#CelotehTukangJalan: Nita & Lidahnya

“Hidup itu kaya makanan. Dalam satu piring ini nih, lu bisa rasain pahit sepahit-pahitnya. Atau seasin-asinnya, kalau lu makannya sendiri-sendiri” Aruna & Lidahnya, 2018.

Tapi… #CelotehTukangJalan edisi Maret 2019 enggak akan ngembahas tentang hidup. Keduanya terlalu berat untuk badan kami yang memberat ini (sambil lirik timbangan). Justru saya, Efi (raunround.wordpress.com), dan Bubu Dita (www.rumikasjourney.com) mau nyelotehin sesuatu yang menyebabkan hidup. Sesuatu yang kalau kekurangan bikin baper, tapi juga jadi bego sekaligus kalau kebanyakan. Alias: Laper, baper. Kenyang, bego. Yessss… Ini tentang: M – A – K – A – N

Aceh 2014

Aceh, 4 Desember 2014. Foto: @sumurdiladang/ Nita Dian

Sebagai jenis spesies bumi yang doyan makan dan jalan, saya selalu nyempilin daftar makanan lokal yang patut dicoba di bawah itinerary perjalanan. Walau seringnya, daftar tersebut enggak sampai berwujud di atas meja makan. Alias, kepentok budget sok hemat perjalanan. Tapi enggak sedikit juga, urusan makan malah yang menjadi misi utama perjalanan. Misal misi #MakanMiAcehDiAceh.

 

Banda Aceh, 2014

“Slep!” Sekali tebas, terbelah tubuh si kepiting di atas talenan kayu usang. Tak tercium bau amis dari jasad makhluk seukuran telapak tangan tersebut. Racikan bumbu merah dalam ember besar berwarna senada lebih dulu menguasai reseptor indera penciuman. Ditambah lagi, aroma semerbak acar bawang di sebelahnya. Mulut saya langsung berair. Dan semakin cair saat pelayan berambut pomade mengantar mi aceh di Aceh pertama saya pada 4 Desember 2014.

Aceh 2014

Aceh, 4 Desember 2014. Foto: @sumurdiladang/ Nita Dian

Mi kuning, kuah merah, cabai rawit bulat, acar ungu terang, dan cangkang kepiting dalam pose menantang. Semarak betul santap siang di depan saya. Tapi, tolong sedikit bersabar. Satu ritual wajib sebelum makan mesti saya tunaikan, yakni memotret sesuai dengan kecepatan dan keyakinan masing-masing. Memotret dimulai. Memotret selesai. Amin.

Segera saya seruput kuah merah hangat dengan cacahan daging kepiting. Ah, segar! Hanya satu kata itu yang bisa mewakili seluruh sensasi di lidah. Memang beda, mengecap makanan khas di daerah ia dilahirkan. Semuanya terasa pas: pedasnya, gurihnya dan asamnya berpadu dalam suasana tanah rencong. Walau udara lumayan panas hari itu, makan mi rebus kepiting langsung di Aceh, enggak pernah salah. Satu-satunya yang sedikit ‘salah’ adalah acar bawang-cabai yang kurang berair.

Padahal, kebiasaan saya membanjur mi dengan air acar. Mungkin bagi warga Aceh, habit saya tersebut agak barbar. Namun tanpa air acar, piring ini pun menampakan dasar putihnya. Alias, penuh sekali perut saya. Saking kenyangnya, saya lupa mencatat nama RM Aceh yang menjadi TKP pelaksanaan misi. Inilah kondisi yang disebut “Laper, baper. Kenyang, bego.”

BLOG_#MiAcehDiAceh_2014_7

Aceh, 4 Desember 2014. Foto: @sumurdiladang/ Nita Dian

RM Aceh ini sebenarnya rekomendasi dari supir mobil sewaan. Awalnya, misi akan dilakukan di Mie Razali, salah satu restoran terkenal di jalan T Panglima Polem. Namun, supir menyarankan tempat makan yang menurutnya lebih otentik dan murah-meriah. Seporsi mie rebus kepiting di restoran rekomendasi supir sekitar Rp 30 ribuan. Lumayankan jika dibanding RM Aceh di Jakarta yang pada 2014 membandrol harga Rp 50,000/ porsi.

Sudah lebih murah dan di Aceh pula. Biar saat itu, budget perjalanan lagi jongkok karena cobaan di segala sektor kehidupan, mi rebus dengan kepiting tetap menjadi pilihan. Tandas sudah mi rebus kepiting ini, maka tuntaslah misi #MakanMiAcehDiAceh. Mission completed!

BLOG_#MiAcehDiAceh_2014_8

Aceh, 4 Desember 2014. Foto: @sumurdiladang/ Nita Dian

 

Mi Aceh Tapi Jakarta

Jauh sebelum 2014, saya memang sudah jatuh hati dengan mi khas kota serambi Mekah ini. Perkenalan kami berawal di rumah makan baru dekat rumah. Namanya Jambo Kupi. Nama uniknya langsung ngendon dalam ingatan. Dalam 1 minggu, bisa berkali-kali saya mengisi perut di rumah makan yang terletak di Rawa Bambu, Jakarta Selatan. Saya dulu diehard-nya kwetiau, perlahan berpindah hati ke mi Aceh rebus seafood. Ini revolusi besar bagi khazanah perkulineran saya.

Nongkrong sama teman, cuz ke Jambo Kupi. Kopi darat anak travelling, cau di Jambo Kupi. Kencan pun ya beberapa kali di Jambo Kupi. Sampai-sampai ada teman yang protes, “Jangan Jambo lagi dong!” Selain jaraknya yang selemparan sandal dari rumah, harga makanan Jambo jaman dulu relatif murah. Sekitar Rp 15 ribu untuk seporsi mi Aceh kuah daging dengan acar bawang sepuasnya. Kopi Ule Kareng sekitar Rp 5 ribu, teh tawar panas Rp 2 ribu, dan teh tarik favorit saya antara Rp 8-10 ribu. Namun harganya merayap naik seiring ketenarannya. Booo… saya sampai siok begitu membuka buku menu Jambo Kupi setelah lama melanglang ke rumah makan (RM) Aceh lainnya.

Aceh 2014

Aceh, 4 Desember 2014. Foto: @sumurdiladang/ Nita Dian

Kuliner Aceh memang sedang naik daun di ibukota beberapa tahun belakangan. Mungkin karena RM Aceh tidak hanya menyajikan makanan berat. Umumnya, RM Aceh menyediakan variasi makanan ringan seperti martabak, roti cane, kue basah, rujak, dan aneka minuman dingin khas Aceh seperti teh tarik dan es timun serut. Menu-menu yang asik untuk menemani kongkow-kongkow. Gampang benar menemukan RM Aceh baru, khususnya di kawasan Selatan. Dari bergaya ruko, kafe ala-ala, sampai restoran fancy.

Saya mencoba petualangan lidah ke beberapa di antaranya seperti di Depok, Pol Tangan, Kemang, Pengadegan, Blok M, Mampang, Tebet, Senayan, Palmerah, hingga Sarinah. Namun, sebuah RM Aceh di pojok Pengadegan membuat lidah saya move on sekoyong-koyong. Mi berkuah (rebus atau tumis) yang menjadi template baku misi #MakanMiAcehBukanDiAceh ini bubyaaaaar oleh ke mi goreng kambing buatan jurumasak Nanggroe Corner. Saya penganut kuah garis keras untuk urusan mi, termasuk mi instan.

Aceh 2014

Aceh, 4 Desember 2014. Foto: @sumurdiladang/ Nita Dian

Namun bumbu Aceh Nanggroe Corner yang pekat meresap baik ke dalam mi tebal nan membal ini. Pedas, gurih, dan sedikit manis. Semuanya lumer dalam goyangan lidah. Ditambah lagi, potongan daging kambingnya yang juga lembut. Mantul gan! Sejauh ini, mi goreng kambing Nanggroe Corner masih juara. Kekurangannya, acar bawang yang diberikan hanya sedikit. Kadang, malah habis katanya. Acar bawang terdengar sepele, tapi dalam sajian mi Aceh itu adalah fardu ain bagi saya.

Ketika celoteh ini ditulis, rongga mulut saya kembali berair. Seperti saat pertama melihat kepiting berukuran setelapak tangan bersarang dalam mi kuah kemerahan di RM rekomendasi supir di Aceh, 2014 silam. Hmmm… saya mulai baper (baca: badan laperan). Jadi ada yang punya rumah makan Aceh rekomendasi untuk saya coba?

“Sementara aku diam-diam semakin yakin makanan Aceh yang benar-benar enak mungkin hanya didapatkan di rumah orang Aceh, bukan di rumah makan” 
― Laksmi Pamuntjak, Aruna & Lidahnya

Aceh 2014

Aceh, 4 Desember 2014. Foto: @sumurdiladang/ Nita Dian