Menunggu Kabar Danau Rana

PULAU BURU, 21 JULI 2017—Oto ke danau Rana belum menampakan bumpernya. Padahal seharusnya pukul enam pagi, oto yang dihubungi pak Muhammad akan menjemput saya dan dua kawan baru saya: Sherlly dan Dylan. Mungkin karena hari Jumat, supir oto enggan diburu-buru untuk salat Jumat. Atau, jalan menuju Rana masih putus oleh hujan di hulu. Tebak-tebakan ini saya akhiri dengan berkeliling desa Wamlana yang mulai terang. Siapa tahu saya mendapat jawabannya nanti. Saya mulai jalan-jalan pagi ini ke sebuah SD di dekat rumah Pak Muhammad.

Lonceng sekolah masih lama berdenting. Tapi murid –murid sudah ramai di halaman Sekolah Dasar Inpres Desa Wamlana, Kecamatan Fena Leisela, Pulau Buru. Sebagian dari mereka memadati warung kecil milik Bu Aci yang berada di ujung pagar sekolah. Di antara toples permen dan kue, nasi kuning menjadi incaran para murid pagi itu. Maklum saja, mereka ini tidak sempat mengisi perut kosongnya di rumah karena khawatir terlambat.

“Mamanyora, Mamanyora, Mamanyora!” teriak sejumlah murid sambil melambaikan lembaran Rp 2 ribu atau Rp 5 ribu.

MALUKU 2017__SUM25

MALUKU 2017__SUM26

Bu Aci pun sigap mengambil uang dan memberikan kembalian kepada murid-murid yang membayar dengan pecahan Rp 5 ribu. Ternyata sepiring kecil nasi kuning dengan taburan mi goreng dan potongan kecil telur dadar ini hanya Rp 2 ribu. Porsinya memang tidak banyak, tapi sudah bisa untuk perut anak SD kekenyangan. Awalnya, saya mengira “mamanyora” berarti “bayar”.  Simpulan ngawur ini membuat bu Aci sontak tertawa. Beliau mengoreksi bahwa  “mamanyora” adalah panggilan umum untuk istri guru. Gelar ini disandang bu Aci sejak ia menikah dengan pak Guru kelas IV di SD Wamlana.

Lonceng dibunyikan sekitar 7.30 WIT. Para murid berduyun-duyung masuk ke kelas. Sejenak Mamanyora bisa santai, sebelum diserbu lagi pada jam istirahat pukul 10 nanti. Saya mengintip anak-anak belajar. Benar-benar mengintip dalam arti sebenarnya. Niatnya tidak mau mengganggu bu guru yang sedang mengajar. Tapi toh ketahuan juga hahaha… Untung saja anak-anak ini tidak gaduh. Walau sesekali mereka berbisik ke teman bangkunya sambil melirik-lirik ke arah saya. Bu guru pun tersenyum ramah menyadari kehadiran saya.

MALUKU 2017__SUM27

Tidak terasa matahari semakin tinggi, sudah saatnya saya kembali ke rumah Pak Muhammad. Barangkali angkutan ke danau Rana sudah ada kabar. Namun, rumah masih lengang. Ima, putri pak Muhammad, juga belum tampak. Sedangkan Sherlly dan Dylan, masih di luar rumah. Saya kembali menyusuri desa. Kali ini, saya mencari pantai untuk sekedar untuk basahin kaki. Sudah tiga hari di pulau Buru, tapi belum bercengkrama dengan lautnya.

Keheningan menyambut saya saat menyentuh bibir Pantai desa Wamlana. Air lautnya sangat tenang serupa genangan. Tidak ada suara debur ombak dan tidak ada kebisingan aktivitas nelayan yang sudah berlayar jauh dari daratan. Mungkin laut Wamlana masih mengantuk oleh guyuran hujan semalam. Satu-satunya kegaduhan berasal dari gesekan kaki saya di atas kerikil. Saya mengantongi beberapa batu kecil untuk mengenang keunikan pantai Wamlana. Damai sekali berada di pantai ini sampai bayangan oto ke danau Rana menelusup masuk pikiran saya. Sudah sedekat ini, tapi inti pulau Buruh ini malah terasa jauh.

“Mungkin Rana tidak ingin saya datang?” 

MALUKU 2017__SUM28

Pantai berkerikil Desa Wamlana, Pulau Buru

Advertisements

PULAU BURU, SELAMAT PAGI!

 

MALUKU 2017__SUM18

Pulau Buru, 20 Juli 2017—Pagi pertama saya di pulau Buru  disambut hujan. Hampir bosan saya menunggu reda di dalam kamar. Akhirnya, saya dan dua kawan baru, Sherlly dan Dylan, sepakat menerobos hujan ke terminal lama Namlea. Kami titipkan keril di penginapan Senyum Bupolo. Di terminal, oto ke berbagai kecamatan pulau Buru sudah tersedia, termasuk ke pantai Jikumerasa yang menjadi target pertama.

Namun, informasi ke Danau Rana malah semakin terang saat kami menunggu oto (baca: mobil) ke Jikumerasa. Ibu-ibu yang sedang menunggu oto menjadi informan, walau masih “katanya”.  Spontan kami mengubah tujuan ke desa Wamlana yang menjadi desa transit menuju danau Rana di kecamatan Air Buaya. Tarifnya masih masuk akal Rp 40 ribu/ orang. Saya pikir aneh memang ke pantai di saat hujan sedang deras-derasnya.

Baju basah saya sudah mulai tiris setelah hampir satu jam menunggu oto penuh penumpang. Begitulah sistem angkutan di Buru. Mobil akan jalan kalau kursi sudah terisi 80% penumpang. Oto di Buru berupa colt lama  dengan kapasitas 12 orang plus satu kursi tambahan di baris ke tiga. Sementara oto jurusan Wamlana ini baru terisi 8 orang plus 2 anak-anak yang dipangku. Beberapa kali supir meminta pemakluman karena penumpang yang mereka sebut “Bu Guru” belum datang.

View this post on Instagram

Hujan pun saya dan 2 rekan baru saya terobos demi sampai ke terminal lama di kota Namlea. Rencananya kami mau ke Pantai Jikumerasa. Namun, informasi ke danau Rana semakin terang. Penduduk setempat menyebutnya kebagai "inti pulau", dimana suku asli pulau Buru berada. Adat masih kuat dipegang Kami pun merubah haluan. Dari terminal lama, kami naik angkutan menuju desa Wamlama, kecamatan Air Buaya. Pak supir mengatakan ongkosnya Rp 40 ribu. Dari Wamlama, banyak lagi yang mesti kami tempuh. Seorang bapak di dalam angkutan mengajak kami menginap dirumahnya setiba di Wamlama. Lumayan bernaung untuk kami tunggu mobil besok pagi yang akan membawa kami ke jantung pulau Buru. Semoga adat dan alam berkehendak #sumurdiladanggotoburu #goprohero4 #instamood #wonderfulindonesia #maluku #wonderfulmoluccas #backpacker #travelblog salam #sumurdiladang

A post shared by nita kelana (@sumurdiladang) on

Baru kemudian saya ketahui, bu Guru ini adalah istri pemilik oto. Dan, pemilik oto ternyata penumpang dengan ponco biru  yang duduk di baris kedua. Pemilik oto yang kemudian saya ketahui namanya Pak Muhammad ini menanyakan tujuan saya. Ia memberi banyak informasi tentang cara menuju hingga larang-larangan selama masuk ke inti Pulau Buru ini. Bahkan pria keturunan Salasiwa, salah satu suku asli Buru, ini menawarkan saya untuk menginap di rumahnya. Keramahannya saya sambut hangat. Karena berdasarkan informasinya, oto ke danau Rana baru ada esok hari.

Namlea-Wamlana bisa ditempuh hanya 2 jam. Namun, mobil pak Muhammad ini muter-muter di Kota untuk mengantar beras dan menjemput sejumlah penumpang yang sudah menelpon lebih dulu. Keren kan, oto bisa jemput sampai di depan pintu rumah.

“Bu, seperti ini angkutan di sini. tidak seperti di Jakarta,” ucap Pak Muhammad minta pemakluman lagi.

Dua belas penumpang dan empat anak-anak akhirnya memenuhi kursi. Jalanlah ini oto ke Wamlana. Deretan pohon minyak kayu putih, pantai yang membentang di kanan jalan, rumah penduduk, dan air terjun kecil menjadi hiburan mata dari dalam Oto yang padat penumpang. Salah satu pantai yang kami lewati adalah Jikumerasa yang awalnya menjadi tujuan saya. Di bawah derai hujan, pantai Jikumerasa masih terlihat biru pucat dan  tenang.

MALUKU 2017__SUM16

Hari sudah sore saat saya tiba di rumah Pak Muhammad. Di Teras rumah, beberapa sanak keluarga pak Muhammad sedang berkumpul. Ternyata, sore itu juga pak Muhammad dan keluarga harus ke Ubung. Ibu mertua Pak Muhammad jatuh sakit.

Setelah menyuguhi teh hangat, 3 toples cemilan lebaran, dan petuah tentang danau Rana, pak Muhammad dan keluarga bergegas ke Ubung naik oto yang tadi kami tumpangi. Di rumah bersisa Ima, salah satu anak Pak Muhammad yang sedang berlibur dari kuliahnya di Malang. Dalam petuahnya tadi, kami diperingatkan untuk menjaga perkataan dan sikap, tidak gaduh saat melihat hal gaib, meminta ijin saat ingin memotret, dan melepas segala perhiasan. Agak deg-degan juga saya karena ketat adat di Danau Rana. Apalagi bu Bidan, anak sulung Pak Muhammad, bercerita bahwa baru-baru ini rekannya asal Ambon terjatuh dari sampan karena tidak melepas cicin. Pantangan perhiasan ini membuat rekan jalan saya ragu. Karena ia memiliki beberapa piercing di sekitar bibir yang segan dibuka.

Selain Danau Rana, ada dua lokasi tujuan favorit penduduk Wamlana, yakni Teluk Bara dan pulau Pasir Putih. Tergoda juga saya mendengarnya. Apalagi jika bisa bermalam di kampung yang dekat pantai. Sementara Sherlly dan Dylan undur diri untuk tidur, Ima mengajak saya berkeliling kampung yang sudah gelap dan masih rintik hujan. Kami singgah di warung mie siram sebelum kembali ke rumah.

MALUKU 2017__SUM20

 

 

“Tante Nita!” panggil Dilan yang sudah ada di dalam warung duluan.

Dylan bersama Jun, anak laki-laki pak Muhammad, sedang menyantap mi kuah. Saya mengira mi kuah sejenis mi gelas yang disiram air panas. Ternyata mi kuah ala Wamlana lebih spesial. Mi yang diadon sendiri oleh penjualnya ini direbus dalam air mendidih. Kemudian, ditaburi suir ikan cakalang dan perasan jeruk cina. Jeruk ini konon hanya ada di pulau Buru. Semangkuk mie kuah Rp 3 ribu. Namun, saya memesan porsi Rp 5 ribu tambah 1 bakwan Rp 1,000. Segar sekali makan malam saya ini. Perut kenyang dan hawa dingin Wamlama membuat kantuk segera datang.

“Selamat malam Wamlana!”

 

PADA SEBUAH KAPAL: 34 Jam kemudian (Day 2)

DCIM100GOPROG0182860.

KM Sangiang memasuki bagian kepala Pulau Buru.

Ternate-Buru, 19 Juli 2017—Wajah-wajah kemenangan terpancar dari penumpang, tatkala sang pengeras suara menyatakan KM Sangiang resmi merapat di pelabuhan Namlea, Pulau Buru. Begitu pula dengan saya. Segera saya bopong tas yang lebih menyerupai tempurung kura-kura ini. Di ambang pintu keluar, kru kapal sudah berbaris untuk melepas kelulusan kami dari 34 jam pelayaran  Ternate-Namlea.

“Mantap!” ucap reza, salah satu kru keamanan KM Sangiang sambil mengacungkan ibu jarinya ke arah saya. 

Langit Namlea sudah gelap saat untuk kali pertama, kaki saya menginjak daratan pulau Buru. Ketibaan KM Sangiang meleset 3 jam dari jadwal. Seharusnya pukul 6 sore tadi kami sampai. Ombak memang sedang besar selama perjalanan. Seringkali airnya menampar-nampar sampai jendela samping tempat tidur saya di deck dua.

Lampu-lampu pelabuhan yang minim cukup untuk mengarahkan saya ke pintu keluar dermaga. Saya  masih bersama Sherlly dan Dylan. Keduanya adalah traveler ibu-anak asal Bali  yang  saya kenal dalam  KM Sangiang. Kebetulan kami memiliki tujuan sama. Dalam temaram, kami menyusuri jalan mencari penginapan. Berdasarkan informasi petugas pelabuhan, tidak jauh dari gerbang ada banyak penginapan. Bisa dicapai dengan ojek atau berjalan kaki. Ojek biasanya Rp 5 ribu untuk jarak dekat. Kami memilih berjalan kaki walau medannya cukup terjal dan menikung tajam.

Di jalan atas, penginapan berbagai tipe dan fasilitas sudah  ada. Kami memilih penginapan paling murah agak ke dalam. Penginapan Senyum Bopolo. Harga perkamarnya Rp 150ribu dengan fasilitas kipas, televisi kabel, kamar mandi, dan 2 kasur besar. Walau sebelum tidur kami harus menjadi cockroachbuster. Selamat malam dan mari beristirahat…

PADA SEBUAH KAPAL:  Satu Jam Di Sanana (Day 2)

MALUKU 2017__SUM11TERNATE-BURU, 19 JULI 2017—Kawanan lumba-lumba timbul dan tenggelam di dekat kapal Pelni KM Sangiang yang masih melaju. Saya terkejut oleh kemunculan mereka sampai lupa membidik kelincahannya. Hanya saya yang terlihat antusias, sementara penumpang lain santai-santai saja melihat kawanan mamalia tersebut.

“Itu tandanya sudah dekat,” canda seorang penumpang.

Dan benar saja, Pelabuhan Sanana mulai tampak di balik kabut hujan pagi itu. Sanana  bukan tujuan akhir perjalanan saya. Namun, saya putuskan untuk ikut turun untuk menjejak daratan setelah 21 jam mengarungi laut. Si pengeras suara mengumumkan KM Sangiang hanya akan bersandar dua jam. Dengan durasi sesingkat itu, saya tidak mungkin berjalan jauh dari pelabuhan. Apalagi gerimis masih membayangi pagi.

Suasana pelabuhan Sanana tidak ramai.  Saya pun menyusuri sisi kanan dermaga mencari objek menarik untuk dijepret. Pantai di pelabuhan cenderung kotor oleh sampah kemasan dan patahan kayu. Saya berpindah ke kiri dermaga dimana Landmark bertuliskan “Pelabuhan Sanana” terpampang. Walau dua huruf terakhirnya sudah mengelupas, landmark jingga ini masih terlihat menarik. Masalahya tetap sama, sampah tak kalah banyaknya. Saya ber-swa foto sebagai pengikat memori bahwa saya pernah turun di ibukota pulau Sula ini. Beberapa warga keheranan melihat kenarsisan saya. Mungkin belum banyak pejalan yang singgah. Padahal konon, pulau yang berjarak 284 km dari Ternate ini memilki potensi wisata alam yang belum banyak dijelajahi.

MALUKU 2017__SUM13

Di muka  landmark, kapal-kapal kayu kecil mulai berdatangan. Mereka menyebutnya ‘johnson’. Beberapa Johnson bermuatan orang dan barang ini berusaha melawan ombak yang pecah sebelum sampai ke tepi. Tapi juru kemudi  cukup mahir mengendalikan situasi sehingga penumpang dan muatan tidak terjungkal. Seorang penumpang lansia tampak legah saat kakinya menyentuh daratan. Begitupula dengan kolega si Pak Tua yang sudah menanti di tepi.

“Biasanya, kapal bersandar di sana,” tunjuk Pak Muchdin ke arah dermaga kecil.

Namun, tamparan ombak membuat dermaga beton sulit didekati. Pak Muchdin sudah 30 tahun hidup di Sanana. Karena itu, sebagai warga pendatang ia sudah akrab dengan suasana pelabuhan. Kedatangan Perantau asal Tuban Jawa Timur ini ke pelabuhan tidak untuk menunggu kolega. Tumpukan kasdi di salah satu Johnson lah yang membuatnya setia berdiri di bawah hujan tipis. Kasdi adalah sebutan singkong dalam bahasa lokal.  Begitu johnson dari pulau Mungoli ini menepi, Pak Muchdin dan warga lain mulai menyambar kasdi-kasdi yang diturunkan juru kemudi.

MALUKU 2017__SUM12

Menurut Pak Muchdin, kasdi asal Mungoli berukuran besar. Jadi bisa menghasilkan keripik dengan potongan yang bagus. Produsen keripik ini memborong 12 ikat kasdi seukuran betis orang dewasa. Satu ikat dihargai Rp 10 ribu. Di tepi pantai, ibu penjual kasdi tersenyum melihat hasil kebunnya ludes tak sampai setengah jam.

 “Kepada seluruh penumpang dan kru KM Sangiang untuk segera kembali ke Kapal. Kapal akan segera berangkat,” pengumuman dari pengeras suara.

MALUKU 2017__SUM14

Seharusnya masih 1 jam lagi KM Sangiang bertolak ke Pulau Buruh. Tapi apapula, saya turuti saja perintah si pengeras suara. Tak sempat saya pamit dengan pak Muchdin yang sedang sibuk memindahkan borongan kasdinya ke darat. Hanya lambaian tangan dari jauh yang saya lontarkan kepada beliau yang dibalas dengan lambaian pula. Selamat tinggal Sanana…

PADA SEBUAH KAPAL: Gara-gara Ikan Tongkol (Day 1)

KM Sangiang

Ternate-Buru,18 Jul 2017– 32 jam, perkiraan waktu tempuh Kapal Pelni KM Sangiang menuju Pulau Buru, Maluku. Ini berarti sekitar satu setengah hari, saya akan hidup sebagai manusia kapal. Buku obralan setebal 432 halaman, satu liter air mineral, lima unduhan film, dan kamera dengan baterai penuh sudah saya siapkan untuk membunuh rasa bosan jika menyerang. Ini adalah perjalanan laut terpanjang kedua saya setelah Sail Komodo pada 2013 silam.

Sebenarnya, Pulau Buru merupakan plan b pada misi saya mengarungi perairan Maluku Utara dan Maluku. Rencananya setelah menjelajahi Ternate selama tiga hari, saya ingin  ke Banda Neira. Namun, kabar buruk datang dari penyeberangan yang melayani  jalur tersebut. Gelombang sedang tinggi . Jadi, Kapal Ekspress Bahari tutup sementara hingga Agustus. Tujuan pun saya geser ke pulau sebelah barat daya Ambon. Setali tiga uang, ada kapal Pelni yang berlayar dengan rute Ternate-Sanana-Buru-Ambon. Tak apalah saya pikir jika harus berhenti di satu pulau. Yang penting saya sampai di pulau Buru. Kabar tentang pantai-pantai cantik di pulau bekas pembuangan tahanan politik ini memikat minat saya.

KM Sangiang masih berlayar dari Bitung saat saya tiba di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate. Saya menunggu dengan mengantongi tiket seharga Rp 238 ribu yang saya beli langsung di loket. Selain melayani pembelian langsung, Tiket Pelni bisa dipesan melalui online di situs resminya. Saya memilih cara lawas untuk mengantisipasi keterlambatan yang menjadi hobi Pelni. Untungnya, Langit Ternate yang terus diguyur hujan sudah kembali membiru. Ini akan menjadi awal yang baik pada perjalanan saya di atas kapal.

View this post on Instagram

Ini bakal menjadi perjalanan paling lama dengan kapal Pelni di kelas ekonomi. Langit cerah adalah awal yang baik untuk perjalanan panjang. berkenalan pula dengan traveller seorang wanita asal Bali dan anaknya yg masih SD. Kebetulan tujuan kami sama: Pulau Buru. Kapal Pelni KM Sangiang bertolak dari pelabuhan Ternate pukul 11 pagi. Bergeser 1 jam dari jadwal yg tertera di loket tiket. Ternyata tiket yang saya beli Rp 238ribu ini sudah termasuk tempat tidur sejenis bunkbed dan makan selama di kapal. Tadi, anak si ibu sempat menawarkan pertolongan untuk mengambil jatah makan siang saya. Namun, saya berpikir perlulah untuk saya mengalami langsung apa pun yang terjadi dalam 32 jam perjalanan laut ini #SumurdiladangGoToBuru #MolucasEtape2 #wonderfulindonesia #wanderlust #pelniline #wonderfulmoluccas #snorkeling #freedive #goprohero4 #instagood #jalanjalan #backpackers #solotravel salam #Sumurdiladang

A post shared by nita kelana (@sumurdiladang) on

KM Sangiang bertolak dari Pelabuhan Ternate sekitar pukul sebelas pagi. Bergeser satu jam dari jadwal yang diumumkan di loket tiket. Kru yang berdiri di muka tangga mengarahkan saya untuk turun ke dek 2. Kapal berkasitas 510 penumpang ini hanya menyediakan satu kelas, yakni ekonomi. Seluruh dek diisi dengan kasur hijau terang berukuran sekitar 180×60 sentimeter. Kasur tersebut disusun berjajar di atas dipan besi dengan sekat kecil di bagian kepala. Rasanya seperti berada di penginapan domitori. Setiap kasur dilengkapi stop kontak untuk mengisi daya ponsel. Lumayan bisa online terus selama perjalanan. Tapi dengan term and condition apply:  kalau ada sinyal hahaha…  KM Sangiang belum dilengkapi wi-fi seperti  dua kawannya, KM Kelud dan KM Tidar.

Saya memilih posisi dipan paling pojok di bawah jendela bulat. Ini berbeda dengan kapal  fery yang mengharuskan penumpang menempati dipan sesuai nomor yang ditulis di tiket. Pada 32 jam perjalanan ini, saya bersebelahan dengan perempuan muda bernama Riri. Tetangga dipan saya ini ingin pulang ke Desa Dafa bersama suaminya di pulau Buru setelah merantau ke Morotai selama dua tahun.

“Saya tidak betah di sana, dapat uangnya susah. Tidak seperti di Dafa bisa pegang uang setiap hari. Tambang emas di gunung Botak,” cerita perempuan yang tengah hamil jalan empat bulan ini.

 

 

Gunung Botak memang sedang hits di kalangan penambang tradisional. Sekitar 70% penumpang KM Sangiang yang saya ajak mengobrol memiliki tujuan gunung di desa Wamsait tersebut. Ada yang dari pulau Jawa, Manado, Gorontalo, Ternate dan asal Pulau Buru sendiri. Walau mendapatkan biji emasnya tidak semudah dulu, tapi gunung Botak tetap menyilaukan mata para penambang. Salah satu penumpang bercerita satu gram emas kadar tinggi bisa dihargai Rp 460 ribu. Sedangkan kadar rendah sekitar Rp 320 ribu/ gram. Berminat pula saya ke sana. Saya dan Riri kemudian bertukar nomor kontak. Suaminya akan mengantar jika saya ingin memotret di sana. Karena, tingkat kriminalitas di gunung Botak cukup tinggi.

Cerita tentang gunung Botak ini juga menarik minat tetangga dipan di depan saya, Sherly dan Dylan. Backpacker ibu-anak asal Bali ini kemudian menjadi patner perjalanan selama beberapa hari di pulau Buru. Lumayan untuk menekan biaya dan menjadi teman ngobrol. Apalagi bocah yang akan berusia sebelas tahun besok ini cukup gemar bercerita pengalaman backpackernya hingga Asia Tenggara.

“Kepada penumpang KM Sangiang, makan siang bisa diambil di pantry,” kabar gembira dari pengeras suara.

Pantri yang dimaksud berupa jendela sekitar  100 x 50 sentimeter yang terletak di dekat pintu masuk kapal. Dari balik jendela berteralis besi  tersebut makanan didistribusikan. Petugas di depan jendela membantu mencontreng kolom makan yang tercetak di balik tiket. Mendaratlah itu makan siang dalam kotak serupa kemasan take away Hoka-Hoka Bento. Tentu bukan cacahan beef teriyaki apalagi potongan imut chicken katsu yang tersusun di dalam kotak,  melainkan sepotong ikan tongkol, secomot ongseng sawi putih, dan seabrek nasi putih. Oia dapat segelas air mineral juga.

Saya jadi teringat cerita seorang senior di kantor tentang pengalaman mudiknya dengan kapal Pelni saat ia masih bujang. Dulu, makanan disajikan dalam piring besi yang dituang asal. Rasanya juga tidak karuan katanya. Ia pun menyesal  gaya-gayaan memilih kelas ekonomi. Padahal abang si senior sudah menawarinya duduk di kelas I bersama anggota keluarga lain.

Selama 32 jam, saya mendapat 5 kali makan dengan menu yang divariasikan. Ikan tongkol berganti dengan ikan goreng yang ukurannya semakin kecil atau selembar  telor. Sawi putih diganti terong balado, bihun, atau sayur lodeh. Air mineral diselingi dengan sari buah apel Jungle atau sekotak susu Diamond 125 ml. Saat makan siang kedua, saya mendapat ekstra biscuit Slai O’lay. Hanya nasi seabrek yang menjadi pemain tetap dalam sekotak makan KM Sangiang. Beberapa penumpang yang sudah berpengalaman membawa ekstra lauk dari daratan. Saya abadikan makanan perdana saya sebelum berpindah ke perut.

 

 

“Mbak dari instasi mana? Di kapal dilarang foto. Lihat id-nya,” sumber suara di belakang membuat saya melongo.

“Hah, masa? Baru tahu saya. Sering naik kapal tapi baru ini enggak  boleh foto,” saya menimpali petugas keamanan kapal bertubuh besar tersebut.

“Mbak, bapaknya minta difoto itu,” canda kru yang ingin mencairkan air muka saya yang mengeras.

Seketika, cewek gondrong dengan jeans pendek belel dan gembolan drybag pink neon menjadi sorotan di lorong pantry. Saya lekas menutup kembali makan siang saya dan turun ke deck sambil tersungut-sungut. Saya urungkan niat untuk berplesir singkat ke seantero kapal seperti yang biasa saya lakukan saat menggunakan transportasi laut. Cem manah ini, saya membayangkan 32 jam berlayar dengan larangan foto. Saya mencoba mengonfirmasi aturan tersebut ke seorang kawan yang bekerja di Pelni pusat.

“Masa! Kapal apa cuy?” balas kawan saya.

Di dalam deck lagi-lagi beberapa penumpang pria mulai mengebul. Padahal, kru acap kali mengingatkan untuk merokok di luar. Kru kebersihan yang kebetulan lewat pun mengomeli penumpang yang membandel ini. Kapal ini memang cukup tegas terhadap perokok yang mengebul di dalam deck. Kedatangan kru kebersihan ini disusul oleh petugas kemanan yang bukannya menghampiri si perokok, alih-alih berjalan ke arah saya.  Ah… mau apalagi ini. Saya pikir sudah selesai perkara di pantry.

Petugas keamanan ini berbeda dengan yang di pantry tadi. Ia bertubuh lebih kurus dan tinggi. Dari bet nama di seragam biru dongkernya, saya ketahui ia bernama Reza.  Dengan santun, Reza menyampaikan maksud kedatangannya. Ia diminta rekannya untuk memastikan saya  menghapus foto-foto tadi.  Saya tetap skeptis terhadap aturan tersebut. Reza sendiri tidak mengetahui pasti akan eksistensi aturan larangan foto. Ya sudahlah… mungkin petugas keamanan di pantry tadi sedang lelah. Masalah foto tuntas sudah tanpa saya menghapus satu frame pun. Perbincangan larangan foto pun meluas ke laut-laut indah di Indonesia. Termasuk tentang  laut di kampung halaman Reza, Banda Neira.

  

KM Sangiang

Dan dengarkan ombak yang datang menerjang kuatmu
Dan dengarkan arus yang datang nyatakan lemahmu
Langit dan laut dan hal-hal yang tak kita bicarakan
Langit dan laut dan hal-hal yang tak kita bicarakan
( Langit dan Laut, Banda Neira)