Menunggu Kabar Danau Rana

PULAU BURU, 21 JULI 2017—Oto ke danau Rana belum menampakan bumpernya. Padahal seharusnya pukul enam pagi, oto yang dihubungi pak Muhammad akan menjemput saya dan dua kawan baru saya: Sherlly dan Dylan. Mungkin karena hari Jumat, supir oto enggan diburu-buru untuk salat Jumat. Atau, jalan menuju Rana masih putus oleh hujan di hulu. Tebak-tebakan ini saya akhiri dengan berkeliling desa Wamlana yang mulai terang. Siapa tahu saya mendapat jawabannya nanti. Saya mulai jalan-jalan pagi ini ke sebuah SD di dekat rumah Pak Muhammad.

Lonceng sekolah masih lama berdenting. Tapi murid –murid sudah ramai di halaman Sekolah Dasar Inpres Desa Wamlana, Kecamatan Fena Leisela, Pulau Buru. Sebagian dari mereka memadati warung kecil milik Bu Aci yang berada di ujung pagar sekolah. Di antara toples permen dan kue, nasi kuning menjadi incaran para murid pagi itu. Maklum saja, mereka ini tidak sempat mengisi perut kosongnya di rumah karena khawatir terlambat.

“Mamanyora, Mamanyora, Mamanyora!” teriak sejumlah murid sambil melambaikan lembaran Rp 2 ribu atau Rp 5 ribu.

MALUKU 2017__SUM25

MALUKU 2017__SUM26

Bu Aci pun sigap mengambil uang dan memberikan kembalian kepada murid-murid yang membayar dengan pecahan Rp 5 ribu. Ternyata sepiring kecil nasi kuning dengan taburan mi goreng dan potongan kecil telur dadar ini hanya Rp 2 ribu. Porsinya memang tidak banyak, tapi sudah bisa untuk perut anak SD kekenyangan. Awalnya, saya mengira “mamanyora” berarti “bayar”.  Simpulan ngawur ini membuat bu Aci sontak tertawa. Beliau mengoreksi bahwa  “mamanyora” adalah panggilan umum untuk istri guru. Gelar ini disandang bu Aci sejak ia menikah dengan pak Guru kelas IV di SD Wamlana.

Lonceng dibunyikan sekitar 7.30 WIT. Para murid berduyun-duyung masuk ke kelas. Sejenak Mamanyora bisa santai, sebelum diserbu lagi pada jam istirahat pukul 10 nanti. Saya mengintip anak-anak belajar. Benar-benar mengintip dalam arti sebenarnya. Niatnya tidak mau mengganggu bu guru yang sedang mengajar. Tapi toh ketahuan juga hahaha… Untung saja anak-anak ini tidak gaduh. Walau sesekali mereka berbisik ke teman bangkunya sambil melirik-lirik ke arah saya. Bu guru pun tersenyum ramah menyadari kehadiran saya.

MALUKU 2017__SUM27

Tidak terasa matahari semakin tinggi, sudah saatnya saya kembali ke rumah Pak Muhammad. Barangkali angkutan ke danau Rana sudah ada kabar. Namun, rumah masih lengang. Ima, putri pak Muhammad, juga belum tampak. Sedangkan Sherlly dan Dylan, masih di luar rumah. Saya kembali menyusuri desa. Kali ini, saya mencari pantai untuk sekedar untuk basahin kaki. Sudah tiga hari di pulau Buru, tapi belum bercengkrama dengan lautnya.

Keheningan menyambut saya saat menyentuh bibir Pantai desa Wamlana. Air lautnya sangat tenang serupa genangan. Tidak ada suara debur ombak dan tidak ada kebisingan aktivitas nelayan yang sudah berlayar jauh dari daratan. Mungkin laut Wamlana masih mengantuk oleh guyuran hujan semalam. Satu-satunya kegaduhan berasal dari gesekan kaki saya di atas kerikil. Saya mengantongi beberapa batu kecil untuk mengenang keunikan pantai Wamlana. Damai sekali berada di pantai ini sampai bayangan oto ke danau Rana menelusup masuk pikiran saya. Sudah sedekat ini, tapi inti pulau Buruh ini malah terasa jauh.

“Mungkin Rana tidak ingin saya datang?” 

MALUKU 2017__SUM28

Pantai berkerikil Desa Wamlana, Pulau Buru

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s