PULAU BURU, SELAMAT PAGI!

 

MALUKU 2017__SUM18

Pulau Buru, 20 Juli 2017—Pagi pertama saya di pulau Buru  disambut hujan. Hampir bosan saya menunggu reda di dalam kamar. Akhirnya, saya dan dua kawan baru, Sherlly dan Dylan, sepakat menerobos hujan ke terminal lama Namlea. Kami titipkan keril di penginapan Senyum Bupolo. Di terminal, oto ke berbagai kecamatan pulau Buru sudah tersedia, termasuk ke pantai Jikumerasa yang menjadi target pertama.

Namun, informasi ke Danau Rana malah semakin terang saat kami menunggu oto (baca: mobil) ke Jikumerasa. Ibu-ibu yang sedang menunggu oto menjadi informan, walau masih “katanya”.  Spontan kami mengubah tujuan ke desa Wamlana yang menjadi desa transit menuju danau Rana di kecamatan Air Buaya. Tarifnya masih masuk akal Rp 40 ribu/ orang. Saya pikir aneh memang ke pantai di saat hujan sedang deras-derasnya.

Baju basah saya sudah mulai tiris setelah hampir satu jam menunggu oto penuh penumpang. Begitulah sistem angkutan di Buru. Mobil akan jalan kalau kursi sudah terisi 80% penumpang. Oto di Buru berupa colt lama  dengan kapasitas 12 orang plus satu kursi tambahan di baris ke tiga. Sementara oto jurusan Wamlana ini baru terisi 8 orang plus 2 anak-anak yang dipangku. Beberapa kali supir meminta pemakluman karena penumpang yang mereka sebut “Bu Guru” belum datang.

Hujan pun saya dan 2 rekan baru saya terobos demi sampai ke terminal lama di kota Namlea. Rencananya kami mau ke Pantai Jikumerasa. Namun, informasi ke danau Rana semakin terang. Penduduk setempat menyebutnya kebagai "inti pulau", dimana suku asli pulau Buru berada. Adat masih kuat dipegang Kami pun merubah haluan. Dari terminal lama, kami naik angkutan menuju desa Wamlama, kecamatan Air Buaya. Pak supir mengatakan ongkosnya Rp 40 ribu. Dari Wamlama, banyak lagi yang mesti kami tempuh. Seorang bapak di dalam angkutan mengajak kami menginap dirumahnya setiba di Wamlama. Lumayan bernaung untuk kami tunggu mobil besok pagi yang akan membawa kami ke jantung pulau Buru. Semoga adat dan alam berkehendak #sumurdiladanggotoburu #goprohero4 #instamood #wonderfulindonesia #maluku #wonderfulmoluccas #backpacker #travelblog salam #sumurdiladang

A post shared by nita kelana (@sumurdiladang) on

Baru kemudian saya ketahui, bu Guru ini adalah istri pemilik oto. Dan, pemilik oto ternyata penumpang dengan ponco biru  yang duduk di baris kedua. Pemilik oto yang kemudian saya ketahui namanya Pak Muhammad ini menanyakan tujuan saya. Ia memberi banyak informasi tentang cara menuju hingga larang-larangan selama masuk ke inti Pulau Buru ini. Bahkan pria keturunan Salasiwa, salah satu suku asli Buru, ini menawarkan saya untuk menginap di rumahnya. Keramahannya saya sambut hangat. Karena berdasarkan informasinya, oto ke danau Rana baru ada esok hari.

Namlea-Wamlana bisa ditempuh hanya 2 jam. Namun, mobil pak Muhammad ini muter-muter di Kota untuk mengantar beras dan menjemput sejumlah penumpang yang sudah menelpon lebih dulu. Keren kan, oto bisa jemput sampai di depan pintu rumah.

“Bu, seperti ini angkutan di sini. tidak seperti di Jakarta,” ucap Pak Muhammad minta pemakluman lagi.

Dua belas penumpang dan empat anak-anak akhirnya memenuhi kursi. Jalanlah ini oto ke Wamlana. Deretan pohon minyak kayu putih, pantai yang membentang di kanan jalan, rumah penduduk, dan air terjun kecil menjadi hiburan mata dari dalam Oto yang padat penumpang. Salah satu pantai yang kami lewati adalah Jikumerasa yang awalnya menjadi tujuan saya. Di bawah derai hujan, pantai Jikumerasa masih terlihat biru pucat dan  tenang.

MALUKU 2017__SUM16

Hari sudah sore saat saya tiba di rumah Pak Muhammad. Di Teras rumah, beberapa sanak keluarga pak Muhammad sedang berkumpul. Ternyata, sore itu juga pak Muhammad dan keluarga harus ke Ubung. Ibu mertua Pak Muhammad jatuh sakit.

Setelah menyuguhi teh hangat, 3 toples cemilan lebaran, dan petuah tentang danau Rana, pak Muhammad dan keluarga bergegas ke Ubung naik oto yang tadi kami tumpangi. Di rumah bersisa Ima, salah satu anak Pak Muhammad yang sedang berlibur dari kuliahnya di Malang. Dalam petuahnya tadi, kami diperingatkan untuk menjaga perkataan dan sikap, tidak gaduh saat melihat hal gaib, meminta ijin saat ingin memotret, dan melepas segala perhiasan. Agak deg-degan juga saya karena ketat adat di Danau Rana. Apalagi bu Bidan, anak sulung Pak Muhammad, bercerita bahwa baru-baru ini rekannya asal Ambon terjatuh dari sampan karena tidak melepas cicin. Pantangan perhiasan ini membuat rekan jalan saya ragu. Karena ia memiliki beberapa piercing di sekitar bibir yang segan dibuka.

Selain Danau Rana, ada dua lokasi tujuan favorit penduduk Wamlana, yakni Teluk Bara dan pulau Pasir Putih. Tergoda juga saya mendengarnya. Apalagi jika bisa bermalam di kampung yang dekat pantai. Sementara Sherlly dan Dylan undur diri untuk tidur, Ima mengajak saya berkeliling kampung yang sudah gelap dan masih rintik hujan. Kami singgah di warung mie siram sebelum kembali ke rumah.

MALUKU 2017__SUM20

 

 

“Tante Nita!” panggil Dilan yang sudah ada di dalam warung duluan.

Dylan bersama Jun, anak laki-laki pak Muhammad, sedang menyantap mi kuah. Saya mengira mi kuah sejenis mi gelas yang disiram air panas. Ternyata mi kuah ala Wamlana lebih spesial. Mi yang diadon sendiri oleh penjualnya ini direbus dalam air mendidih. Kemudian, ditaburi suir ikan cakalang dan perasan jeruk cina. Jeruk ini konon hanya ada di pulau Buru. Semangkuk mie kuah Rp 3 ribu. Namun, saya memesan porsi Rp 5 ribu tambah 1 bakwan Rp 1,000. Segar sekali makan malam saya ini. Perut kenyang dan hawa dingin Wamlama membuat kantuk segera datang.

“Selamat malam Wamlana!”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s