GET LOST IN WAYAG, RAJA AMPAT #3

(CHAPTER 3. DESA ITU BERNAMA FAM’S)

Lamunan tentang nasi hangat dan ikan sambal dabu-dabu buyar oleh kapal yang bergerak menjauh dari daratan. Rupanya, nahkoda kapal memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan ke pulau berpenduduk bernama Pam. Berdasarkan informasi manusia di seberang daratan sana, Pam tidak jauh. Baru saya ketahui kemudian bahwa daratan tadi adalah sebuah cottage. Oleh karena itu, kami tadi sukar untuk merapat. Tersisip perasaan legah bahwa nahkoda sudah mengetahui posisi kami. Setidaknya kami masih di Raja Ampat, bukan di Maluku.

Tak sampai sepuluh menit, kapal sudah menepi di sebuah dermaga kayu. Cuitan kawan-kawan pun kembali terdengar. Akhirnya, kami kembali menginjakan kaki di daratan. Saat tiba, Pulau Pam sudah sepi dan gelap. Ada satu sumber cahaya  diujung dermaga mencerahkan mata. Semoga ini bukan fatamorgana.

“Tuh, ada warung tuh,” kata saya.

Seperti laron, tujuh kawan langsung ngacir ke sumber cahaya. Mimpi apa pemilik warung, malam-malam diserbu wisatawan Jakarta yang bentuknya sudah enggak karuan. Warung kelontong ini cukup besar dan lengkap. Dari mulai kebutuhan pokok, berenceng-renceng cemilan, hingga berbagai jenis pakaian tersedia. Ine dan Anif yang sudah kedingingan menyambar sepasang babydoll hijau dan krem yang digantung  di etalase warung. Sedangkan, Ijang membeli kaos pokemon berwarna biru tua.

“Yang paling mending ini. Tadi malah ada yang om telolet om,” Ijang memamerkan kaos pokemon barunya.

Sambil menunggu beberapa kawan yang masih berjibaku di kamar mandi warung, saya mencoba mencari letak Pulau Pam di dalam peta ala kadar yang saya bawa. Peta ini sebenarnya hanya flyer  sebuah eco resort yang mencantumkan peta kepualauan Raja Ampat. Lembaran kertas ini pun menjadi berharga saat Google Map tidak berdaya. Boro-boro sinyal internet, jaringan telepon saja muncul dan tenggelam.

Saya tidak menemukan Pulau Pam di dalam peta berukuran A5 tersebut.  Awalnya saya pikir Pam ini singkatan “Perusahaan Air Minum”. Saya perlihatkan peta ini kepada Pak Heka Sauyai, suami bu Wisye. Ia mengarahkan jarinya ke salah satu simbol kotak merah bergaris putih di paling ujung kiri bawah. Di ikon selam tersebut bertulis “Fam’s Village”. Baru teranglah posisi kami di muka bumi. Fam’s terletak di bawah pulau Pianemo yang seharusnya menjadi destinasi besok. Menurut peta, Painemo berjarak dua jam dari pulau Mansuar. Hal konyol jika kami memaksa balik ke Mansuar malam itu juga.  Bensin kapal kami tidak cukup menempuh perjalanan sejauh itu. ABK mengatakan penjual bensin subsidi hanya ada di desa lain. Mau tidak mau, kami bermalam di desa Fam’s.

“Malam ini, kita tidur di sini dulu. Ada rumah saudara suami di sini,” ucap bu Wisye.

Tidur beratap rumah jelas terdengar mewah daripada terombang-ambing di atas kapal. Saya dan Citra mengikuti bu Wisye membelah jalanan desa yang sudah gelap. Sementara beberapa kawan masih saja betah di kamar mandi warung. Dalam perjalanan, bu Wisye bercerita bahwa ia tidak mengetahui punya saudara di pulau Fam’s. Perempuan asal Ambon ini jarang mengikuti acara keluarga dari suami yang dinikahinya beberapa tahun lalu itu.

Hujan deras tanpa bak bik buk mengguyur Fam’s. Untungnya, semua kawan sudah berkumpul di rumah. Dengan latar desau hujan, kami mengatur rencana untuk esok hari. Perbedaan pendapat sempat mencuat dalam rapat kecil kami. Sebagian ingin lanjut ke Pianemo. Sebagian lagi menginginkan langsung kembali ke homestay di Pulau Mansuar. Dengan pertimbangan waktu dan biaya, kami sepakat melanjutkan petualangan ke Pianemo “the little Wayag”.

Di balik kejadian get lost ini, banyak hal positif yang kami tuai kemudian. Salah satunya, kami diganjar kompensasi dari bu Wisye dan pemilik kapal. Bu Wisye bercerita bahwa si juragan sempat mengerahkan sejumlah kapal untuk mencari awaknya yang tidak juga pulang. Di pulau Mansuar, satu desa pun mengetahui kami kesasar. Bagaimana tidak, bu Wisye yang menjadi juru kuci Gereja hilang tak ada kabar selama berjam-jam.

“Besok hari Minggu toh . Kunci Gereja ada di saya,” kata mantan guru matematika ini.

Raja Ampat, Papua
Formasi 3-4-2 di rumah family Pak Heka di Desa Fams.

Sekitar pukul sebelas malam, kami mulai mengatur posisi tidur. Jangan bayangkan kasur membel dengan bedcover tebal. Bisa merebahkan badan di atas tikar pun sudah anugerah. Belum sempat jatuh ke alam mimpi, pemilik rumah tiba-tiba membawakan kasur berukuran king. Kami menolak halus, tapi pemilik rumah tidak mengindahkan. Ia malah membawakan dua kasur lagi berukuran single dan beberapa bantal-guling.

Sampai saat ini, saya masih merasa bersyukur menunaikan “umrah” ke Raja Ampat bersama Anif, Ine, Lia, Tita, Icha, Wilda, Citra, dan abang saya, Ijang. Hilang arah di tengah laut yang gelap menjadi cerita yang seru. Tapi kalau ada opsi enggak pakai nyasar, pasti kita milih yang lempeng sampai pulau Mansuar.  Mereka  dalam situasi yang enggak sesuai bayangan  ini masih bisa selow, fleksibel, dan enggak deramah. Semua kaya sudah diatur.

“Jalan sama kita ada aja ceritanya. Mayan, kita jadi deket ke Pianemo. Dapat bonus satu pulau lagi, Pam’s Village. Hahaha…,” kelakar kami menutup hari.

Raja Ampat, Papua
Kami bersama bu Wisye (baju ungu), Mama (dua dari kiri), dan Pak Heka (kanan) di Mangrove Homestay di Pulau Mansuar, Raja Ampat.

 

Get Lost In Wayag, Raja Ampat #1 [Prolog] 

Get Lost In Wayag, Raja Ampat #2 [Tujuh Jam Sebelum]

Advertisements

2 thoughts on “GET LOST IN WAYAG, RAJA AMPAT #3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s