Menziarahi Makan USAT Liberty

BALI

-1 Januari 2017-

Tujuan awal kedatangan saya ke Bali awal Januari lalu untuk menyelam di Pulau Menjangan, Bali Barat. Namun, cerita kapal Liberty milik Amerika Serikat yang terkubur di bawah laut Tulamben merubah rute perjalanan. Saya meninggalkan Bali Barat lebih awal dan meluncur ke Bali bagian timur. Inilah nikmatnya solotraveling ketika tujuan bisa diubah‘seenak dengkul’.

Lagi-lagi karena solotraveling, saya mendapat tumpangan cuma-cuma ke Tulamben. Ada satu kursi tersisa di mobil rombongan turis asal China yang sedang mengikuti program sertifikasi volunteer di divecenter Sea Hua Haha. Bersama mereka, saya membelah jalanan Buleleng menuju Tulamben. Laut, pure-pure, dan kebun anggur di pekarangan rumah menjadi pemandangan yang menghibur tiga jam perjalanan. Agus, pemandu grup volunteer, menceritakan tentang kemansyuran anggur Buleleng di kalangan penikmat wine dunia. Dengan label lokal Sababay Winery, minuman fermentasi ini meraih perhargaan berbagai ajang wine internasional. Sayang sekali, cerita semenarik ini hanya saya dengar dari dalam mobil.

Hampir pukul delapan malam, saya tiba di Sea Huahaha Divecenter, Tulamben. Pak Sukerdana—pemilik Sea Hua Haha—mengarahkan para volunteer terkait penyelaman besok. Saya antusias sekaligus gugup membayangkan penyelaman perdana saya di Tulamben. Entah karena saya akan menyelam dalam kelompok besar atau karena bayang-bayang bangkai kapal. Ini akan menjadi penyelaman pertama saya dalam grup besar sekaligus menjadi penyelaman kedua saya di bangkai kapal. Akhir 2015, saya pernah menyelami bangkai kapal Jepang yang karam di Pelabuhan Tua Tahuna, Sangihe, Sulawesi Utara. Kapal jenis kargo tersebut karam pada 1943, setahun setelah USAT Liberty karam di perairan Tulamben. Menyelam di bangkai kapal yang sama-sama dari era Perang Dunia II akan menarik, apalagi keduanya berasal dari negara yang berseteru.

Kapal USAT Liberty karam tepatnya pada Januari 1942.  Kapal kargo Angkatan Darat Amerika Serikat ini melintas di atas perairan Bali Timur dalam perjalanan dari Australia menuju Filipina. Alih-alih sampai tujuan, ia malah tertembak torpedo kapal selam milik Jepang. Kapal pengangkut kebutuhan Perang Dunia II ini  rusak parah. Tentara Sekutu berusaha menyelamatkannya, tapi gagal. USAT Liberty malah terdampar selama dua dasawarsa di tepian pantai Tulamben. Pada 1963, gunung Agung meletus dan melontarkan  material vulkanik hingga ke Kubu, Karangasem. Si kapal tak bertuan ikut terhempas oleh aliran lahar dan tenggelam ke dasar.

BALI

“Tahun 1986-an, (kapal karam) masih kelihatan sebagian di permukaan. Posisi kapal jadi miring karena sudah berkarat dan adanya gempuran ombak,” kenang Pak Suker.

Bangkai kapal Liberty yang separuh rebah ini terkubur sekitar 20 meter dari bibir pantai. Penyelam cukup berjalan kaki untuk melakukan entry. Namun, berjalanan dengan beban tabung dan pemberat di badan bukan perkara gampang. Apalagi, medan yang ditempuh  berupa bebatuan. Saya sering kali hampir terpeleset. Tapi inilah uniknya Pantai Tulamben. Jika umumnya pantai berhampar pasir, Pantai Tulamben didominasi bebatuan. Penamaan Tulamben sendiri berasal dari  “batulambih” yang berarti banyak batu. Hari berikutnya, saya iseng berjemur di atas batu dari letusan gunung Agung ini. Sensasinya serupa hot stone massage.

Setelah berhasil melewati bebatuan, Pak Suker mengarahkan ibu jarinya ke bawah. Isyarat agar kami segera masuk. Penyelaman pun dimulai. Hamparan batu berganti dengan pemandangan pasir, tapi yang dicari belum kelihatan.Visibitili siang itu memang tidak terlalu bagus. Dari tadi yang saya lihat malah penyelam. Saya jadi teringat celoteh seorang teman yang pernah menyelam di sini.

BALI

“Di bawahnya ramai sekali. Tengok kanan-kiri orang semua. Itu lautan manusia namanya,” candanya.

Tulamben memang tersohor sebagai “taman bermain” para penyelam. Bukan hanya penggiat scubadive tapi juga freedive dari mana-mana berziarah ke kuburan kapal USAT Liberty. Selain akses yang mudah, harga paket menyelamnya juga relatif murah. Saking semaraknya, saya sampai tidak sadar bangkai kapal sudah di depan mata. Bongkahan yang saya kira batu karang merupakan bagian tubuh kapal. Posisi kapal yang sudah miring menyulitkan saya menebak puing bagian mana.

Saat berusaha menebak, seekor kerapu besar berenang perlahan di bawah kaki kami. Untuk pertama kalinya saya melihat kerapu sebesar itu. Namun, saya tidak bisa memastikan ukurannya karena semua tampak lebih besar di dalam air. Kerapu tersebut adalah salah satu penghuni bangkai kapal Liberty. Pasca letusan Gunung Agung, pantai Tulamben menjadi hunian subur berbagai biota laut, dari softcoral besar hingga binatang super kecil. Binatang mikro ini yang menjadikan Tulamben sebagai tujuan para pemburu foto macro. Sayangnya, penyelaman kali ini saya hanya berbekal actioncame.

BALI
Ujung terdangkal Liberty di kedalaman 5 meter.

Depthmeter saya sudah menyentuh angka 20. Belum setengah badan kapal yang kami telusuri. Kapal Liberty di Tulamben ini jauh lebih besar daripada kapal kargo Jepang di Sangihe. Panjang kapal Liberty mencapai 120 meter dengan salah satu ujung berada di kedalaman 5 meter dan ujung lainnya terperosok hingga 29 meter. Pak Suker menginstruksikan saya untuk eksplorasi bagian dalam kapal bersama Nengah, buddy (pendamping) selam saya. Pak Suker dan volunteer divecourse kembali ke permukaan.

Saya memeriksa sisa udara di tabung. Ternyata masih di atas 100 bar. Arus yang cenderung tenang di Tulamben membuat tenaga dan napas saya lebih hemat. Saya membuntuti Nengah masuk ke dalam kapal Liberty. Tiang-tiang yang melintang masih tampak kokoh. Namun, penyelam harus waspada mengingat usia Liberty yang sudah renta. Beberapa bagian juga sudah berlubang. Namun, saya tidak dapat memastikan sebab lubang ini karena hantaman torpedo Jepang, gerusan lahar gunung Agung, atau  korosi air laut.

BALI

Dekat salah satu tiang kapal yang sudah terkapar di dasar, saya bertemu sekoloni garden eel. Belut laut ini langsung bersembunyi di pasir saat saya mendekat. Gerakannya yang gesit membuat saya kesulitan menangkap foto mereka. Tidak terasa pengukur udara hampir menyentuh garis merah. Saya harus kembali ke permukaan setelah sekitar satu jam saya berziarah di kuburan kapal USAT Liberty.

Selain kapal karam USAT Liberty, Tulamben memiliki dua titik selam yang juga menarik, yaitu Drop Off  dan Coral Garden. Letak keduanya tidak jauh dari bangkai kapal. Konon di Drop Off, ikan-ikan besar seperti hiu martil kadang muncul. Tapi, saya tidak berjodoh dengan satu pun hiu di titik ini. Saya malah bertemu schoolingfish goldline dalam formasi lingkaran super besar. Hiu jenis blacktip baru saya jumpai justru di Coral Garden.

Tulamben, Bali
Schoolingfish goldline.

Di titik selam yang terbentang di kedalaman 3-28 meter ini pula saya disuguhi atraksi shrimp cleaning membersikan gigi Kadek, buddy selam saya. Saya mencoba atraksi bersih-bersih ini dengan mengulurkan tangan. Dengan sigap udang ini membersih sela-sela kuku saya. Lumayan juga daripada pedicure ke salon. Tapi jelas bukan atraksi bersih-bersih ini yang menggoda saya untuk menyelam di Coral Garden.  Di titik ini terdapat taman stupa, patung budha, dan patung dewa-dewi lainnya. Patung batu ini sengaja ditenggelamkan sebagai media transplantasi coral.

“Kita ada jadwal rutin memeriksa kondisi patung. Patung-patung ada yang jatuh karena gelombang di sini besar,” cerita Kadek.

Coral Garden juga menjadi spot favorit saya untuk snorkeling. Kedalaman tiga meter sudah terhampar anemone beserta penghuninya, si ikan badut “nemo”. Di dekat anemone, beraneka ikan berseliweran mencari makan. Ada oriental sweetlips, triggerfish, sepasang morish idol, dan sekelompok panda butterfly. Saya iseng membututi ikan palette surgeonfish yang berenang sendirian. Begitu sadar diikuti, ikan yang menjadi karakter utama film Finding Dory ini langsung ngacir. Saya langsung teringat adegan saat Dory berkejaran dengan Marlin.

Lokasi snorkeling asik lainnya adalah ujung terdangkal bangkai kapal USAT Liberty. Titik ini juga menjadi incaran para freediver untuk uji kemampuan. Dalam satu tarikan napas, mereka menyusuri bangkai kapal. Saya sempat mencoba, tapi napas saya masih pendek untuk masuk lebih dalam. Butuh belajar teknik khusus untuk sehandal para freediver ini. Di Tulamben sendiri sudah ada sekolah khusus freedive bernama Apnea. Mungkin lain waktu saya ingin juga belajar di sana agar bisa menikmati keindahan laut Indonesia dengan cara berbeda. Selamat berkelana!

 

RANSEL

  • Tulamben bisa dicapai dengan sewa mobil dari Bandara I Gusti Ngurah Rai Rp 500,000/ 8 jam. Alternatif lebih hemat dengan travel Perama Rp 175.000/ orang dari Kuta setiap pukul tujuh pagi. Bandara-Kuta dengan TransBali Sarbagita Rp 3,500.
  • Beberapa penginapan di Tulamben memiliki kamar dormitori AC Rp 100,000/ malam termasuk sarapan.
  • Harga paket selam khusus diver ber-lisence Rp 250,000-400,000. Untuk discovery (tanpa lisence) Rp 350,000-500,000.
  • Tulamben juga terdapat objek wisata Rumah Pohon dimana Gunung Agung terlihat sangat dekat. Buka pukul 07.00-18.00 WITA dengan tiket Rp 20,000.
  • Untuk menemukan camilan lokal bisa pergi ke pasar tradisional di Tulamben yang hanya digelar tiga hari sekali berdasarkan penanggalan Bali.

 

**) Tulisan ini dimuat di rubrik Perjalanan Koran Tempo Akhir Pekan, 4-5 Maret 2017

 

Advertisements

One thought on “Menziarahi Makan USAT Liberty

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s