Ke Nepal Sendiri? Why Not

Percaya diri yang sempat melangit langsung keok begitu anak tangga terbentang depan pandangan. “Damn tangga lagi?” gumam saya tak percaya. Ragu mulai menggeroti isi kepala: hajar terus atau balik badan, mewujudkan mimpi atau membiarkannya melayang. Diri saya seolah terbelah menjadi dua kubu, bak amoeba yang bereproduksi. Ketika ber-solotravelling, konflik batin kerap terjadi. Kerbau di jalan pun akan saya libatkan untuk menjadi wasit adu nalar antara si optimis di pojok ring merah dan si pesimis di ring biru. Teng, teng, teng, teng…

Nekat saya sudah bulat! Setidaknya saya harus menjejaki Annapurna Base Camp (ABC). Karena mimpi masa SMA menjujung sang Merah-Putih di puncak Everest terlalu utopis. Tanpa target, saya nekat memasuki kawasan Annapurna Sanctuary pada 21 November 2018. Mau nanti trekking 7 hari, 10 hari, 14 hari kek, yang penting sampai dan pulang dengan utuh. Saya berjanji tidak nge-push diri mengingat kondisi liver yang pulih baru sebulan.

Apalagi terakhir mendaki serius sekitar 15 tahun lalu ke Gunung Gede di Jawa Barat. Tinggi Gede pun hanya 2,958 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sedangkan ABC berada pada ketinggian 4,130 mdpl, jalur bersalju, oksigen tipis, dan suhu ekstreem menusuk tubuh tropis seperti saya. Ditambah, susunan tangga yang serupa cinta Chu Pat Kai: deritanya tiada akhir. Namun, Puncak Annapurna selalu membayangi. Memberi semangat kepada saya yang mulai kehilangan daya. “Ayo Nita! Bisa!”

Antara Kuala Kumpur dengan Kathmandu, 19 November 2018. Photo: Nita Dian

Nepal Saya Datang [Nepal Day 1]

KATHMANDU, 19 November 2018–Suhu  dalam pesawat Malindo Air penerbangan Kuala Lumpur-Kathmandu menghangat. Saya tanggalkan jaket polar yang sedari Jakarta saya kenakan. Begitu pula dengan sepatu Eiger Pollock yang membungkus kaki. Fiuh legah, walau masih sedikit gerah. Mungkin juga karena saya duduk di kursi deret jendela. Saya turunkan tirai segera saat awan putih keabuan mendominasi di balik sana. Silau benar koloni awan ini membiaskan cahaya matahari.

Tanpa jendela, bibit-bibit bosan mulai bersemai. Saya bolak-balik majalah penerbangan. Saya sapu berulang-ulang layar berukuran 9 inci yang menempel di kursi depan. Di antara menu hiburan, potret Akshay Kumar dalam busana pengantin India langsung mencerahkan kesuntukan. Aktor berbadan bak model Element ini sebenarnya bukan jagoan saya untuk film Hindi. Namun, Toilet: Ek Prem Katha yang dibintanginya sudah lama bertengger dalam daftar panjang playlist ‘bioskop lewat tengah malam’. Tentu ini bukan bioskop dalam arti sebenarnya. Melainkan hanya berupa rutinitas menonton streaming di laptop yang saya tunaikan selepas bekerja sebagai buruh media.

Toilet: A Love Story—dialihbahasakan ke Inggris—adalah film komedi satir tentang sepasang pengantin baru, Keshav  dan Jaya. Rumah tangga mereka yang seumur jagung terancam oleh urusan toilet. Perkara buang hajat yang terdengar remeh ini memang menjadi masalah besar di India. Saya teringat berita pemerkosaan yang kerap terjadi saat perempuan ingin buang hajat. Dalam keadaan masih gelap, mereka harus berjalan jauh ke semak-semak. Karena, membangun toilet di area rumah adalah tabu.

Setelah 2,5 jam menonton, saya kok jadi ingin ke toilet. Kantung kemih terasa penuh oleh segelas sirup leci dan segelas air putih yang ditawarkan pramugari. Saya bergegas ke toilet di dekat ekor pesawat. Lumayanlah sambil meluruskan pinggang dan kaki yang kaku. Karena, masih sekitar 1,5 jam lagi pesawat menyentuh darat. Mau nonton lagi, kok tanggung. Mau sok akrab sama penumpang sebelah, kendala bahasa. Mau tidur, tapi khawatir melewatkan panorama yang paling dinanti: barisan pegunungan Himalaya.

Pegunungan Himalaya, Nepal, 19 November 2018. Photo: Nita Dian

Si burung besi seolah melambat saat puncak-puncak Himalaya menyembul di balik gemawan. Mereka tampak angkuh dengan salju yang menyelimuti sebagian. Ingin sekali saya minta kepada juru kemudi di depan sana untuk terbang lebih dekat. Alih-alilh puncak gedung-gedung malah yang semakin terlihat. Ini berarti, roda pesawat segera menggilas landasan Bandara Thribuvana usai 4,5 jam meringkuk.

Welcome           Bienvenidos         Добро пожаловать!       स्वागतम        ようこ          Bienvenue      ยินดีต้อนรับ        Velkommen        欢迎       مد ی د        Selamat datang

Sambutan dalam berbagai bahasa menyapa kedatangan para penumpang penerbangan OD 184. Saya hirup dalam-dalam udara sejuk di muka pintu pesawat agar setiap indera bisa merekam pijak pertama saya di Negeri 1000 Kuil ini. Segera saya ber-selfie dengan latar “Welcome To Nepal” mumpung belum banyak penumpang yang ikutan mejeng. “Mau difotoin?” tanya saya kepada sekelompok penumpang yang bercakap dalam bahasa Indonesia.

Tawaran saya diterima dengan sedikit kikuk. Salah satu dari mereka menawari balik saya untuk difoto sebagai balasan. Namun, berswafoto dengan Gota (Gopro Nita) sudah cukup otentik untuk pejalan solo macam saya. Sebenarnya, saya lebih ngarep ditawari sharing taksi atau barengan menggunakan bus lokal. Tapi sayang, mereka sudah ditunggu travel di depan bandara. Pupuslah dapat barengan ke Thamel.

Sebelum berhadapan dengan brutalnya lalu lintas Nepal, saya kudu menyelesaikan berbagai prosesi keimigrasian. Pertama, mengurus visa on arrival (VOA) dengan mesin-mesin serupa dingdong. Pengoperasian mesin Visa Application ini susah-susah gampang. Susahnya, banyak kali kolom yang harus diisi tapi touchscreen-nya sudah rada ‘kapalan’. Layarnya enggak bisa lagi sekedar sentuh, tapi harus rada neken biar hurufnya terketik di kolom. Gampangnya, setelah kolom terisi, saya tinggal nampang depan kamera mesin. Voila! Enggak sampai 5 menit, selembar visa sudah di tangan.

Selain menggunakan mesin, VOA bisa didapat dengan mengisi formulir berukuran kartu pos dan melengkapinya dengan pas foto. Saya pun berjaga-jaga dengan beberapa salin fotokopi Paspor. Jadi jika mesin Visa Application offline, saya enggak perlu pontang-panting cari pas foto. Bagaimana juga biar dilabeli bandara berskala internasional, Thribuvana masih terbilang sederhana.

Dengan visa di tangan, saya menuju loket pembayaran di samping mesin. Seorang petugas di balik meja mengecek berkas saya. “25 dollar,” tagih petugas itu. Biaya VOA beragam tergantung masa kunjungan: 15 Hari 25 USD, 30 hari 40 USD, dan 90 hari 100 USD.  Saya serahkan selembar 100 USD. Petugas itu tampak terkejut dan meminta uang pas. Di dompet, saya hanya ada 5 lembar pecahan 1 dan 100 USD, 1 koin Ringgit Malaysia, dan beberapa lembar Rupiah. Petugas ini pun berbaik hati mencari kembalian. “Dhanya baad,” balas saya.

Dari loket pembayaran, saya menuju bilik imigrasi. Tidak ada antrian panjang seperti pengalaman saya dengan imigrasi Filipina maupun Thailand. Semuanya lebih lancar dan mudah di Nepal. Padahal, hampir semua dilakukan secara manual. Tanpa bak bik buk, petugas mencap paspor. Kini, saya resmi menjadi turis di Nepal selama 15 hari ke depan. Saya turuni tangga ruang imigrasi untuk mengambil bagasi. Sempat dag dig dug nasib tas Deuters Groden 30L pinjaman kawan ini. Ah… hati jadi tentram melihat backpack dengan pengikat bermotif pelangi sudah selonjoran di lantai bersama tas-tas segede gaban. Sudah tidak peduli saya mengapa tas itu bisa di lantai.

Di dekat pintu keluar, saya tukarkan sedikit US Dollar ke Nepalese Rupee (NPR) untuk ongkos ke Thamel. Sisanya bakal saya tukarkan setibanya di Thamel. Saya berasumsi, money changer di kawasan yang terkenal sebagai pusat backpacker ini memiliki rate lebih baik dibanding bandara. Ternyata salah besar. Money changer di bandara ini menghargai 1 USD dengan 114,3 Rupee. Sedangkan di Thamel lebih rendah 0.43 Rupee. Pantas ramai sekali kios berukuran sekitar 2 x 1,5 meter tersebut. Saya sampai diselak dua kali.

Dengan Rupee terbatas, saya berharap bisa menemukan bus lokal bernama Sahja Yatayat ke pusat kota. Polisi bandara mengarahan saya ke jalan raya di luar gerbang bandara. Menurutnya, bus lokal berseliweran di sana. Saya turuti arahan polisi muda dengan menanggung ragu. Bengong singkat saya buyar seketika oleh pemuda Nepal bertubuh kecil. Ujuk-ujuk ia berjalan di samping kiri. Saya berhasil mengelak berbagai tawaran taksi dan travel, tapi si pemuda berkulit gelap ini tetap ramah. Ia membuka obrolan ringan tentang asal negara, tujuan, durasi kunjungan, sampai kenapa saya memilih naik bus.

Tidak berapa lama, saya sudah di dalam taksi menuju Thamel bersama Bhima, begitu ia perkenalkan diri. Saya setuju usulnya untuk menggunakan taksi karena ongkosnya masih masuk budget, yaitu 400 Rupee atau sekitar Rp 50,800 (1 NPR= Rp 127-130). Masih lebih murah 200 Rupee dari taksi di lobi Bandara. Namun, jauh lebih mahal dari harga bus lokal Sahja Yatayat yang konon hanya 20 Rupee.

Sepanjang jalan, Bima aktif cas cis cus dalam bahasa Inggris yang fasih. Sesekali ia selingi bahasa Nepal untuk mengobrol dengan supir taksi di sebelahnya. Ia menceritakan tempat-tempat indah di Nepal, perihal nama Nita dalam Nepali, kegemarannya akan badminton, tamu-tamu yang pernah dipandunya, dan ujung-ujungnya ya menawarkan jasa guide lagi. Untungnya, jalan Kathmandu masih pengertian. Walau macet di beberapa titik, saya tiba di Thamel sesuai estimasi: sekitar 30 menit.

Di gang  kecil kawasan Thamel, Bhima melancarkan usaha terakhir agar targetnya ini mau sekedar mampir ke kantor travelnya. Ia ikut turun dari taksi dan membantu saya menemukan penginapan yang saya telah booking sepekan sebelum. Namun, saya tidak mengubah jawaban, “no, thanks”. Dengan wajah canggung, Bhima menjabat tangan saya dan kembali ke kantornya yang dekat gang penginapan saya. Saya tidak enak hati melihat wajah kecewanya, tapi Bhima salah menjadikan gembel traveler macam saya sebagai target.

Thamel padat oleh penginapan yang menjulang tinggi. Photo: Nita Dian

Bhim, kalau punya budget berlebih, saya tidak memilih dormitori sebagai tempat bermalam. Hotel Pokhara Peace memiliki rate terendah ke-dua dalam situs pencarian akomodasi. Per-malamnya 400 Rupee untuk kamar mix dorm, tanpa sarapan. Saya memang tidak terlalu berekspektasi dengan fasilitas pendukung lainnya. Di meja resepsionis, pemilik yang wajahnya saya kenali dari foto unggahan Booking.com ini menerima saya. Begitu data diisi lenkap, saya diantar ke kamar dormitori campur di lantai 2.

Hallo!” Sapa saya kepada penghuni yang lebih dulu bersarang di salah satu ranjang. Total ada 6 ranjang susun di ruang bercat merah mudah ini. Tiga ranjang bawah sudah terisi, termasuk saya. Ruang dorm terasa gelap walau lampu sudah menyala. Begitu pula dengan kamar mandi di sebalah ranjang saya. Air panas yang katanya tersedia juga tak berjalan baik. Saya urung mandi dan memilih membongkar muatan yang segambreng ini. Saya pilah-pilah mana barang yang akan masuk ke backpack, mana yang masuk ke drybag, dan mana titipan kawan untuk kakaknya yang menetap di Nepal.

Enggak mungkin trekking bawa tepung hunkwe, tepung tapioca 1 kg, kerupuk udang, bibit tanaman, dan berbagai bumbu kemasan instan. Nanti dikira saya mau bikin warung nasi. “Itu terigu untuk bikin bakso,” terang Mbak Ina saat saya mengkhawatirkan tepung curah dalam paketnya. Saya khawatir petugas imigrasi Nepal menaro curiga kepada tepung-tepungan tersebut. Namun, Alhamdulillah ya titipan ini utuh sampai ke tangan suami si kakak.

Dan Alhamdulillah lagi, saya dihadiahi tas kecil. Bentuknya agak mirip tas yang dikalungi para jemaah Haji. Tapi tas saya ini penuh warna khas Nepal. Merah, hijau dan cokelat dengan ornamen gunung dari sulaman benang biru muda. Di bagian bawah gunung, sulaman N-E-P-A-L berwarna kuning semakin mensyahkan ini cenderamata Nepal. Hore! “Dhanya baad.”

Menjelang malam, suhu udara di Nepal semakin menggigit. Apalagi saya hanya mengandalkan sandal gunung menyusuri jalan Thamel yang super padat. Toko-toko, restoran, kafe, travel agent, penginapan berbagai kelas, dan money changer tumpah-ruah menelusup hingga ke gang-gang kecil. Namun, kesemerawutan ini yang menjadi daya tarik Thamel di mata traveller dari berbagai belahan dunia.

Seperti kawan se-dorm saya yang berasal dari Spanyol dan Rusia. Dengan bahasa Inggris pas-pasan, ketiga manusia berbeda bangsa ini akhirnya berbincang juga. Lumayan melerai kekakuan di ruang pink muda Hotel Pokhara Peace. “I’m sorry. My English is bad,” tukas salah satunya. Who cares? [BERSAMBUNG]

Baca juga: 

460 Menit Menuju Permata Himalaya [Nepal Day 2]

Tipu-tipu Taksi Pokhara [Nepal Day 2++]

View this post on Instagram

Hampir saya menyesali membawa kamera segede gaban. Selama trekking, made–nama si kamera–signifikan menambah bobot bawaan. Padahal foto pun saya cukup irit khususnya saat melakukan penanjakan. Mikirin napas saja aku sulit. Boro-boro mau ambil gambar. Tapi, saya janji sama diri sendiri. Nanti saat turun, saya akan rajin jepret-jepret. Agar si Made tidak menjadi pemberat semata. Ternyata tidak ada yang sia-sia. Made cukup tangguh mengambil gambar di berbagai medan dan cuaca. Apalagi saat foto malam. Saya peluk Made tiap tidur agar suhunya terjaga. Alhamdulillah ya, saya tidak mengganti batere dari naik hingga turun ke Jhinu. Sementara baterai HP sudah tewas terkuras dinginnya ABC. Dan, Gopro yang seringnya saya gunakan untuk berselfie sudah ganti baterai berkali-kali. Terima kasih mbak @inaisworo sudah pinjami baterai cadangan #nepal #everest #goprohero4 #selfie #outdoor #skyporn #annapurnabasecamp #kathmandu #mountains #travelblogger #annapurnasanctuary #treking #himalaya #snow #prayerflag #solotravel #naturephotography #bucketlist #happylife #adventuretime #getlost #travelgram #sumurdiNepal salam #Sumurdiladang

A post shared by nita kelana (@sumurdiladang) on