#CelotehTukangJalan: Tuhan, tolong Hindarkan Hamba dari Miskin, Apalagi Karena Travelling

 

Sabtu masih terlalu pagi saat ponsel gw bergetar. Gw tengok sebentar untuk memastikan urgenty pesan yang menyelinap melalui aplikasi whatsup. Oh, ternyata hanya pesan di salah satu grup.  Jarang sekali gw merespon percakapan dalam grup tersebut. Apalagi saat akhir pekan. Rasanya gw jengah duluan oleh puluhan grup yang sudah berhimpitan di dalam ponsel compang-camping gw.  Grup kantor saja  jumlahnya sampai sepuluh, belum lagi berbagai grup perjalanan, grup hobi, grup pertemanan dari SD hingga Kuliah, dan perserikatan lainnya. Kadang, gw malas duluan jika notif chat  grup yang berbunyi.

Tapi Sabtu pagi itu, jari gw gatal untuk membuka pesan gambar yang dikirim seorang anggota grup. Gambar ini berupa screenshot akun twitter dimana menampilkan foto paspor dan KTP seorang perempuan. Dengan baju berkerah kuning, pas foto dalam paspor terlihat percaya diri. Pada lajur nama tertulis jelas FRANSISCA. Perempuan yang dipanggil Sispai ini menjadi viral di dunia maya. Bahkan, #BacotSispai sempat menjadi trending topic urutan kelima di Twitter Indonesia.

Di grup-grup perjalanan, aksi “pinjam-mangkir” Sispai menjadi pergunjingan hangat. Konon, hutang  Sispai ke para korbannya mencapai ratusan juta. Lagi-lagi konon, uang sebanyak itu digunakan untuk membiayai hobi travelling di dalam dan luar negeri. Mungkin percaya diri Sisspai bisa langsung kicep kalau membaca komen-komen sarkas para korban “pinjam-mangkirnya”.

Thai 2016__SUM1

 “Dulu satu temen gw ada nih yang model begini,” ketik gw menimpali chat grup.

Dan ternyata bukan cuma satu, melainkan ada dua model begini dan ceritanya cukup melegenda di dua grup. Jauh sebelum Sispai, temen gw sudah lebih dulu mempraktikan jurus “pinjam-mangkir”. Yang pertama seorang mas-mas dari grup foto. Yang kedua, seorang mbak-mbak dari grup perjalanan sharingcost. Angkanya bervariasi. Kalau teman gw si fotografer konon mencapai ratusan juta. Para korban bercerita peruntukannya sebagai penunjang gayahidup. Mungkin travelling salah satunya.

Sedangkan, si mbak traveler dari grup sharingcost kelasnya masih puluhan juta. Tapi, angka ini saja sudah bikin gerah banyak korbannya yang tidak lain teman sharingcost gw juga. Keperluannya konon untuk travelling, nonton konser, nongkrong, bayarin teman makan dan sebagainya yang cuma tuhan sama dia yang tahu. Awalnya korban ga saling tahu karena berlaku etika MEMBAHAS HUTANG TEMAN ADALAH TABU. Tapi ya ibarat bangkai, lama-lama tercium juga walau sudah ditutup kisah se-drama menyayat apapun. Semenyayat apa kisahnya?? Tunggu dibioskop-bioskop kesayangan anda.

Kelakuan minus teman foto dan teman jalan tersebut  bikin gw berpikir. Mungkin gw bisa saja terlilit dalam kondisi yang sama kalau gw konsisten di jalur foto sekaligus travelling. Fotografi adalah hobi teknologi dan teknologi itu enggak murah. Sejalan sama fotografi, travelling pun mengisap dompet ga sedikit. Semurah-murahnya budget yang berhasil gw susun untuk sebuah perjalanan, tetap saja itu uang, sobat.

“Tuhan, tolong hindarkan hambamu dari miskin, apalagi karena travelling.”

Namun, sudah semacam pola jahitan yang gw gunting dalam otak gw bahwa, semua yang mahal harus bisa menghasilkan. Jadi semahal-mahalnya kamera yang gw beli harus bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Dan Syukurnya bisa melebihi dari modal. Begitu pula dengan perjalanan. Gw emang belum bisa menghasilkan banyak pundi rupiah dari travelling. Tapi, gw banyak menghasilkan pengalaman yang ga setara sama nilai uang.

“Lu kapan berhenti Sob? Habis kemana lagi? Ya elah, Sob…” komentar teman yang mulai gusar sama travelling gw yang sudah kaya ke supermarket buat belanja bulanan.

Agak susah buat gw mendeskripsikan travelling bukan onggokan hobi. Mustahil juga untuk dijelaskan dengan frame kepala yang beda. Travelling gw ga bisa diukur sama uang. Kalaupun gw kadang-kadang opentrip, itu karena ya gw realistis. Jangan gengsi atau takut buat opentrip kala keuangan tidak sejalan dengan hasrat bertualang. Asal jujur kalau sedang opentrip, sekedar jadi guide, atau sharingcost. Daripada ngutang sana-sini demi travelling dan mangkir pas ditagih?

Makanya opentrip gw masih ada dan tiada, tergantung angin dalam dompet. Kalau gw lagi giroh-girohnya opentrip, berarti gw lagi nabung dikit-dikit untuk perjalanan yang lebih besar. Sekalian nambah follower dan nyeleksi teman-teman yang sekiranya asik buat perjalanan berikutnya. Kalau seru dan ga baperan, biasanya bakal gw ajak kalau ada rencana sharecost trip. Sharecost ini semurni-murninya sharing dari biaya, senang, dan susah. Termasuk dalam menyusunan itinerary dan menghitung budget.

 “Gw minta itin-nya dulu dan kirimin budget-nya dong!”

Model begini masih ada 1-2, yang mau murah tapi ga mau dapat tugas. Kalau mau terima beres, mendingan ikut opentrip mas. Cuma kumpulin budgetnya dan duduk manis. Terkait budget travelling, gw ada tips travelling bebas dari hutang-piutang. Sebenarnya ini tips bukan rahasia lagi. Tapi bolehlah diingatkan kembali. Ini dia:

  1. Rencananakan perjalanan dan perhitungan dengan matang untuk meminimalisir overbudget
  2. Booking berbagai akomodasi jauh-jauh hari karena diskon biasanya bertebaran
  3. Disarankan untuk travelling dalam grup untuk menekan budget. Bisa ikut opentrip atau sharingcost trip
  4. Kalau perhitungan budget masih melebihi kondisi uang, ditahan dulu sampai dananya terkumpul. Tempat-tempat kece itu masih bisa menunggu dan tiket promo itu berulang. So calm…
  5. Hindari semaksimal mungkin berhutang untuk travelling, apalagi kalau mangkir pas ditagih. Uangnya ga seberapa dibanding aib seumur hidup, apalagi sampai jadi viral
  6. Untuk teman-teman yang “ga tegaan” kalau dengar cerita menyayat, sebaiknya stalking akun sosmed yang bersangkutan dan cek ke teman lainnya. Jangan sampai kita lagi ngendon di kantor, oknumnya malah lagi foto-foto di Jepang
  7. Untuk teman yang tipenya ikhlasan bisa dipertimbangkan bahwa dulu mungkin debitur mangkir ini berawal meminjam uang ke teman yang ikhlasan, sebelum korbannya menjamur dengan rupiah yang makin ga masuk akal
  8. Terkhusus kepada debitur mangkir please don’t be silly.. Itu teman sis, bukan pohon duit

Sispai dan dua teman gw sebenarnya bukan makhluk langka jaman sekarang. Gw yakin mereka bertebaran di sekitar kita. Dan mungkin, kalian salah satu korbannya. Dari kedekatan ini, #CelotehTukangJalan edisi ini mengambil korelasi antara travelling, budget dan hutang. Ini Efi, Dita, dan Ria dengan tips dan pengalamannya masing-masing. Selamat membaca, terus travelling, dan jangan mangkir bo… Salam Sumurdiladang!

 

Advertisements

3 thoughts on “#CelotehTukangJalan: Tuhan, tolong Hindarkan Hamba dari Miskin, Apalagi Karena Travelling

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s