terlilit dalam kondisi yang sama kalau gw konsisten di jalur foto sekaligus travelling. Fotografi adalah hobi teknologi dan teknologi itu enggak murah. Sejalan sama fotografi, travelling pun mengisap dompet ga sedikit. Semurah-murahnya budget yang berhasil gw susun untuk sebuah perjalanan, tetap saja itu uang, sobat.

“Tuhan, tolong hindarkan hambamu dari miskin, apalagi karena travelling.”

Namun, sudah semacam pola jahitan yang gw gunting dalam otak gw bahwa, semua yang mahal harus bisa menghasilkan. Jadi semahal-mahalnya kamera yang gw beli harus bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Dan Syukurnya bisa melebihi dari modal. Begitu pula dengan perjalanan. Gw emang belum bisa menghasilkan banyak pundi rupiah dari travelling. Tapi, gw banyak menghasilkan pengalaman yang ga setara sama nilai uang.

“Lu kapan berhenti Sob? Habis kemana lagi? Ya elah, Sob…” komentar teman yang mulai gusar sama travelling gw yang sudah kaya ke supermarket buat belanja bulanan.

Agak susah buat gw mendeskripsikan travelling bukan onggokan hobi. Mustahil juga untuk dijelaskan dengan frame kepala yang beda. Travelling gw ga bisa diukur sama uang. Kalaupun gw kadang-kadang opentrip, itu karena ya gw realistis. Jangan gengsi atau takut buat opentrip kala keuangan tidak sejalan dengan hasrat bertualang. Asal jujur kalau sedang opentrip, sekedar jadi guide, atau sharingcost. Daripada ngutang sana-sini demi travelling dan mangkir pas ditagih?

Makanya opentrip gw masih ada dan tiada, tergantung angin dalam dompet. Kalau gw lagi giroh-girohnya opentrip, berarti gw lagi nabung dikit-dikit untuk perjalanan yang lebih besar. Sekalian nambah follower dan nyeleksi teman-teman yang sekiranya asik buat perjalanan berikutnya. Kalau seru dan ga baperan, biasanya bakal gw ajak kalau ada rencana sharecost trip. Sharecost ini semurni-murninya sharing dari biaya, senang, dan susah. Termasuk dalam menyusunan itinerary dan menghitung budget.

 “Gw minta itin-nya dulu dan kirimin budget-nya dong!”

Model begini masih ada 1-2, yang mau murah tapi ga mau dapat tugas. Kalau mau terima beres, mendingan ikut opentrip mas. Cuma kumpulin budgetnya dan duduk manis. Terkait budget travelling, gw ada tips travelling bebas dari hutang-piutang. Sebenarnya ini tips bukan rahasia lagi. Tapi bolehlah diingatkan kembali. Ini dia:

  1. Rencananakan perjalanan dan perhitungan dengan matang untuk meminimalisir overbudget
  2. Booking berbagai akomodasi jauh-jauh hari karena diskon biasanya bertebaran
  3. Disarankan untuk travelling dalam grup untuk menekan budget. Bisa ikut opentrip atau sharingcost trip
  4. Kalau perhitungan budget masih melebihi kondisi uang, ditahan dulu sampai dananya terkumpul. Tempat-tempat kece itu masih bisa menunggu dan tiket promo itu berulang. So calm…
  5. Hindari semaksimal mungkin berhutang untuk travelling, apalagi kalau mangkir pas ditagih. Uangnya ga seberapa dibanding aib seumur hidup, apalagi sampai jadi viral
  6. Untuk teman-teman yang “ga tegaan” kalau dengar cerita menyayat, sebaiknya stalking akun sosmed yang bersangkutan dan cek ke teman lainnya. Jangan sampai kita lagi ngendon di kantor, oknumnya malah lagi foto-foto di Jepang
  7. Untuk teman yang tipenya ikhlasan bisa dipertimbangkan bahwa dulu mungkin debitur mangkir ini berawal meminjam uang ke teman yang ikhlasan, sebelum korbannya menjamur dengan rupiah yang makin ga masuk akal
  8. Terkhusus kepada debitur mangkir please don’t be silly.. Itu teman sis, bukan pohon duit

Sispai dan dua teman gw sebenarnya bukan makhluk langka jaman sekarang. Gw yakin mereka bertebaran di sekitar kita. Dan mungkin, kalian salah satu korbannya. Dari kedekatan ini, #CelotehTukangJalan edisi ini mengambil korelasi antara travelling, budget dan hutang. Ini Efi, Dita, dan Ria dengan tips dan pengalamannya masing-masing. Selamat membaca, terus travelling, dan jangan mangkir bo… Salam Sumurdiladang!

 

#CelotehTukangJalan: Dear My Travelmate…

Parangkusumo kliwon SUM10

Parangkusumo, Jogjakarta, 8 Agustus 2015. (Photo by abang ojek)

“Ta, Ta, Ta… potoin dong”

“Ta, gw mau foto di sini”

“Ta… mau difoto kaya gini”

“Nitaaaaaa… gw mau juga dong”

“Yah gw merem, Nit. Ulang ulang”

Nama gw semacam mantra buat teman-teman saat Travelling kemanapun dan kapanpun. Dari dinginnya gunung, panasnya padang pasir, sampe di dalem air. Sebut nama gw tiga kali, minimal 3 jepretan kece bisa buat dipejeng di akun sosmed. Jadi kebayang, bagaimana kalau gw jalan tanpa si Made, sapaan akrab kamera yang udah nemenin gw haral-melintang di Indonesia dan Asean. Teman-teman jalan gw mungkin bakal garing. Tanpa Made, gw sendiri pun pasti hampa, nelangsa, sengsara, lara, dan nestapa.

Made jadi teman travelling paling fardu’ain. Secinta-cintanya gw sama laut, alat snorkel masih rela gw tinggal. Iyalah…. Wong gw kan mau ke gunung, ya kali pake kaki katak. Tapi kalau kamera itu harus banget bergantung di pundak  kiri gw. Jelas bukan mau gaya-gayaan biar dibilang mbak fotografer kece. Percayalah… Made sudah terlalu berat untuk dibuat gaya. Jadi plizzz jangan jadikan gw sandaran. Karena pada hakekatnya yang suka nyender itu kalau ga sapu, ya sikat WC. #eh  hahahaha

Ya namanya orang yang ciptaan Tuhan aja ada batesnya, apalagi kamera yang ciptaan orang. Made  biar strong-nya minta ampun, ga bisa dibawa masuk ke air. Sekalipun “baju astronot” Made sudah ada, harganya ga masuk akal (baca: kantong). Lensa ala termosnya bu Joko aja belum kebeli-beli. Tapi gw harus banget nambah teman travelling baru. #AlasanJajanKamera hore-hore. Tapi ini bukan semacam tindak-tanduk perselingkuhan apalagi perpoliandrian. Made membutuhkan teman subsitusi untuk gw ngubang di air. Sayangnya gw ke Made jangan ditanya, tapi sayang kan harus realistis yah #BukanBegituBukan. Kefoto enggak, mati iyah.

Kamera underwater masih atopiloh harganya. Jadi, gw melirik sebongkah camera action. Udah kecil, ringkes, enteng, bisa selfie, dan langsung upload. Actioncame semacam solusi cerdas solotraveler dan rameantraveller. Gw beri nama Gota, akronim dari Gopro Nita. Sejauh gw travelling, Made dan Gota cukup akur membekukan segala momen travelling gw dan ekspresi paling absurb temen-temen jalan gw. Ayo ngaku yang pernah selfie continue sampe lebih dari 13 jepretan di Gota? Don’t worry, muka-muka absrub lu pada enggak akan gw hapus hahaha #DevilWearsGopro

Kadang orang tahunya cuma hasil fotonya atau minta difoto. Belum tahu bagaimana foto itu dihasilkan. Prosesnya berawal dari sini: kamera segede gaban, printilan kamera yg imut-imut sampe amit-amit, tripod kiloan. Semuanya terangkum dalam tas 2-3 gembolan. Yang ditampilkan foto di atas belum semua. Lensa termosnya bu joko bu joko (tok-tok) belum masuk. Dan masih banyak lagi. Semua ini demi memuaskan diri di edisi khusus wisata majalah Tempo tahun ini yang bertajuk: danau-danau ter-… di indonesia. Jadi, mari sisingkan lengan rashguard dan let's go to Derawan! #DanaupalingIndonesia #derawan #specialedition #tempo #travellingindonesia #wonderfulindonesia #travelblog #instagood #travelingram #gopro @bikiniline_id #domegopro #canon #FujifilmXQ2 #sirui #womanoutdoor @moerat #pesonaindonesia #snorkeling #beach #ocean #island salam #sumurdiladang

A post shared by nita kelana (@sumurdiladang) on

TAPI, TAHUKAH KAMU?

Wajah-wajah cantik nan kece kalian dan pemandangan alam aduhai tidak ujuk-ujuk ada. Jauh sebelum itu, ada beronggok-onggok peralatan yang harus gw siapin. Dari tripod berkilo-kilo, dome selebar jidad Klingon, batere, flash, kabel roll, casing underwater, hingga mounting sekecil upil dinosaurus. Dan semuanya itu harus masuk ke dalam tas yang sudah sesek dengan baju, snorkel, fin, masker, cemilan, dan hati gw. Kebayang beratnya kan? Belom lagi kalau medan perjalanannya yang  bikin betis rada kering. Tapi ya gw ikhlas aja ngegembol itu semua demi foto-foto yang akhirnya bikin senyum sendiri.

Yang bikin gw agak gimana-gimana, kalau tiba-tiba ada yang nitip barangnya ke tas gw. Atau dengan sarkas nagih oleh-oleh ke gw yang baru balik. Coba mari kita membayangkan sejenak. Punggung bopong keril atau backpack. Tangan kiri selempang gembolan kamera. Kanan  biasanya pegang HP. Tega kali gw masih harus nenteng oleh-oleh #DemiApah

“Backpacker pantang bawa oleh-oleh!” Nita beralasan kemudian.

Tapi masih aja ada loh malaikat-malaikat tak bersayap tapi beransel ini  yang menawarkan bawain barang gw. Minimal tripod aja. hahaha.. Makasih ya teman-teman yang baik hati dan tidak sombong  walau kadang suka bohong. Kebaikanmu mencerahkan lensaku. Terlepas dari segala gembolan itu, pada dasarnya gw memang senang  memotret apapun objek. Walau kadang kalian ceriwis panggil-panggil nama aku, tapi kalau kalian ga manggil, aku yang manggil karena butuh objek deritanya. Hahahaha…

Di antara kawan-kawan #CelotehTukangJalan mungkin baru Efi yang perah travelling bareng gw dan heran kenapa gw demen mengakomodir kebutuhan narsis teman-teman jalan gw. Menurut dia, itu agak aneh karena dia terbiasa dengan patnernya yang palig emoh diminta tolong fotoin. Bagi gw, itu kesenangan: gw seneng foto orang dan orang seneng sama hasil fotonya. Hehe… Maka dari itu, kamera bukan sekedar perlengkapan travelling yang kudu dibawa, melainkan semacam travelmate.

Efi sendiri punya cerita tentang dia dan benda traveling wajibnya. Beda lagi bagi Bubu Dita dan Ria Mbakjaw yang sudah punya jagoan-jagoan kecil. Kayanya mereka bukan cuma satu benda yang penting di bawa pas travelling, tapi segudang. Ini dia link ceritanya:

  • Efi yang bongkar muat isi tasnya
  • Dita yang punya tips packing kece untuk travelling sama balitanya
  • Ria MbakJaw yang tips untuk traveller pelupa alias ada aja yang ketinggalan

Selamat sore Jakarta. Mari berkelana lagi dan hitung mundur…

#CelotehTukangJalan : Perjalanan Paling Epic Failed-nya

Biak2015__SUM5

Beberapa tahun lalu. Tepatnya enggak akan gw sebut. Sama seperti tahun sebelumnya. Gw masih merampungkan beberapa bucketlist travelling gw. Walau “keranjang” yang gw maksud ini ga pernah ditulis rapih dalam poin-poin. Semuanya menggantung 7 cm depat di atas kepala gw. Mungkin kalau gw ngaca, itu awan mimpi udah kaya balon gas peresmian gedung baru. Saking banyaknya, kalau awan itu berwujud fisik, gw dah bisa kebawa terbang sampe ke bulan kali ya.

Kalau emang benaran bisa ke bulan, ini bakal jadi travelling paling epic. Haha.. Tapi nyatanya gw masih aja di bumi. Dan sejauh ini, semua list travelling gw di bumi masih apic (baca: epic). Ga semua berjalan sesuai rencana, namanya juga travelling. Ga semua sesuai ekspektasi, dan itu menjadi bagian seru dari tiap perjalanan.  Makanya saat nyonya-nyonya #CelotehTukangJalan memutuskan tema tentang “epic fail trip” untuk sesi ke-3, gw rada mikir juga.

Gw coba searching dalam memori perjalanan gw dengan kata kunci “epic fail travelling” . Hasilnya “the search key was not found in any record”. Seberapa melencengnya sebuah kegiatan melancong gw, akhirnya selalu bikin seneng. Alias, yang ga asik-asik biasanya nguap gitu aja dan yang ngendap yang seru-seru. Dulu seorang senior di kantor yang juga penulis handal pernah nanya. Kurang lebih gini bunyinya:

“Ta,  dari semua perjalanan lu, tempat atau kota mana yang  paling ga banget menurut lu?”  

Gw mikir lama. Dan bingung kasih jawabannya. Bukan lantaran gw malu menjawab si penulis handal ini. Tapi, gw beneran ga tau. Semua perjalanan itu keren dengan ceritanya masing-masing.

“Apa ya, Mas. Bingung gw. Abisnya semuanya kayanya seru,” jawab gw sambil mesem-mesem.

Menurut dia, seharusnya emang begitulah traveller. Ga men-judge sebuah lokasi baik atau buruk. Karena, semua tempat kan punya budaya masing-masing. Ga bisa diukur dengan frame kepala kita yang udah dikotakan sama tempat asal kita. Kemudian, senior saya ini mengkritik penulis buku perjalanan yang baru dia baca, dimana judgment lokasi kerap dilakukan penulis. Okelah bertambah petengetahuan gw tentang etika perjalanan.

Jadi, mungkin edisi 3 #CelotehTukangJalan ini gw ga akan bahas tentang lokasi yang epic failed-nya. Pengalaman terburuk gw terkait travelling justru bukan saat travelling berlangsung. Justru terjadi beberapa hari atau seminggu setelahnya.  Lagi-lagi bukan tentang lokasi, melainkan tentang teman perjalanan. Gw ga akan sebut nama sih dengan alasan etika juga. Okeh mari kita sejenak masuk mesin waktu menuju masa yang gw sebut sebagai “beberapa tahun lalu”.

Masih inget banget beberapa hari setelah kepulangan gw dari menunaikan salah satu list di bucket, gw ketemu dengan seorang kawan yang enggak ikutan jalan-jalan. Blablabla… sampailah pada pertanyaan:

“Gimana perjalanan lu kemarin?”

“Seru! He he he..”

“Oia?”

Gw pun menceritakan singkat keseruannya. Kawan gw ini tau banget gimana kondisi gw beberapa bulan belakangan.  Pada era “beberapa tahun lalu” itu, gw mang lagi diinvasi besar-besaran dari segala penjuru sektor kehidupan. Ibaratnya, gw lagi diuji sama yang punya dunia apakah gw ini manusia apa ikan. Jadi, gw anggap pertanyaan ini semacam atensi kawan gw atas kondisi gw waktu itu. Sampai mulailah pertanyaannya rada menyempit sampai menyebut nama makanan yang gw ga kenal.

Hahaha… untuk teman yang sering jalan sama gw mungkin tau cerita kericuhan macam apa yang ditimbulkan makanan aneh ini. Yang wujudnya aja belum pernah gw lihat. Konon, gara-gara makanan ini gw bikin rusuh perjalanan kita waktu itu. Konon gw merusak acara travelling waktu itu. Konon gw maksain buru-buru bali ke bandara daripada nyobain kuliner khas lokal. Semua ini gw tulis dengan awalan “konon” karena emang ga ada kejadiannya. Sampai gw tanya ke teman perjalanan gw yang lain apakah gw lupa satu momen. Barangkali karena “beberapa tahun lalu” saya sedang depresi dan rada skip.

Teman-teman perjalanan gw yang lain itu pun menggeleng dan semua ga tau makanan apa. So, di sini ternyata ada satu temen jalan yang rada delusional dan ngarang-ngarang cerita ke luar dari kelompok perjalanan kita waktu itu. Yang sempat bikin gw membuncah jelas bukan perkara makanan aneh ini. Cerita makanan ini cuma satu dari sekian banyak cerita membualnya. Motifnya masih ga paham gw sampe sekarang. Mungkin mang hobinya kali karena beberapa temannya oknum ini pernah tertimpa hal serupa. Baiklah…

Awalnya, saya agak sanksi untuk melakukan perjalanan dengan formasi 3 orang. Dari mulai kekhawatiran pembengkakan biaya sharecost hingga terbatasnya pilihan hostel dengan kamar triple. Namun, semua kekawatiran saya terpatahkan saat saya dan dua kawan saya @titatulititano @liyongyong melakukan perjalanan Thai lalu. Formasi trio ini malah banyak sisi menguntungkannya. Misal, kami mendapat kamar triple yang lebih murah dari kamar dua tamu. Dan yang paling menyenangkan adalah memiliki rekan perjalanan yang saling ngisi walau tidak selalu sepaham. Thanks gals untuk trip Thai yang seru ini. Selamat bertemu di belahan bumi lainnya #friendtime #backpacking #SumurdiladangGoToThai #snorkeling #surin #skyporn #wisatathailand #GoproHero4 salam #Sumurdiladang

A post shared by nita kelana (@sumurdiladang) on

Dari kejadian itu, gw akhirnya belajar lebih selektif memilih teman jalan. Khususnya, perjalanan yang masuk kategori  “dream come true”. Karena perjalanan kan bukan cuma bicara tentang tujuan mbak-bro. Sama kaya hidup, perjalanan itu bercerita tentang berencana, proses sampai ketujuan, dan cerita pas kita sudah kembali ke habitat asal. Sekiranya penting memilih teman jalan dengan gaya jalan yang sama. Seandainya emang tipenya beda, setidaknya bisa saling paham dan berjiwa raksasa sama kemauan masing-masing. Misi travelling gw kan mencari kawan, bukan lawan. Apalagi dunia inisempit, jadi biarkan diri kita yang meluas.

Tulisan ini semoga ga gibah. Hahaha.. Nyonya-nyonya  #CelotehTukangJalan lain juga punya cerita yang ga kalah  failed-nya.

Cerita gw mungkin rada beda sama ketiga kawan seceloteh dan sebangsa ini. Tapi ini emang trip yang paling epic failed-nya. Walau terkuak justru setelah kita balik ke habitat asal. Kalau inget-inget gw masih aja bingung. Intinya mah, selektif pilih teman jalan. Alangkah lebih arifnya kalau menyampakain apa yang ada di kepala. Biar semua urusan yang menohok selesai di lokasi trip.

Tulisan ini gw dedikasikan buat kawan-kawan perjalanan gw yang pada yahud. Thanks ya masih pada jadi patner perjalanan yang asik. Dan buat teman-teman asik yang gw kenal saat solotravelling. Semoga kebaikan kalian bisa gw tularkan kepada orang lain yang gw temui saat travelling. Mengutip statement seorang pengajar kelas menulis:

“Karma itu ada. Tapi Darma harus segera dibayar.”

Saya Nge-Blog, Biar Ga Goblog

sumurdiladang-2016bestnine

Obrolan ringan tentang masa depan, selalu menjadi topik menarik di antara kami para penghuni Jatinangor saat itu. Menyenangkan sekaligus bikin galau. Istilah keren jaman itu adalah disorientasi. Dinding-dinding kosan yang lembab jadi saksi obrolan remeh-temeh kami. Kami di sini bukan bercerita tentang masa depan dua orang atau jamak. Melainkan, masa depan tunggal. Jalan hidup macam apa yang akan saya, dia, dan kamu jalani selepas melepas status mahasiswa nanti.

“Nanti, lu mau ngapain?” Tanya seorang kawan.

Pertanyaan pendek itu langsung meniup awan-awan mimpi yang sudah lama ngapung di atas kepala saya. Senyum simpul melengkung di sudut –sudut bibir. Saya itu pemimpi. Tapi tidak pandai merealisasikan mimpi yang saya ciptakan. Awan-awan yang barusan melayang seketika terbang tanpa daya. Otak saya pun rasanya sepadat jalanan Jakarta jelang buka puasa. Padat merayap.

“Ga tau. Pengennya moto dan travelling. Hahaha.. enak bener ya,” jawab saya sambil terkekeh.

Tahun-tahun berlalu, status kami pun berganti rupa dari mahasiswa menjadi lebah-lebah ibukota. Tapi pertanyaan masih sama. Jawaban pun masih sama. Saya itu pemimpi. Tapi ternyata saya cukup mampu menjada konsistensi mimpi. Walau realisasinya masih belum nyata.  Karena selain pemimpi, saya juga makhluk yang ga percaya diri.

Mereka bilang saya penggila travelling dan cukup mumpuni di fotografi. Kadang, saya merasa itu bukan point kuat untuk saya unjuk gigi. Lagian, siapa sih yang ga bisa travelling hari gini? Dan, siapa sih ga bisa fotografi jaman pintar begini? Siapa yang ga bisa nulis perjalanannya abad gini?

“Gw!” Acung jari tinggi-tinggi untuk pertanyaan retoris ke-tiga.

Tergodok dalam panci berlabel jurusan jurnalistik di dapur ilmu komunikasi lantas tidak membuat saya bertalenta dalam mengurai kata.  Akhirnya, perjalan-jalanan saya kebanjiran foto tanpa cerita yang mengaitkannya. Padahal, banyak cerita dibalik satu bingkai citra. Sekali lagi, saya itu pemimpi.  Tapi berbanding terbalik dengan kemampuan mewujudkannya. Yang saya tahu cuma tentang konsistensi. Berkali-kali saya membuat ruang untuk merangsang saya bermain kata. Dari mulai membuat cerita singkat dalam instagram @sumurdiladang, menulis berbagai ulasan di tripadvisor, meluncurkan photoblog nita kelana, hingga nge-blog bareng kawan-kawan senasib se-Jatinangor.

“Pakai hastagnya #CelotehTukangJalan,” usul si pelopor.

Inilah posting pertama nitakelana.wordpress.com bersama:

Edisi perdana #CelotehTukangJalan bertema “kenapa nge-blog”. Temanya sederhana, cuma lumayan bikin saya bertanya-tanya.  Selamat membaca dan berkelana. Salam Sumurdiladang!

“Kalau ada umur yang panjang, boleh kita menumpang mandi. Kalau ada @sumurdiladang, boleh kita berjumpa lagi”