PADA SEBUAH KAPAL:  Satu Jam Di Sanana (Day 2)

MALUKU 2017__SUM11TERNATE-BURU, 19 JULI 2017—Kawanan lumba-lumba timbul dan tenggelam di dekat kapal Pelni KM Sangiang yang masih melaju. Saya terkejut oleh kemunculan mereka sampai lupa membidik kelincahannya. Hanya saya yang terlihat antusias, sementara penumpang lain santai-santai saja melihat kawanan mamalia tersebut.

“Itu tandanya sudah dekat,” canda seorang penumpang.

Dan benar saja, Pelabuhan Sanana mulai tampak di balik kabut hujan pagi itu. Sanana  bukan tujuan akhir perjalanan saya. Namun, saya putuskan untuk ikut turun untuk menjejak daratan setelah 21 jam mengarungi laut. Si pengeras suara mengumumkan KM Sangiang hanya akan bersandar dua jam. Dengan durasi sesingkat itu, saya tidak mungkin berjalan jauh dari pelabuhan. Apalagi gerimis masih membayangi pagi.

Suasana pelabuhan Sanana tidak ramai.  Saya pun menyusuri sisi kanan dermaga mencari objek menarik untuk dijepret. Pantai di pelabuhan cenderung kotor oleh sampah kemasan dan patahan kayu. Saya berpindah ke kiri dermaga dimana Landmark bertuliskan “Pelabuhan Sanana” terpampang. Walau dua huruf terakhirnya sudah mengelupas, landmark jingga ini masih terlihat menarik. Masalahya tetap sama, sampah tak kalah banyaknya. Saya ber-swa foto sebagai pengikat memori bahwa saya pernah turun di ibukota pulau Sula ini. Beberapa warga keheranan melihat kenarsisan saya. Mungkin belum banyak pejalan yang singgah. Padahal konon, pulau yang berjarak 284 km dari Ternate ini memilki potensi wisata alam yang belum banyak dijelajahi.

MALUKU 2017__SUM13

Di muka  landmark, kapal-kapal kayu kecil mulai berdatangan. Mereka menyebutnya ‘johnson’. Beberapa Johnson bermuatan orang dan barang ini berusaha melawan ombak yang pecah sebelum sampai ke tepi. Tapi juru kemudi  cukup mahir mengendalikan situasi sehingga penumpang dan muatan tidak terjungkal. Seorang penumpang lansia tampak legah saat kakinya menyentuh daratan. Begitupula dengan kolega si Pak Tua yang sudah menanti di tepi.

“Biasanya, kapal bersandar di sana,” tunjuk Pak Muchdin ke arah dermaga kecil.

Namun, tamparan ombak membuat dermaga beton sulit didekati. Pak Muchdin sudah 30 tahun hidup di Sanana. Karena itu, sebagai warga pendatang ia sudah akrab dengan suasana pelabuhan. Kedatangan Perantau asal Tuban Jawa Timur ini ke pelabuhan tidak untuk menunggu kolega. Tumpukan kasdi di salah satu Johnson lah yang membuatnya setia berdiri di bawah hujan tipis. Kasdi adalah sebutan singkong dalam bahasa lokal.  Begitu johnson dari pulau Mungoli ini menepi, Pak Muchdin dan warga lain mulai menyambar kasdi-kasdi yang diturunkan juru kemudi.

MALUKU 2017__SUM12

Menurut Pak Muchdin, kasdi asal Mungoli berukuran besar. Jadi bisa menghasilkan keripik dengan potongan yang bagus. Produsen keripik ini memborong 12 ikat kasdi seukuran betis orang dewasa. Satu ikat dihargai Rp 10 ribu. Di tepi pantai, ibu penjual kasdi tersenyum melihat hasil kebunnya ludes tak sampai setengah jam.

 “Kepada seluruh penumpang dan kru KM Sangiang untuk segera kembali ke Kapal. Kapal akan segera berangkat,” pengumuman dari pengeras suara.

MALUKU 2017__SUM14

Seharusnya masih 1 jam lagi KM Sangiang bertolak ke Pulau Buruh. Tapi apapula, saya turuti saja perintah si pengeras suara. Tak sempat saya pamit dengan pak Muchdin yang sedang sibuk memindahkan borongan kasdinya ke darat. Hanya lambaian tangan dari jauh yang saya lontarkan kepada beliau yang dibalas dengan lambaian pula. Selamat tinggal Sanana…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s