#CelotehTukangJalan: Ke(m)Bali lagi?

 

bali-2007__sum6
Cave underwater spot di Pulau Menjangan, Bali Barat.

 

*) Perjalanan pada 1 Januari 2017

Lekuk bagian mana lagi yang belum dipertonton dari Pulau Bali. Ibaratnya tahi lalat di balik kutang pun sudah ditonton para pelancong. Entah melihat langsung atau tersiar di media sosial. Tapi, secomot kata “Bali” selalu terdengar eksotis sekaligus magis. Sepanjang tahun, para pelancong berdatangan dari mana-mana. Bahkan, datang untuk puluhan kali. Saya pun sudah beberapa kali ke Bali, walau masih hitungan jari. Namun, sebuah janji memanggil saya untuk terbang lagi ke pulau yang berjarak 1,200 km dari Jakarta. Janji sederhana kepada diri sendiri untuk berkelana ke Pulau Menjangan. Pulau kecil di ujung atas Taman Nasional Bali Barat ini pun menjadi perjalanan pembuka di 2017.

Setelah melewati malam pergantian tahun di udara, saya tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, sekitar pukul 01.30 Waktu Indonesia Tengah. Bandara Bali di tahun baru ternyata sepi. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya putuskan menunggu pagi untuk pergi ke terminal Ubung, dimana bus-bus dengan tujuan Gilimanuk standby 24 jam. Apalagi, sejumlah pejalan menceritakan nasib apes di terminal tersebut. Dari mulai tipu-tipu calo hingga aksi pemukulan. Ya sudahlah, lebih baik pejalan ala solotraveller macam saya mencari spot merebahkan badan.

Sebuah kursi besi panjang di dekat pintu keluar terminal kedatangan domestik menjadi pilihan paling asoy. Beberapa turis sudah lebih dulu terbujur nyenyak di kursi lain hingga hujan tiba-tiba mengguyur Bali. Dua turis terbangun lantaran tampias air hujan. Di sisi lain, udara Bali jadi lebih segar. Tapi sial, mata saya enggan terpejam. Padahal besok pagi bakal melakukan perjalanan panjang. Katanya, Ubung-Gilimanuk biasa ditempuh sekitar empat jam. Bye, bye…  kursi panjang. Saya menyandang kembali gembolan ke balik punggung dan menyusuri koridor kedatangan. Saya berharap keajaiban bisa menemukan angkutan murah menuju Ubung.

Ternyata mata ini masih manusiawi. Dua pasang sandal di luar musholah bandara lebih menggoda daripada papan daftar harga shuttle bus ke mana saja. Bukan sendalnya yang menarik minat saya masuk ke Musholah, melainkan peluang tidur nyenyak. Di dalam Musholah khusus wanita ini, dua orang sudah terlelap di pojok-pojok ruang. Saya memilih posisi di syaf belakang dekat pintu sehingga tidak akan mengganggu yang ingin salat Shubuh. Halo teman senasib se-musholah, saya ikut  bobo  ya…

Empat jam sudah saya terpejam tapi mata masih berat untuk membuka. Saya lirik jam tangan yang menunjukan hampir pukul enam. Berarti di Bali sudah pukul tujuh. Sementara saya masih mengumpulkan kesadaran, salah satu teman sekarpet saya sudah on ber-calling-calling dengan telepon genggam. Logat Jawanya cukup kental. Dari hasil curi dengar, baru saya ketahui ia adalah tenaga kerja wanita (TKW) yang akan pulang ke daerah asalnya. Kalau dia ke Gilimanuk sepertinya kita bisa jadi teman perjalanan selama empat jam. Tapi dari koper dan bawannya, saya duga dia sedang menungu perbangan yang rada siang.

Datang tak diundang, pergi pun saya tidak pamitan. Setelah cuci muka dan semprot wewangian, saya menyambut matahari pertama di 2017.

“Selamat Pagi 2017!”

 

BALI
Bali dari atas udara.

 

 

Sabar-sabar menunggu Sarbagita

 Bekas hujan semalam masih tampak di aspal bandara. Dengan kantuk yang masih berayun di pelupuk mata, saya mencari mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di terminal keberangkatan dan kedatangan dosmetik untuk top up saldo GoJek. Saya menyerahkan nasib saya kepada ojek berbasis internet tersebut.  Dari info seorang teman (Sahat), Gojek sudah bisa di Bali walau hanya bisa menjemput di luar kawasan Bandara. Dua lokasi ATM Bank Mandiri di bandara internasional ini tidak menyediakan menu ecommerce. Gagal lah saya menghemat sedikit biaya perjalanan. Tanpa promo GoPay, GoJek masih menjadi alternatif termurah untuk menjangkau Terminal Ubung.

“Bu, ojek? Mau kemana?” seorang bapak tiba-tiba menawarkan jasa di lorong Bandara. 

“Ke terminal Ubung berapa, pak?” saya balik bertanya.

“Seratus ribu ya? Kan kalo naik taksi bisa dua ratus,” jawab si bapak.

Setelah minta maaf, saya kembali berjalan ke arah gerbang. Saya berencana memesan Gojek saat sudah benar-benar di luar bandara. Entah ilham darimana, kepala saya menoleh  ke sebuah tangga kayu di sudut lorong. Tangga kayu dengann list biru ini  menjadi jawaban angkutan murah meriah yang pas di kantong solo traveller. Aha! Halte Sarbagita sudah ada di dalam Bandara, tepatnya di dekat terminal kedatangan domestik.

Dari papan biru yang bergantung di langit koridor, tidak ada jurusan ke Terminal Ubung. Tapi Terminal Mengwi tercatat di salah satu tujuan. Sepengetahuan saya Taman Nasional Bali Barat bisa ditempuh melalui terminal yang terletak di Badung tersebut. Dari Mengwi, saya akan lanjut dengan bus tujuan Gilimanuk dan turun dipertigaan sebelum pelabuhan. Dari situ, saya bisa naik bus atau kendaraan umum lain ke dermaga Lalang maupun Banyuwedang. Saya menunggu di dekat tangga dengan rasa legah. Beberapa orang ikut menunggu tapi tak lama pergi. Ternyata mereka hanya numpang duduk atau ingin ke toilet yang berada di dekat halte ala kadarnya ini. Saya seorang diri yang menjadi calon penumpang Sarbagita di Bandara.

 

bali-2007__sum3
Halte Trans Sarbagita di terminal kedatangan domestik, Bandara I Gusti Ngurah Rai

 

Tiga puluh menit berlalu. Saya masih menunggu. Nikmatnya jalan sendirian, saya tidak terikat jadwal. Perjalanan kali ini saya punya banyak waktu untuk dihambur-hampurkan. Satu jam kemudian, saya masih sabar menunggu. Saya mulai mencari informasi tambahan di mesin pencarian. Beberapa artikel menulis bahwa Sarbagita beroperasi dari pukul 05.00 hingga 21.00 WITA dengan rentang keberangkatan satu jam. Belum banyak wisatawan macam saya mengetahui keberadaan Sarbagita di Bandara. Sebagian besar memilih menggunakan travel. Untuk rombongan saya jelas menyarankan mobil travel. Tapi untuk yang ingin sedikit bertualang dan punya banyak waktu luang, boleh mencoba Trans Sarbagita.

Satu setengah jam berlalu, bus berwarna biru melintas di depan halte. Saya sontak berdiri, tapi tidak lama kembali duduk di atas trolly. Ternyata, itu Sarbagita tujuan Nusadua-Batubulan. Jurusan tersebut mengingatkan saya pada pengalaman pertama menjajal angkutan masal Bali ini, 2013 lalu. Saat itu, saya berencana ke Ubud tapi iseng menclok ke Nusadua lebih dulu. Dari halte Jimbaran saya ke Nusadua. Sekitar tiga jam saya menyusuri sudut-sudut Nusadua sebelum kembali ke pool untuk melanjutkan perjalanan ke terminal Batu Bulan. Dari terminal di Kabupaten Gianyar tersebut,  saya naik angkutan umum sejenis colt ke kawasan Mongkey Forest, Ubud. Tahun itu, ongkos colt sekitar Rp 30,000 untuk wisatawan lokal. Tiket Sarbagita masih Rp 3,500. Ternyata di 2017 ini, harga Sarbagita masih sama.

Dua jam berlalu yang ditunggu belum datang juga. Saya mulai gelisah dan bertanya kepada petugas kebersihan. Menurutnya, setiap 15 sampe 30 menit Sarbagita singgah di halte ini. Dia menyarakan saya untuk langsung ke pool Sarbagita di parkiran terminal kedatangan internasional. Jaraknya sekitar 100 meter dari sini. Belum sampai lima menit berjalan, jajaran bus besar berwarna biru sudah tampak berjajar rapih. Seperti kue lapis yang baru dipotong-potong. Tapi saya belum lihat kue lapis berwarna biru. Mungkin saya hanya lapar.

“Bus ke Mengwi yang nomor (body) 5685 jalan duluan. Tapi tunggu dulu saja di situ. Nanti kalau mau jalan baru dipanggil. Mungkin sekitar 30 menit lagi,” tukas salah satu petugas Sarbagita.

Tiga puluh menit rasanya tak terlalu lama. Saya pun duduk di kursi tunggu bersama dua calon penumpang lain. Untuk mengisi waktu, saya menyapa penumpang di sebelah saya. Perempuan asli Malang, Jawa Timur ini sudah menunggu di pool Sarbagita bandara dari pukul enam. Saya bingung kenapa bus Sarbagita belum jalan padahal beberapa armada sudah standby. Para supirnya juga sudah berkumpul. Perempuan yang saya tidak tahu  namanya ini pun undur diri. Dia menyerah dan seorang kawannya menjemput di luar bandara.

 

bali-2007__sum7
Penampakan si biru yang sudah lama di nanti, Sarbagita. 

 

Dulu kalau saya ke Bali, sepupu yang bekerja di Bali selalu menjemput di Bandara. Saya juga biasanya menumpang semalam di rumahnya sebelum memulai perjalanan. Aktivitas menumpang ini semacam rutinitas bagi saudara Jakarta yang berkunjung ke Bali. Beberapa bulan lalu, yang bersangkutan pindah tugas ke Jakarta. Jadilah saya ngembolang dengan Sarbagita.

Kondektur bus memanggil karena Sarbagita jurusan Mengwi akan segera berangkat. Bus yang saya naiki berbeda dengan yang ditunjuk tadi. Nomor berapa tidak lagi penting. Yang utama adalah saya bisa sampai Terminal Mengwi. Terima kasih Tuhan.

Bus yang saya tumpangi ini terbilang sepi. Begitu pula dengan jalanan Denpasar menjelang siang. Mungkin Bali masih beristirahat usai gempita pesta tahun baru semalam. Bus Sarbagita berhenti di beberapa halte yang lebarnya sekitar 2 meter dengan panjang 3-4 meter. Di salah satu halte, sekitar empat penumpang naik melalui pintu depan. Salah satunya masuk dengan celotehan kesal.

“Kok lama banget, sudah dua jam saya nunggu. Ibu ini malah sudah dari jam 7. Gila ini. Saya baru kali ini tunggu lama kaya gini,” kurang lebih seperti itu isi ungkapan kesal salah satu penumpang.

Ibu yang ditunjuk hanya mengangguk kecil, tanda setuju tapi tak sekesal bapak-bapak yang menunjuknya. Kondektur hanya tersenyum bingung menanggapi kekesalan penumpang. Ia menjelaskan bahwa khusus tahun baru, Sarbagita beroperasi lebih siang dari biasanya sesuai kebijakan Pemda. Terjawab sudah kenapa berjam-jam perjuangan saya untuk bisa menikmati transportasi murah lintas kabupaten ini. Tak lama si penumpang meminta maaf kepada kondektur.

Saya berkenalan dengan penumpang kesal tadi yang kebetulan duduk di sebelah saya. Kami pun mengobrol seputar tujuan kami masing-masing. Si bapak yang saya lupa namanya ini ternyata berencana nyeberang ke pulau Jawa melalui pelabuhan Gilimanuk. Beliau menyarankan saya untuk turun bareng di pool terakhir Sarbagita di Terminal Persiapan di Kabupaten Tabanan. Menurutnya, bus  tujuan Gilimanuk juga banyak di terminal yang berjarak 30 menit dari Mengwi ini. Saya setuju oleh ajakannya.

Tidur di musholah bandara ternyata tidak cukup membalaskan dendam tidur saya. Rasa kantuk kembali hinggap. Maka saya pergi ke dunia mimpi meninggalkan bapak tadi yang asik mengobrol dengan penumpang lain di depannya. Masih sekitar satu jam lagi dari total 2 jam perkiraan sampai Tabanan. Selamat tidur tuan dan puan.

 

BALI
Pagi terakhir di Pantai Tulamben, Karangasem, Bali Timur.

 

Selamat bertemu lagi di cerita lanjutan solo travelling saya  edisi  ke Bali Barat hingga akhirnya malah  menclok ke Bali Timur. Tiga kawan ngeblog #CelotohTukangJalan juga punya cerita perjalanan asik di pembuka 2017.  Formasinya masih sama:

Mari membaca dan jangan lupa berkelana. Salam Sumurdiladang…

Advertisements

4 thoughts on “#CelotehTukangJalan: Ke(m)Bali lagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s