Mandi Pagi di Air Terjun Batanta, Raja Ampat

 

Raja Ampat, Papua

PAPUA, 8 MEI 2017–Pak Francis mempererat persilangan tangan di depan dadanya. Tubuh berisinya tampak sedikit gemetar. Kaus hitam tanpa lengan yang dikenakan Pak Francis pagi itu tidak cukup menahan udara yang tiba-tiba menyejuk. Namun, ia harus tetap berdiri di anjungan kapal sebagai mata pengganti Pak Noak yg mengemudikan mesin di belakang. Suara lirih mesin kapal Pak Noak membelah keheningan hutan bakau di Pulau Batanta, Raja Ampat, Papua.

Pulau Batanta merupakan pulau terkecil di antara empat pulau utama di Kepulauan Raja Ampat. Luasnya sekitar 453 km². Dari kejauhan, pohon-pohon besar masih menutup rapat sebagian besar Pulau. Pagi itu, hanya kapal pak Noak yang melintas di muka Batanta. Sepertinya, banyak pejalan yang melewatkan Batanta sebagai destinasi. Padahal pulau yang terletak di utara pulau Salawati ini menyembunyikan pesona sumber air tawar di jantungnya. Penduduk lokal menamainya air terjun Warmon. Air terjun inilah yang membuat saya, Nova, Nuni, Idha, Diah, Andri, Dewi, Ria, dan Widha  bangun pagi-pagi sekali.

Raja Ampat, Papua

“Tidak mau ke Batanta? Ada air terjun. Bagus,” usul Bu Wisye, pemilik homestay yang kami inapi di Pulau Mansuar. 

Saya berpikir tidak ada ruginya menyisipkan Batanta ke dalam rencana perjalanan pada hari ketiga. Lumayan sebagai selingan air tawar setelah berhari-hari bermain air asin. Lagi pula, saya belum pernah menginjakan kaki di Pulau Batanta sejak kali pertama bertandang ke Raja Ampat. Delapan teman lain pun setuju.

Sekitar pukul enam pagi waktu indonesia bagian timur (WIT), kami menuju pulau yang berada di sebelah barat Sorong ini. Gelombang laut masih tenang. Semilir angin pagi serasa “meninabobokan” mata. Namun, matahari yang terbit di sisi kiri kapal membuat mata saya terjaga. Sayang, jika pemandangan indah ini dilewatkan dalam lelap.

Bu Wisye memperkirakan perjalanan akan memakan waktu dua jam. Baru satu jam, kapal sudah memasuki mulut hutan bakau Batanta.  Pohon-pohon tinggi menjulang membuat suasana hutan bakau lebih teduh. Udara berubah sejuk. Kami pun larut dalam keheningan hutan. Ada perasaan damai sekaligus waswas. Potongan adegan film Alligator terbayang dibenak. Bagaimana buaya yang menjadi tokoh utama film tersebut mengendap dalam air gelap dan menerkam tiba-tiba. Saya membatalkan niat  menyentuh air muara yang berwarna kehitaman.

Lebar muara hutan bakau Batanta sekitar empat meter. Sangat cukup untuk kapal berkapasitas 12 orang melintas. Namun Pak Francis tetap siaga memberi kode kepada Pak Noak agar perahu tak menabrak akar-akar bakau yang menjulang ke permukaan. Setelah melewati muara yang berkelok, kapal berhenti di sebuah dermaga kayu. Daun kuning kecokelatan berserakan di atas dermaga yang lembab dan licin. Dermaga sepanjang sekitar 100 meter ini tampak jarang dilewati.

Raja Ampat, Papua

“Pak, jalurnya mendaki seperti di Teluk Kabui enggak?” tanya saya kepada Pak Francis.

Sudah beberapa hari, kami selalu disuguhi tanjakan dan ratusan anak tangga demi mencapai puncak bukit. Jadi, saya harus menyiapkan dengkul kalau-kalau bertemu tanjakan lagi. Untung saja, jalan menuju Warmon landai. Kami hanya perlu berhati-hati menginjakan kaki di tanah yang basah. Vegetasi di pulau Batanta sangat baik. Berbagai flora dan fauna endemik hidup bebas di hutan hujan tropis tersebut. Langkah saya spontan terhenti saat mendengar teriakan Wida. Seekor ular bergelung di depan perempuan asal Tasikmalaya ini. Dewi yang berjalan di depan Wida segera menarik lengan sahabatnya dengan gemas.

“Itu ular cincin. Tidak berbahaya,” jelas Pak Francis menenangkan kami.

Saya jadi lebih mawas memerhatikan pijakan. Untung saja, tidak ada seekor ular pun yang nongol. Hanya serangga mirip kaki seribu yang kadang terlihat. Suara gemuruh Warmon menyelinap di balik pepohonan. Langkah kaki saya percepat agar lekas tiba di kaki air terjun. Tak sampai 15 menit berjalan, air terjun setinggi sekitar tujuh meter sudah berdiri tegak di depan mata. Volume air Warmon tidak besar karena hujan jarang turun di hulu sungai.

Pak Noak menyeburkan diri ke dalam Waremo dan berenang mendekati ceruk serupa gua kecil  di dinding air terjun. Dinding air terjun Warmon mengingatkan saya pada air terjun Bantimurung di Maros Sulawesi. Batunya bukan berupa batu cadas, melainkan sejenis batu kapur yang berwarna putih kecokelatan. Di depan ceruk, ia berpose bak model. Kami tertawa melihat tingkahnya. Diah, Nuni dan Nova menyusul kemudian. Mereka tampak menikmati dinginnya air yang menusuk rusuk. Ingin rasanya ikut mandi pagi di kolam kehijauan Warmon. Namun, saya dilema antara harus memotret atau menyeburkan diri. Memotret dalam keadaan basah akan menyiksa alat bidik yang baru saja kembali dari servis.  Saya pun hanya berendam hingga mata kaki.

Raja Ampat, Papua

Selain Warmon, ada sebuah air terjun yang lebih besar di hulu sungai. Airnya menjuntai dengan ketinggian di atas 10 meter. Diameter kolamnya juga lebih besar. Dari Warmon, air terjun ini bisa digapai dengan mendaki hulu sungai sekitar satu jam. Walau medannya lebih berat, wisatawan akan terhibur oleh suara burung-burung dari puncak pohon dan pepohonan hutan hujan tropis yang berusia ratusan tahun. Kami tidak sempat ke sana.

Bu Wisye memanggil kami untuk kembali ke kapal. Dia khawatir air muara akan surut lebih cepat dan menyulitkan kapal keluar dari hutan Bakau. Diah, Nunik dan Nova mengakhiri keriangan mandi pagi di bawah gemericik Warmon. Kami kembali meniti jalan yang tadi dilewati. Suara gemuruh air semakin samar ditelan keheningan hutan bakau. Kali ini, jalan lebih terang karena sinar matahari sudah menembus pepohonan. Tak sampai sepuluh menit, kapal pak Noak sudah meninggalkan mulut hutan bakau Batanta.

Raja Ampat, Papua

Selain air terjun dan aktivitas trekking di tengah hutan hujan tropis, wisatawan juga bisa melakukan pengamatan burung. Pak Francis berkisah beberapa tahun lalu ada warga yang melihat burung purba yang hidup di hutan Batanta. Namun tidak ada penjelasan apakah itu jenis Archaeopteryx atau Pterodactyl. Kisah si burung purba juga masih simpang-siur. Di sekitar pulau Batanta, terdapat titik untuk menyelam dan snorkeling. Penyelam bisa menikmati terumbu karang yang menyelimuti pesawat P47 milik angkatan udara AS yang karam pada perang dunia II di perairan Pulau Wai di dekat Batanta.

Walau menjadi pulau bungsu di antara empat pulau utama Kepulauan Raja Ampat, Batanta menyimpan kekayaan hayati yang belum banyak terjamah. Menyurusi hutan hujan tropisnya memberikan warna petualangan “empat kerajaan” yang tidak melulu air asin. Injo Raja Ampat! Injo Papua!

Raja Ampat, Papua

CATATAN KAKI

  • Berkunjung ke air terjun Batanta lebih baik sejak pagi saat air pasang
  • Menuju Batanta juga bisa langsung dari Sorong dengan menyewa speedboat Rp 5juta/hari
  • Jika ingin bermalam di Batanta, ada resort di pantai timur laut Batanta
  • Bawa bekal makanan dan minuman yang cukup karena tidak ada penjaja makanan, tapi semua bungkus harus dibawa lagi ke kapal
  • Gunakan sandal gunung atau sepatu trekking karena jalur menuju Batanta berupa tanah basah dan lumpur
  • Gunakan lotion anti serangga
Advertisements

GET LOST IN WAYAG, RAJA AMPAT #3

(CHAPTER 3. DESA ITU BERNAMA FAM’S)

Lamunan tentang nasi hangat dan ikan sambal dabu-dabu buyar oleh kapal yang bergerak menjauh dari daratan. Rupanya, nahkoda kapal memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan ke pulau berpenduduk bernama Pam. Berdasarkan informasi manusia di seberang daratan sana, Pam tidak jauh. Baru saya ketahui kemudian bahwa daratan tadi adalah sebuah cottage. Oleh karena itu, kami tadi sukar untuk merapat. Tersisip perasaan legah bahwa nahkoda sudah mengetahui posisi kami. Setidaknya kami masih di Raja Ampat, bukan di Maluku.

Tak sampai sepuluh menit, kapal sudah menepi di sebuah dermaga kayu. Cuitan kawan-kawan pun kembali terdengar. Akhirnya, kami kembali menginjakan kaki di daratan. Saat tiba, Pulau Pam sudah sepi dan gelap. Ada satu sumber cahaya  diujung dermaga mencerahkan mata. Semoga ini bukan fatamorgana.

“Tuh, ada warung tuh,” kata saya.

Seperti laron, tujuh kawan langsung ngacir ke sumber cahaya. Mimpi apa pemilik warung, malam-malam diserbu wisatawan Jakarta yang bentuknya sudah enggak karuan. Warung kelontong ini cukup besar dan lengkap. Dari mulai kebutuhan pokok, berenceng-renceng cemilan, hingga berbagai jenis pakaian tersedia. Ine dan Anif yang sudah kedingingan menyambar sepasang babydoll hijau dan krem yang digantung  di etalase warung. Sedangkan, Ijang membeli kaos pokemon berwarna biru tua.

“Yang paling mending ini. Tadi malah ada yang om telolet om,” Ijang memamerkan kaos pokemon barunya.

Sambil menunggu beberapa kawan yang masih berjibaku di kamar mandi warung, saya mencoba mencari letak Pulau Pam di dalam peta ala kadar yang saya bawa. Peta ini sebenarnya hanya flyer  sebuah eco resort yang mencantumkan peta kepualauan Raja Ampat. Lembaran kertas ini pun menjadi berharga saat Google Map tidak berdaya. Boro-boro sinyal internet, jaringan telepon saja muncul dan tenggelam.

Saya tidak menemukan Pulau Pam di dalam peta berukuran A5 tersebut.  Awalnya saya pikir Pam ini singkatan “Perusahaan Air Minum”. Saya perlihatkan peta ini kepada Pak Heka Sauyai, suami bu Wisye. Ia mengarahkan jarinya ke salah satu simbol kotak merah bergaris putih di paling ujung kiri bawah. Di ikon selam tersebut bertulis “Fam’s Village”. Baru teranglah posisi kami di muka bumi. Fam’s terletak di bawah pulau Pianemo yang seharusnya menjadi destinasi besok. Menurut peta, Painemo berjarak dua jam dari pulau Mansuar. Hal konyol jika kami memaksa balik ke Mansuar malam itu juga.  Bensin kapal kami tidak cukup menempuh perjalanan sejauh itu. ABK mengatakan penjual bensin subsidi hanya ada di desa lain. Mau tidak mau, kami bermalam di desa Fam’s.

“Malam ini, kita tidur di sini dulu. Ada rumah saudara suami di sini,” ucap bu Wisye.

Tidur beratap rumah jelas terdengar mewah daripada terombang-ambing di atas kapal. Saya dan Citra mengikuti bu Wisye membelah jalanan desa yang sudah gelap. Sementara beberapa kawan masih saja betah di kamar mandi warung. Dalam perjalanan, bu Wisye bercerita bahwa ia tidak mengetahui punya saudara di pulau Fam’s. Perempuan asal Ambon ini jarang mengikuti acara keluarga dari suami yang dinikahinya beberapa tahun lalu itu.

Hujan deras tanpa bak bik buk mengguyur Fam’s. Untungnya, semua kawan sudah berkumpul di rumah. Dengan latar desau hujan, kami mengatur rencana untuk esok hari. Perbedaan pendapat sempat mencuat dalam rapat kecil kami. Sebagian ingin lanjut ke Pianemo. Sebagian lagi menginginkan langsung kembali ke homestay di Pulau Mansuar. Dengan pertimbangan waktu dan biaya, kami sepakat melanjutkan petualangan ke Pianemo “the little Wayag”.

Di balik kejadian get lost ini, banyak hal positif yang kami tuai kemudian. Salah satunya, kami diganjar kompensasi dari bu Wisye dan pemilik kapal. Bu Wisye bercerita bahwa si juragan sempat mengerahkan sejumlah kapal untuk mencari awaknya yang tidak juga pulang. Di pulau Mansuar, satu desa pun mengetahui kami kesasar. Bagaimana tidak, bu Wisye yang menjadi juru kuci Gereja hilang tak ada kabar selama berjam-jam.

“Besok hari Minggu toh . Kunci Gereja ada di saya,” kata mantan guru matematika ini.

Raja Ampat, Papua

Formasi 3-4-2 di rumah family Pak Heka di Desa Fams.

Sekitar pukul sebelas malam, kami mulai mengatur posisi tidur. Jangan bayangkan kasur membel dengan bedcover tebal. Bisa merebahkan badan di atas tikar pun sudah anugerah. Belum sempat jatuh ke alam mimpi, pemilik rumah tiba-tiba membawakan kasur berukuran king. Kami menolak halus, tapi pemilik rumah tidak mengindahkan. Ia malah membawakan dua kasur lagi berukuran single dan beberapa bantal-guling.

Sampai saat ini, saya masih merasa bersyukur menunaikan “umrah” ke Raja Ampat bersama Anif, Ine, Lia, Tita, Icha, Wilda, Citra, dan abang saya, Ijang. Hilang arah di tengah laut yang gelap menjadi cerita yang seru. Tapi kalau ada opsi enggak pakai nyasar, pasti kita milih yang lempeng sampai pulau Mansuar.  Mereka  dalam situasi yang enggak sesuai bayangan  ini masih bisa selow, fleksibel, dan enggak deramah. Semua kaya sudah diatur.

“Jalan sama kita ada aja ceritanya. Mayan, kita jadi deket ke Pianemo. Dapat bonus satu pulau lagi, Pam’s Village. Hahaha…,” kelakar kami menutup hari.

Raja Ampat, Papua

Kami bersama bu Wisye (baju ungu), Mama (dua dari kiri), dan Pak Heka (kanan) di Mangrove Homestay di Pulau Mansuar, Raja Ampat.

 

Get Lost In Wayag, Raja Ampat #1 [Prolog] 

Get Lost In Wayag, Raja Ampat #2 [Tujuh Jam Sebelum]