NONA BELANDA DI KOTA TUA

KOTA TUA

Pelataran Museum Fatahillah masih lengang pengunjung. Mungkin mendung yang bergelantung sejak pagi di langit Jakarta menciutkan niat sejumlah pelancong. Tapi tidak dengan dua gadis di salah satu sudut alun-alun Kota Tua, Jakarta. Keduanya kusyuk menggaris warna di sekitar mata, memoles bedak, dan memasang bulu mata cetar membahana ala Princess Syahrini. Tidak lupa wig panjang  dan gaun megar melengkapi penampilan mereka. Devi (22) dan Yuli (18) bertransformasi menjadi “nona belanda”.

Dalam balutan gaun biru muda dan merah menyala, dua sahabat asal Brebes ini menarik perhatian pengunjung Kota Tua. Pengunjung yang sebagian besar kaum hawa berfoto dengan nona belanda. Tidak ada tarif khusus yang ditetapkan. Pengunjung sukarela memasukan rupiah ke dalam keranjang dari bak sampah.

Bagi Yuli, profesi nona belanda lebih asik dibanding menjadi buruh pengemasan sarden yang pernah dilakoninya. Lingkungan kerja santai dan penghasilan lebih besar. Namun profesi yang baru dijalani Yuli tiga bulan ini bukan tanpa resiko. Yuli pernah mendapat perlakuan tidak sopan dari pengunjung. Untung saja, perlakukan tersebut masih bisa ditolerir.

“Jangan macam-macam dengan anak sini. Kemarin ada yang berani nyopet aja digebukin abis,” ucap Devi yang sudah setahun menjadi nona belanda di Kota Tua.

Keranjang uang masing-masing nona belanda ini semakin meninggi. Saat pengunjung Kota Tua ramai, mereka bisa membawa pulang uang hingga Rp 500,000. Jika sepi, Rp 100,000 saja sudah lumayan untuk memenuhi kebutuhan satu hari. Sekitar 40 persen penghasilannya akan dibagi  kepada penyewa gaun.

KOTA TUA

Untuk menggelar lapak foto, Devi tidak dipungut biaya. Kompensasinya, Devi bersama nona belanda lain, manusia patung, tokoh pahlawan, putri duyung, pangeran, dan karakter costplay lain wajib mengikuti kerja bakti bersih-bersih kawasan Kota Tua. Kerja bakti ini dilakukan saban Sabtu dan Minggu pada pukul 1 dan Jumat setiap dua pekan sekali.

 

Matahari semakin tegak di atas kepala. Namun awan tebal masih setia di atas sana. Devi dan Yuli berdoa semoga hujan tidak turun seperti kemarin. Jika hujan, mereka hanya bisa ngacir melindungi gaun dan riasan mereka.

“Semoga enggak hujan,” harap-harap cemas sang nona belanda sambil mendongak ke langit Kota Tua.

KOTA TUA

 

*Perjalanan 15 Januari 2017. Tulisan ini diedit dari tugas saya saat mengikuti kelas “Basic Travel Photography & Writing Workshop”    bersama Citilink

Advertisements

2 thoughts on “NONA BELANDA DI KOTA TUA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s