PADA SEBUAH KAPAL: Gara-gara Ikan Tongkol (Day 1)

KM Sangiang

Ternate-Buru,18 Jul 2017– 32 jam, perkiraan waktu tempuh Kapal Pelni KM Sangiang menuju Pulau Buru, Maluku. Ini berarti sekitar satu setengah hari, saya akan hidup sebagai manusia kapal. Buku obralan setebal 432 halaman, satu liter air mineral, lima unduhan film, dan kamera dengan baterai penuh sudah saya siapkan untuk membunuh rasa bosan jika menyerang. Ini adalah perjalanan laut terpanjang kedua saya setelah Sail Komodo pada 2013 silam.

Sebenarnya, Pulau Buru merupakan plan b pada misi saya mengarungi perairan Maluku Utara dan Maluku. Rencananya setelah menjelajahi Ternate selama tiga hari, saya ingin  ke Banda Neira. Namun, kabar buruk datang dari penyeberangan yang melayani  jalur tersebut. Gelombang sedang tinggi . Jadi, Kapal Ekspress Bahari tutup sementara hingga Agustus. Tujuan pun saya geser ke pulau sebelah barat daya Ambon. Setali tiga uang, ada kapal Pelni yang berlayar dengan rute Ternate-Sanana-Buru-Ambon. Tak apalah saya pikir jika harus berhenti di satu pulau. Yang penting saya sampai di pulau Buru. Kabar tentang pantai-pantai cantik di pulau bekas pembuangan tahanan politik ini memikat minat saya.

KM Sangiang masih berlayar dari Bitung saat saya tiba di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate. Saya menunggu dengan mengantongi tiket seharga Rp 238 ribu yang saya beli langsung di loket. Selain melayani pembelian langsung, Tiket Pelni bisa dipesan melalui online di situs resminya. Saya memilih cara lawas untuk mengantisipasi keterlambatan yang menjadi hobi Pelni. Untungnya, Langit Ternate yang terus diguyur hujan sudah kembali membiru. Ini akan menjadi awal yang baik pada perjalanan saya di atas kapal.

Ini bakal menjadi perjalanan paling lama dengan kapal Pelni di kelas ekonomi. Langit cerah adalah awal yang baik untuk perjalanan panjang. berkenalan pula dengan traveller seorang wanita asal Bali dan anaknya yg masih SD. Kebetulan tujuan kami sama: Pulau Buru. Kapal Pelni KM Sangiang bertolak dari pelabuhan Ternate pukul 11 pagi. Bergeser 1 jam dari jadwal yg tertera di loket tiket. Ternyata tiket yang saya beli Rp 238ribu ini sudah termasuk tempat tidur sejenis bunkbed dan makan selama di kapal. Tadi, anak si ibu sempat menawarkan pertolongan untuk mengambil jatah makan siang saya. Namun, saya berpikir perlulah untuk saya mengalami langsung apa pun yang terjadi dalam 32 jam perjalanan laut ini #SumurdiladangGoToBuru #MolucasEtape2 #wonderfulindonesia #wanderlust #pelniline #wonderfulmoluccas #snorkeling #freedive #goprohero4 #instagood #jalanjalan #backpackers #solotravel salam #Sumurdiladang

A post shared by nita kelana (@sumurdiladang) on

KM Sangiang bertolak dari Pelabuhan Ternate sekitar pukul sebelas pagi. Bergeser satu jam dari jadwal yang diumumkan di loket tiket. Kru yang berdiri di muka tangga mengarahkan saya untuk turun ke dek 2. Kapal berkasitas 510 penumpang ini hanya menyediakan satu kelas, yakni ekonomi. Seluruh dek diisi dengan kasur hijau terang berukuran sekitar 180×60 sentimeter. Kasur tersebut disusun berjajar di atas dipan besi dengan sekat kecil di bagian kepala. Rasanya seperti berada di penginapan domitori. Setiap kasur dilengkapi stop kontak untuk mengisi daya ponsel. Lumayan bisa online terus selama perjalanan. Tapi dengan term and condition apply:  kalau ada sinyal hahaha…  KM Sangiang belum dilengkapi wi-fi seperti  dua kawannya, KM Kelud dan KM Tidar.

Saya memilih posisi dipan paling pojok di bawah jendela bulat. Ini berbeda dengan kapal  fery yang mengharuskan penumpang menempati dipan sesuai nomor yang ditulis di tiket. Pada 32 jam perjalanan ini, saya bersebelahan dengan perempuan muda bernama Riri. Tetangga dipan saya ini ingin pulang ke Desa Dafa bersama suaminya di pulau Buru setelah merantau ke Morotai selama dua tahun.

“Saya tidak betah di sana, dapat uangnya susah. Tidak seperti di Dafa bisa pegang uang setiap hari. Tambang emas di gunung Botak,” cerita perempuan yang tengah hamil jalan empat bulan ini.

 

 

Gunung Botak memang sedang hits di kalangan penambang tradisional. Sekitar 70% penumpang KM Sangiang yang saya ajak mengobrol memiliki tujuan gunung di desa Wamsait tersebut. Ada yang dari pulau Jawa, Manado, Gorontalo, Ternate dan asal Pulau Buru sendiri. Walau mendapatkan biji emasnya tidak semudah dulu, tapi gunung Botak tetap menyilaukan mata para penambang. Salah satu penumpang bercerita satu gram emas kadar tinggi bisa dihargai Rp 460 ribu. Sedangkan kadar rendah sekitar Rp 320 ribu/ gram. Berminat pula saya ke sana. Saya dan Riri kemudian bertukar nomor kontak. Suaminya akan mengantar jika saya ingin memotret di sana. Karena, tingkat kriminalitas di gunung Botak cukup tinggi.

Cerita tentang gunung Botak ini juga menarik minat tetangga dipan di depan saya, Sherly dan Dylan. Backpacker ibu-anak asal Bali ini kemudian menjadi patner perjalanan selama beberapa hari di pulau Buru. Lumayan untuk menekan biaya dan menjadi teman ngobrol. Apalagi bocah yang akan berusia sebelas tahun besok ini cukup gemar bercerita pengalaman backpackernya hingga Asia Tenggara.

“Kepada penumpang KM Sangiang, makan siang bisa diambil di pantry,” kabar gembira dari pengeras suara.

Pantri yang dimaksud berupa jendela sekitar  100 x 50 sentimeter yang terletak di dekat pintu masuk kapal. Dari balik jendela berteralis besi  tersebut makanan didistribusikan. Petugas di depan jendela membantu mencontreng kolom makan yang tercetak di balik tiket. Mendaratlah itu makan siang dalam kotak serupa kemasan take away Hoka-Hoka Bento. Tentu bukan cacahan beef teriyaki apalagi potongan imut chicken katsu yang tersusun di dalam kotak,  melainkan sepotong ikan tongkol, secomot ongseng sawi putih, dan seabrek nasi putih. Oia dapat segelas air mineral juga.

Saya jadi teringat cerita seorang senior di kantor tentang pengalaman mudiknya dengan kapal Pelni saat ia masih bujang. Dulu, makanan disajikan dalam piring besi yang dituang asal. Rasanya juga tidak karuan katanya. Ia pun menyesal  gaya-gayaan memilih kelas ekonomi. Padahal abang si senior sudah menawarinya duduk di kelas I bersama anggota keluarga lain.

Selama 32 jam, saya mendapat 5 kali makan dengan menu yang divariasikan. Ikan tongkol berganti dengan ikan goreng yang ukurannya semakin kecil atau selembar  telor. Sawi putih diganti terong balado, bihun, atau sayur lodeh. Air mineral diselingi dengan sari buah apel Jungle atau sekotak susu Diamond 125 ml. Saat makan siang kedua, saya mendapat ekstra biscuit Slai O’lay. Hanya nasi seabrek yang menjadi pemain tetap dalam sekotak makan KM Sangiang. Beberapa penumpang yang sudah berpengalaman membawa ekstra lauk dari daratan. Saya abadikan makanan perdana saya sebelum berpindah ke perut.

 

 

“Mbak dari instasi mana? Di kapal dilarang foto. Lihat id-nya,” sumber suara di belakang membuat saya melongo.

“Hah, masa? Baru tahu saya. Sering naik kapal tapi baru ini enggak  boleh foto,” saya menimpali petugas keamanan kapal bertubuh besar tersebut.

“Mbak, bapaknya minta difoto itu,” canda kru yang ingin mencairkan air muka saya yang mengeras.

Seketika, cewek gondrong dengan jeans pendek belel dan gembolan drybag pink neon menjadi sorotan di lorong pantry. Saya lekas menutup kembali makan siang saya dan turun ke deck sambil tersungut-sungut. Saya urungkan niat untuk berplesir singkat ke seantero kapal seperti yang biasa saya lakukan saat menggunakan transportasi laut. Cem manah ini, saya membayangkan 32 jam berlayar dengan larangan foto. Saya mencoba mengonfirmasi aturan tersebut ke seorang kawan yang bekerja di Pelni pusat.

“Masa! Kapal apa cuy?” balas kawan saya.

Di dalam deck lagi-lagi beberapa penumpang pria mulai mengebul. Padahal, kru acap kali mengingatkan untuk merokok di luar. Kru kebersihan yang kebetulan lewat pun mengomeli penumpang yang membandel ini. Kapal ini memang cukup tegas terhadap perokok yang mengebul di dalam deck. Kedatangan kru kebersihan ini disusul oleh petugas kemanan yang bukannya menghampiri si perokok, alih-alih berjalan ke arah saya.  Ah… mau apalagi ini. Saya pikir sudah selesai perkara di pantry.

Petugas keamanan ini berbeda dengan yang di pantry tadi. Ia bertubuh lebih kurus dan tinggi. Dari bet nama di seragam biru dongkernya, saya ketahui ia bernama Reza.  Dengan santun, Reza menyampaikan maksud kedatangannya. Ia diminta rekannya untuk memastikan saya  menghapus foto-foto tadi.  Saya tetap skeptis terhadap aturan tersebut. Reza sendiri tidak mengetahui pasti akan eksistensi aturan larangan foto. Ya sudahlah… mungkin petugas keamanan di pantry tadi sedang lelah. Masalah foto tuntas sudah tanpa saya menghapus satu frame pun. Perbincangan larangan foto pun meluas ke laut-laut indah di Indonesia. Termasuk tentang  laut di kampung halaman Reza, Banda Neira.

  

KM Sangiang

Dan dengarkan ombak yang datang menerjang kuatmu
Dan dengarkan arus yang datang nyatakan lemahmu
Langit dan laut dan hal-hal yang tak kita bicarakan
Langit dan laut dan hal-hal yang tak kita bicarakan
( Langit dan Laut, Banda Neira)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s