#CelotehTukangJalan : Perjalanan Paling Epic Failed-nya

Biak2015__SUM5

Beberapa tahun lalu. Tepatnya enggak akan gw sebut. Sama seperti tahun sebelumnya. Gw masih merampungkan beberapa bucketlist travelling gw. Walau “keranjang” yang gw maksud ini ga pernah ditulis rapih dalam poin-poin. Semuanya menggantung 7 cm depat di atas kepala gw. Mungkin kalau gw ngaca, itu awan mimpi udah kaya balon gas peresmian gedung baru. Saking banyaknya, kalau awan itu berwujud fisik, gw dah bisa kebawa terbang sampe ke bulan kali ya.

Kalau emang benaran bisa ke bulan, ini bakal jadi travelling paling epic. Haha.. Tapi nyatanya gw masih aja di bumi. Dan sejauh ini, semua list travelling gw di bumi masih apic (baca: epic). Ga semua berjalan sesuai rencana, namanya juga travelling. Ga semua sesuai ekspektasi, dan itu menjadi bagian seru dari tiap perjalanan.  Makanya saat nyonya-nyonya #CelotehTukangJalan memutuskan tema tentang “epic fail trip” untuk sesi ke-3, gw rada mikir juga.

Gw coba searching dalam memori perjalanan gw dengan kata kunci “epic fail travelling” . Hasilnya “the search key was not found in any record”. Seberapa melencengnya sebuah kegiatan melancong gw, akhirnya selalu bikin seneng. Alias, yang ga asik-asik biasanya nguap gitu aja dan yang ngendap yang seru-seru. Dulu seorang senior di kantor yang juga penulis handal pernah nanya. Kurang lebih gini bunyinya:

“Ta,  dari semua perjalanan lu, tempat atau kota mana yang  paling ga banget menurut lu?”  

Gw mikir lama. Dan bingung kasih jawabannya. Bukan lantaran gw malu menjawab si penulis handal ini. Tapi, gw beneran ga tau. Semua perjalanan itu keren dengan ceritanya masing-masing.

“Apa ya, Mas. Bingung gw. Abisnya semuanya kayanya seru,” jawab gw sambil mesem-mesem.

Menurut dia, seharusnya emang begitulah traveller. Ga men-judge sebuah lokasi baik atau buruk. Karena, semua tempat kan punya budaya masing-masing. Ga bisa diukur dengan frame kepala kita yang udah dikotakan sama tempat asal kita. Kemudian, senior saya ini mengkritik penulis buku perjalanan yang baru dia baca, dimana judgment lokasi kerap dilakukan penulis. Okelah bertambah petengetahuan gw tentang etika perjalanan.

Jadi, mungkin edisi 3 #CelotehTukangJalan ini gw ga akan bahas tentang lokasi yang epic failed-nya. Pengalaman terburuk gw terkait travelling justru bukan saat travelling berlangsung. Justru terjadi beberapa hari atau seminggu setelahnya.  Lagi-lagi bukan tentang lokasi, melainkan tentang teman perjalanan. Gw ga akan sebut nama sih dengan alasan etika juga. Okeh mari kita sejenak masuk mesin waktu menuju masa yang gw sebut sebagai “beberapa tahun lalu”.

Masih inget banget beberapa hari setelah kepulangan gw dari menunaikan salah satu list di bucket, gw ketemu dengan seorang kawan yang enggak ikutan jalan-jalan. Blablabla… sampailah pada pertanyaan:

“Gimana perjalanan lu kemarin?”

“Seru! He he he..”

“Oia?”

Gw pun menceritakan singkat keseruannya. Kawan gw ini tau banget gimana kondisi gw beberapa bulan belakangan.  Pada era “beberapa tahun lalu” itu, gw mang lagi diinvasi besar-besaran dari segala penjuru sektor kehidupan. Ibaratnya, gw lagi diuji sama yang punya dunia apakah gw ini manusia apa ikan. Jadi, gw anggap pertanyaan ini semacam atensi kawan gw atas kondisi gw waktu itu. Sampai mulailah pertanyaannya rada menyempit sampai menyebut nama makanan yang gw ga kenal.

Hahaha… untuk teman yang sering jalan sama gw mungkin tau cerita kericuhan macam apa yang ditimbulkan makanan aneh ini. Yang wujudnya aja belum pernah gw lihat. Konon, gara-gara makanan ini gw bikin rusuh perjalanan kita waktu itu. Konon gw merusak acara travelling waktu itu. Konon gw maksain buru-buru bali ke bandara daripada nyobain kuliner khas lokal. Semua ini gw tulis dengan awalan “konon” karena emang ga ada kejadiannya. Sampai gw tanya ke teman perjalanan gw yang lain apakah gw lupa satu momen. Barangkali karena “beberapa tahun lalu” saya sedang depresi dan rada skip.

Teman-teman perjalanan gw yang lain itu pun menggeleng dan semua ga tau makanan apa. So, di sini ternyata ada satu temen jalan yang rada delusional dan ngarang-ngarang cerita ke luar dari kelompok perjalanan kita waktu itu. Yang sempat bikin gw membuncah jelas bukan perkara makanan aneh ini. Cerita makanan ini cuma satu dari sekian banyak cerita membualnya. Motifnya masih ga paham gw sampe sekarang. Mungkin mang hobinya kali karena beberapa temannya oknum ini pernah tertimpa hal serupa. Baiklah…

Awalnya, saya agak sanksi untuk melakukan perjalanan dengan formasi 3 orang. Dari mulai kekhawatiran pembengkakan biaya sharecost hingga terbatasnya pilihan hostel dengan kamar triple. Namun, semua kekawatiran saya terpatahkan saat saya dan dua kawan saya @titatulititano @liyongyong melakukan perjalanan Thai lalu. Formasi trio ini malah banyak sisi menguntungkannya. Misal, kami mendapat kamar triple yang lebih murah dari kamar dua tamu. Dan yang paling menyenangkan adalah memiliki rekan perjalanan yang saling ngisi walau tidak selalu sepaham. Thanks gals untuk trip Thai yang seru ini. Selamat bertemu di belahan bumi lainnya #friendtime #backpacking #SumurdiladangGoToThai #snorkeling #surin #skyporn #wisatathailand #GoproHero4 salam #Sumurdiladang

A post shared by nita kelana (@sumurdiladang) on

Dari kejadian itu, gw akhirnya belajar lebih selektif memilih teman jalan. Khususnya, perjalanan yang masuk kategori  “dream come true”. Karena perjalanan kan bukan cuma bicara tentang tujuan mbak-bro. Sama kaya hidup, perjalanan itu bercerita tentang berencana, proses sampai ketujuan, dan cerita pas kita sudah kembali ke habitat asal. Sekiranya penting memilih teman jalan dengan gaya jalan yang sama. Seandainya emang tipenya beda, setidaknya bisa saling paham dan berjiwa raksasa sama kemauan masing-masing. Misi travelling gw kan mencari kawan, bukan lawan. Apalagi dunia inisempit, jadi biarkan diri kita yang meluas.

Tulisan ini semoga ga gibah. Hahaha.. Nyonya-nyonya  #CelotehTukangJalan lain juga punya cerita yang ga kalah  failed-nya.

Cerita gw mungkin rada beda sama ketiga kawan seceloteh dan sebangsa ini. Tapi ini emang trip yang paling epic failed-nya. Walau terkuak justru setelah kita balik ke habitat asal. Kalau inget-inget gw masih aja bingung. Intinya mah, selektif pilih teman jalan. Alangkah lebih arifnya kalau menyampakain apa yang ada di kepala. Biar semua urusan yang menohok selesai di lokasi trip.

Tulisan ini gw dedikasikan buat kawan-kawan perjalanan gw yang pada yahud. Thanks ya masih pada jadi patner perjalanan yang asik. Dan buat teman-teman asik yang gw kenal saat solotravelling. Semoga kebaikan kalian bisa gw tularkan kepada orang lain yang gw temui saat travelling. Mengutip statement seorang pengajar kelas menulis:

“Karma itu ada. Tapi Darma harus segera dibayar.”

Advertisements

5 thoughts on “#CelotehTukangJalan : Perjalanan Paling Epic Failed-nya

  1. Anjir temennya halu banget itu 😂😂

    Bener banget tuh, untuk perjalanan yg dibuat demi menuntaskan ‘dream come true’ harus selektif banget milih travelmatenya. Daripada sepanjang jalan kita misuh2, dan gak sejiwa sama mereka. Malah ngerusak moment ntar.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s