#CelotehTukangJalan: Hantu? Siapa Takut? Aku!!!

“Ta, lu ga sensitif ya? Tadi ga ngerasa apa-apa?” tanya seorang kawan usai penelusuran goa La Kasa di Sulaa, Baubau, Sulawesi Tenggara.  

Saya menggeleng bingung. Bingung karena ada juga yang bilang saya bukan manusia sensitif. Sekaligus bingung, kenapa saya harus merasa ada apa-apa? (Cie… yang ada apa-apa #uhuy). Padahal, saya sering dilabeli sebagai manusia super sensitif, alias sensian. Gampang tersinggung sekaligus mudah tersanjung. Namun, sensitivitas saya ini ternyata hanya berlaku untuk masalah hati. Lain soal ketika berhadapan dengan urusan mistis. Saya tambeng luar biasa. Terlahir sebagai anak tanpa bakat klenik, tidak sekoyong-koyong membuat saya lolos dari kejadian yang membuat bulu kuduk berdiri, khususnya saat traveling. Dan, beginilah kisah saya. Tring tring tring…

Baubau 2014 nita__SUM 2

Mulut gua La Kasa di Baubau, Sulawesi Tenggara.

 

Baubau, 10 September 2014

Hawa dingin Gua La Kasa langsung mengambil alih tubuh saya yang tadinya kepanasan oleh matahari Baubau. Segar sekali di dalam perut bumi ini, walau bau lembab cukup tajam merasuki indera penciuman. Saya atur langkah agar tidak terjatuh dan terbentur. Apalagi cahaya tidak menembus ke dalam gua. Satu-satunya celah yang tampak ya mulut gua mungil. Saya hanya mengandalkan penerangan yang dibawa La Uso, pemandu gua La Kasa. Namun, dengan jalur seukuran satu badan orang dewasa ini cahayanya kadang terhalang oleh lika-liku dinding gua atau oleh tubuh teman lain. Butuh waktu untuk mata saya beradaptasi dari terang-benderang langit Baubau ke gelapnya gua La Kasa

Nama La Kasa berasal dari penemu gua ini. Seorang warga bernama Kasa, ayah dari La Uso. Sedangkan “La” merupakan panggilan untuk laki-laki di Bhuton. Konon, La Kasa menemukan gua ini melalui sebuah mimpi tentang sebuah telaga biru. Sekitar 1998, La Kasa pun menemukan apa yang diuraikan bunga tidurnya. Sejak itu, goa La Kasa ramai oleh pengunjung yang penasaran dengan cerita mimpi La Kasa. Orang-orang pun menamakan gua tersebut sebagai Gua La Kasa. Ketenaran rongga bumi ini membuat Pemda setempat turun tangan. Gua Lakasa yang tadinya gelap pun diberi lampu-lampu taman yang menempel di sisi gua. Saat saya datang, lampu-lampu tersebut tidak berfungsi. La Kasa kembali ditelan gelap.

Gelapnya La Kasa, tidak membuat salah satu kawan saya ciut pada susur gua pertamanya. Ia masih bisa terkikik dan berbagi keceriaannya walau beberapa kali hampir terpeleset. Sendal jepit yang dipakainya cukup menyulitkan kaki yang kecilnya melangkah. Bukannya kami menggampangkan medan dalam gua, tapi Lakasa memang tidak ada dalam rundown media visit salah satu perusahaan milik negara ini. Bisa dikatakan, La Kasa merupakan tujuan impulsif karena kami—para undangan—malas berleha-leha di hotel. Mubazir sudah  jauh-jauh ke Baubau kalau hanya ngadem di kamar.

Baubau 2014 nita__SUM 3

Stalagtit dan stalagmit dalam gua.

Tidak rugilah saya meninggalkan dinginnya kamar hotel ke sejuknya gua La Kasa. Saya disuguhi keindangan stalagtit yang menggantung di atap gua dan stalagmite yang menjulang di dasar. Keduanya kadang terlihat berkilau seperti kristal saat cahaya menimpanya. Namun kristal sesungguhnya bersembunyi di ujung gua, 100 meter dari pintu masuk. Setelah menyusur sekitar 15 menit, saya disambut sebuah telaga biru di dasar gua. Cahaya senter yang dipantulkan La Uso membuat tegala biru ini berkilau anggun. Seperti batu permata safir.

Jalur turun ke telaga yang terjal dan licin mematahkan keyakinan saya untuk menyentuh segarnya tegala. Keselamatan kamera menjadi nomor satu buat saya yang sedang menunaikan tugas ini. Tidak ada satu pun dari kami yang turun. Hanya La Uso yang turun untuk membuktikan ke para tamunya. Tetesan air dari atap gua menghasilkan pola-pola riak air yang sangat cantik. Siapa sangka di kolong tanah berbatu tajam ini menyimpan‘harta karun’ yang begitu menggoda.

Siapa sangka pula, bukan hanya kami yang berada di dalam gua. Saya yang tambeng ini tidak merasakan kehadirin makhluk lain ketika menyusuri lika-liku tubuh gua. Tapi tidak dengan beberapa teman yang dianugerahi penglihatan ke-6 atau six sense. Selain menikmati keindangan stalagtit dan stalagmite La Kasa, mereka pun disuguhi pemandangan dimensi lain. Sejumlah makhluk besar berdiri dekat saat kami melewati sebuah ruang besar di tengah gua. Sebelum mencapai telaga biru, ada ruang yang cukup luas dan beratap tinggi. Di bagian ini, saya bisa bernapas lebih leluasa. Namun, seorang teman menyegerakan istirahat singkat saya. Alasannya sudah terlalu sore.

Baubau 2014 nita__SUM 1

La Uso di telaga dalam gua.

Baiklah. Tanpa curiga, saya ikuti perintahnya hingga matahari Baubau kembali menyapa kami, para manusia gua. Baru sampai hotel, seorang teman yang cukup sensitif dengan dunia lain ini menanyakan tentang kesensitifan saya. Tentu saya hanya melongo tidak paham arah pembincaraan. Saya korek informasi dari teman yang emoh bercerita lebih lanjut. Barulah kemudian, saya ketahui tentang si raksasa tak kasat mata di dalam gua. Kalau dari penjelasannya, saya menerka mungkin hantu ini berasal dari klan genderuwo.

Dari beberapa tulisan perjalanan, saya ketahui bahwa makhluk halus memang sering menampakan diri dengan berbagai cara di gua La Kasa. Salah satunya melaui hasil foto. Saya periksa kembali hasil jepretan saya pada 2014 tersebut. Untung saja, tidak ada satu pun penampakan. Saya memang ‘lugu’ terkait masalah perhantuan. Saking lugunya, saya hampir pernah terjebak dalam bualan trik klenik seorang kawan. Kalau kejadiannya saya jabarkan di sini bisa kaya sinetron kejar tayang yang enggak tamat-tamat biar kata sudah masuk season ke-7. Haha… Cukup menjadi cerita dan pelajaran saya agar lebih pandai memilah teman berkelana. Hampir saya kehilangan alat rekam yang sudah menjadi travelmate selama ini.

Terancam ‘kehilangan’ alat rekam juga menimpa saya awal tahun ini saat traveling ke Sumba di Nusa Tenggara Timur. Ancaman ini bukan datang dari orang lain. Melainkan, terjadi akibat ulah saya yang  tidak permisi saat memotret di Praijing, sebuah desa adat di Sumba Barat. Padahal sejak sampai di desa ini, saya sudah menahan diri untuk memotret aktivitas keseharian warga. Saya tidak mau mereka tersinggung oleh tamu tak diundang ini. Padahal desa Praijing sangat menarik untuk dibingkai.

Baubau 2014 nita__SUM 5

Jalur sempit, seukuran badan orang dewasa.

Pertahanan saya untuk tidak memotret runtuh di depan tulisan nama desa. Keruntuhan ini menjadi drama bagi Made—nama kamera saya. Made kehilangan kemutakhirannya sebagai produk digital. Made kena kutuk. Saya pun lemas. Kisah Made dan kelalaian saya ini akan ditulis terpisah sebagai rangkaian cerita berseri perjalanan awal tahun 2018.

(Baca: Sekali Dayung, Lombok Sumbawa Flores Sumba Bali Terlampaui)

Pengalaman mistis saat traveling juga dialamin kawan #CelotehTukangJalan lainnya. Kali ini, kawan yang berpartisipasi empat orang saja: saya, Bubu Dita, Ria Mbakjaw, dan Ury Ceria. Efi sementara sedang tidak sempat ke warnet karena kesibukannya mengurus pertaniannya di Colombia. Nih berikut cerita Bubu Dita dan Ria Mbakjaw yang bakal bikin bulu kuduk berdiri:

Selamat membaca! Dan, ssssssttt… jangan nengok ke belakang.

View this post on Instagram

Sering kali kang moto atau wisatawan alpa meminta izin saat mengambil gambar. Terlalu terbawa oleh suasana atau terpukau oleh pemandangan yang ada di depannya. Dan kealpaan itu yang saya lakukan hari ini saat mengunjungi kampung adat Praijing di Sumba Barat. Kedatangan saya tadi sore disambut keheningan desa. Hanya ada beberapa wanita sedang menenun. Saya dan tiga kawan saya permisi kepada setiap pemilik rumah yang kami lewati. Saya menahan untuk memotret karena takut mengganggu. Tujuan saya cuma ke titik tertinggi desa agar bisa memotret desa dari ketinggian . Sebelum sampai, saya melihat relief nama desa Praijing di dinding. Dan spontan ingin memotret sebagai shot pembuka. Apesnya, LCD kamera saya mati tiba2. body dan lensa pun tidak sinkron. Serasa kamera analog jadinya. Selama mengutak-ngatik kamera, seekor anjing putih terus menggong-gongi kami. Sejumlah anak pun terus meminta uang kepada kami. Kami pun hanya menandalkan kamera hp dan gopro lalu cuz segera ke poin foto di depan kampung. Kamera digital SLR saya pun masih serupa analog . Karena hujan deras, kami memutuskan segera kembali ke hotel di Sumba Barat Daya. Sesampainya di hotel, kamera saya berfungsi normal seperti sedia kala. Pelajaran untuk saya. Memotret harus permisi dulu walau tidak ada manusia sekalipun. Karena saya hanya tamu. #SumurdiSumba #sumbaisland #desaadatpraijing #kampungadatpraijing #tradisionalvillage #travelgram #travelblog #instatravel #backpacking #heritage salam #Sumurdiladang

A post shared by nita kelana (@sumurdiladang) on

2 thoughts on “#CelotehTukangJalan: Hantu? Siapa Takut? Aku!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s