Mutiara Hijau Teluk Bintuni

Papua Barat, 1 April 2019–Pesawat Susi Air jenis caravan 208B sedikit bergetar saat baling-baling pesawat menembus gerombolan awan. Cuaca memang sedang mendung pagi itu. Jantung saya rasanya ikut bergetar. Ini pengalaman terbang pertama saya dengan pesawat selebar satu setengah rentangan tangan. Namun, tidak banyak pilihan transportasi ke Teluk Bintuni, Papua Barat. Melalui darat, perjalanan bisa memakan waktu delapan jam dengan medan tikungan tajam dan berlumpur. Jalur udara menjadi akses tercepat memasuki salah satu paru-paru terbesar di dunia: hutan mangrove di Cagar Alam Teluk Bintuni, Papua Barat.

Papua Barat memiliki hutan mangrove paling luas di Indonesia. Angkanya mencapai 438.252 hektar dan sekitar 52%-nya tersebar di pesisir Teluk Bintuni. Oleh karenanya, Teluk Bintuni tidak hanya menjadi pemasok gas alam cair terbesar di Indonesia, melainkan juga penyumbang oksigen yang signifikan bagi kehidupan di bumi. Hutan Mangrove memiliki daya serap emisi karbondioksida yang sangat baik. Hasil penelitian Center for International Forestry Research (CIFOR) menyebutkan hutan mangrove Indonesia menyimpan karbon lima kali lebih banyak per hektare dibanding hutan tropis dataran tinggi. Krusialnya keberadaan hutan mangrove tersebut mendorong Teluk Bintuni masuk ke dalam Kawasan Strategis Nasional (KSN). 

Teluk Bintuni, Papua

Bandara Steenkool di Kota Bintuni, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Foto: Nita Dian/TEMPO

Setelah satu jam perjalanan udara dari Bandara Domine Eduard Osok Sorong, saya dan sebelas penumpang lainnya mendarat di Bandara Steenkool, kota Bintuni. Hanya pesawat kami yang parkir di samping landasan pacu sepanjang 830 x 23 m. Sepi sekali bandara ibukota Kabupaten Teluk Bintuni ini. Dalam sepekan, Steenkool hanya melayani rute penerbangan komersil ke Sorong, Manokwari, Fak-fak, dan Moskona. Itu pun tidak setiap hari. Awalnya saya kira, Steenkool merupakan nama pahlawan seperti Domine Eduard Osok. “Bintuni dulu bernama Steenkool. Nama pemberian Belanda,” terang seorang warga. Jika diartikan, Steenkool berarti batubara . 

Kini, Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni ingin memperkenalkan sisi lain Teluk Bintuni yang kaya mutiara hijaunya—julukan hutan mangrove. Melalui pembangunan berbasis konservasi alam, hutan mangrove teluk Bintuni diharapkan terjaga serta memberi nilai ekonomi langsung bagi masyarakat adat. Kawasan konservasi Teluk Bintuni terbagi dalam tiga zona: inti, penyangga, dan transisi. Di zona inti dilarang adanya aktivitas. Zona penyangga aktivitas diperbolehkan tapi hanya yang bersifat penelitian dan pengembangan. Sedangkan untuk pengembangan ekowisata akan dilakukan di zona transisi, termasuk aktivitas masyarakat adat. 

“1,4 hektare akan menjadi ekowisata, khusus di Bintuni saja,” ucap Kepala Bagian Administrasi Perekonomian Kabupaten Bintuni, Nicolaus Lettungun. Visinya, menjadikan Teluk Bintuni sebagai ekowisata dengan keterlibatan masyarakat adat terbesar di dunia. Terdapat tujuh suku di Teluk Bintuni, antara lain: Kuri, Wamesa, Sebyar, Irarutu, Sumuri, Soub, dan Moskona. Masyarakat adat akan diedukasi bagaimana menjaga hutan disekelilingnya, sekaligus terampil mengolah mangrove yang tadinya dianggap tidak bermanfaat menjadi produk bernilai ekonomi seperti buah mangrove.

Teluk Bintuni, Papua

Muara penghubung Bintuni dengan Babo. Foto: Nita Dian/TEMPO

Di Bintuni, masyarakat mengolah buah mangi-mangi—mangrove dalam bahasa lokal—menjadi sirup dan kue. Selain manis dan menyegarkan, sirup buah mangrove konon baik untuk anemia. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukan kandungan karbohidrat dan kalori dalam buah mangrove lebih tinggi dari beras. Jadi jika dikembangkan lebih lanjut, buah mangrove bisa menjadi alternatif pangan. 

Bukan hanya bagian mangrove saja yang bernilai ekonomi. Masyarakat Bintuni juga mengolah kepiting dan udang yang hidup di sekitar mangrove menjadi abon, baso, dan cemilan berupa stick dan tortila. Favorit saya adalah dua olahan yang disebutkan terakhir, apalagi buatan tangan Ida padwa .Walau diolah dengan cara sederhana, cemilan buatan tangan Mama Ida—biasa ia dipanggil—tak kalah enak dari kudapan bermerk. Tortilla-nya memiliki rasa kepiting yang kuat, tipis, dan super renyah. Sekantong kenikmatan ini hanya Rp 15 ribu. Sayang, wanita berusia 38 tahun ini hanya membuat tortilla kepiting berdasarkan pesanan untuk dikirim ke Manokwari. Jadi hanya beberapa kantong sisa stock stick udang yang bisa dibawa sebagai buah tangan saat meninggalkan dapur Mama Ida.

Konsep ekowisata dengan pemberdayaan masyarakat adat juga mulai dikembangankan di distrik Babo yang masih satu kabupaten dengan Bintuni. Melalui udara, Babo digapai dengan penerbangan komersil rute Sorong dan Manokwari. Dari Bintuni, akses ke Babo lebih efektif melalui sungai. Namun sekitar bulan Februari, Agustus, dan Desember, jalur sungai malah beresiko. Pada bulan tersebut, angin cukup kencang dan sungai lebih berombak, khususnya di kawasan pertemuan arus. Menyeberang dengan kapal disarankan pada pagi hari saat sungai masih teduh.

Teluk Bintuni, Papua

Tortilla kepiting buatan Mama Ida. Foto: Nita Dian/TEMPO

Sebelum pukul 10 pagi, saya sudah tiba di pelabuhan Kampung Lama Bintuni. Di ujung dermaga, beberapa kapal sedang bersandar, termasuk tiga water taxi. Awal April saat saya datang, transpotasi publik karya anak negeri ini belum beroperasi. Baru 11 April, moda air penghubung Bintuni ke Babo, Aranday, dan Tufoi ini diluncurkan. “Bus AMB (Angkutan Masyarakat Bintuni) akan terhubung dengan water taxi,” jelas Nico. 

Saya menumpang kapal milik Pemda yang parkir di sebelah water taxi. Teriknya matahari Papua redam oleh semilir angin hutan mangrove yang mengelilingi jalur menuju Babo. Walau jelang siang, sungai masih teduh. Kapal cepat pun membelah mulus sungai berwarna hijau kecoklatan. Perjalanan Bintuni ke Babo sekitar satu jam. Pelabuhan Babo cukup ramai oleh rombongan pekerja kilang gas alam cair yang bersiap menyeberang. Sambil menunggu mobil sewaan untuk mengantar keliling Babo, saya beristirahat di sebuah warung makan dekat pelabuhan. 

Saya berharap menemukan kepiting di antara menu yang disajikan. Tapi ah… hanya ada ikan, tumis sayur, gorengan tempe dan sambal. Sudah sejak kemarin, saya terngiang-ngiang kepiting Babo yang tersohor. Babo merupakan daerah penghasil kepiting. Banyak masyarakat Babo yang menjadi petani kepiting. Salah satunya, Salma Tatuta. Saban pagi ia menyusuri hutan mangrove untuk menyebar kerambat, alat tangkap kepiting tradisonal. “Kepiting banyak (saat) air naik, pagi,” ujar Rakibba Fiawe, petani kepiting lainnya. Jelang sore, Mama Salma kembali ke hutan untuk mengambil kerambat yang sudah terisi kepiting. 

Teluk Bintuni, Papua

Mama Salma mempraktikan menangkap udang dengan kerambat di Babo, Teluk Bintuni. Foto: Nita Dian/TEMPO

Mama Salma hapal betul seluk-beluk hutan mangrove Babo. Ia kerap kali menyambi sebagai pemandu jika ada wisatawan berkunjung ke Babo. Dengan perahu motornya, wanita berusia 65 tahun ini menemani saya menyusuri hutan mangrove Babo. Sayang, kami terlalu sore memasuki mulut hutan mangrove. Saat air naik, ombak lumayan kencang menggoyang-goyang perahu kecil Mama Salma. Air payau membasahi muka dan badan. Untunglah kamera dan handphone sudah aman dalam drybag. Juru kemudi putar haluan mencari tepian hutan mangrove yang lebih tenang. 

Di antara akar mangrove, Mama Salma memperkenalkan ‘taman bermainnya’. Sementara saya berdiri di salah satu batang tumbang dengan menahan serangan agas. Ganas betul agas-agas di hutan mangrove Babo. Lotion anti-nyamuk yang saya oleskan tidak bekerja optimal. Saya tahan untuk menggaruk karena bakal menambah efek panas. Mama Salam seperti tidak tergubris agas saat mempraktikan cara menangkap kepiting dengan kerambat. 

Sejak kecil, Mama Salam ikut menangkap kepiting. Namun tangkapan kepitingnya kian berkurang. Dulu, ia bisa mendapat 50 kepiting dalam sehari. Sekarang, paling hanya 15. Kepiting yang didapatnya akan dijual ke pengadah Bugis yang kemudian dijual lagi ke Jakarta. Sekilo kepiting dijual Rp 80 ribu untuk jenis super dan Rp 17 ribu untuk jenis ABS. 

Teluk Bintuni, Papua

Sore di jetty, Babo. Foto: Nita Dian/TEMPO

Untuk meningkatkan nilai ekonomi kepiting, mama-mama Babo tidak lagi hanya menjual kepiting segar. Mereka yang tergabung dalam kelompok Kereru mengolah kepiting menjadi abon. Namun sama seperti di Bintuni, produksi abon Babo masih berdasarkan pesanan di Manokwari. Selain Kareru, ada empat kelompok masyarakat adat lagi yang dibentuk untuk menunjang perekonomian berbasis konservasi hutan Mangrove, yakni: Magote, Maetefa, Neromote, dan Orose. 

Magote yang dalam bahasa lokal berarti kepiting ini merupakan kelompok petani kepiting. Kelompok Maetefa bergerak dalam ekowisata seperti yang dilakukan Mama Salma. Sedangkan pendampingan wisata dan kerajinan mangrove diurus oleh kelompok Neromote. Untuk pelestarian hutan mangrove, kelompok Orose memegang peranan penting. Kelompok dengan anggota enam mama ini bertugas menanam bibit mangrove. Sejak awal tahun ini, sekitar 300 bibit ditanam kelompok Orose.

Hutan mangrove Indonesia memang masih salah satu yang terluas. Ironis, Indonesia pula menjadi penyumbang kerusakan mangrove di dunia. Setiap tahunnya, sekitar 1,81 juta hektare hutan mangrove di Indonesia hilang dan rusak akibat alih fungsi lahan, hama dan penyakit, pencemaran, dan budi daya tidak berkelanjutan. Menurut data Pemerintah Daerah Kapubaten Teluk Bintuni, 8.553 hektare hutan mangrove Teluk Bintuni dalam kondisi rusak. Menjaga ekosistem hutan mangrove berarti menambah panjang usia bumi yang diperingati setiap 22 April. 

Teluk Bintuni, Papua

Kepiting bumbu manis pedas buatan Bude. Foto: Nita Dian/TEMPO

Pemilik homestay segera menyajikan kepiting bumbu manis pedas untuk makan malam tamunya yang sudah kelaparan. Bunyi kulit kepiting yang dipecahkan dan obrolan ringan memenuhi ruang tengah. Perut kenyang dan derai hujan menutup malam saya di Babo, Teluk Bintuni.

Ransel:

  • Hotel Kabira di Bintuni Rp 300 ribu/malam untuk kamar AC dan kamar mandi malam, tanpa sarapan
  • Homestay di Babo Rp 900 ribu/malam, termasuk makan
  • Sewa mobil di Bintuni Rp 700 ribu termasuk supir, belum bensin
  • Bus AMB (Angkutan Masyarakat Bintuni) jauh-dekat Rp 10 ribu 
  • Minum obat antimalaria sebelum berangkat untuk pencegahan

 

*)Tulisan ini dimuat di Koran Tempo Akhir Pekan, 20-21 April 2019.