For The King

Pada 31 Oktober 2016

This slideshow requires JavaScript.

Antrean mengular  tidak juga surut di lapangan dekat Grand Palace, Bangkok, Thailand. Padahal sudah hampir seharian warga Thailand mengantre demi mendoakan Raja Bhumipol yang meninggal 13 Oktober lalu. Dengan busana formal serba hitam, mereka rela berdiri di bawah terik matahari.  Siapa saja bisa ikut melayat  ke dalam istana Raja tersebut. Asalkan mereka mengenakan sepatu, kemeja, celana bahan bagi pria, dan rok bagi wanita.

Hari itu, saya sudah bersiap dengan baju hitam dan kain warna gelap untuk dijadikan bawahan. Sayangnya, kain biru tua yang saya pakai dianggap tak memenuhi syarat. Bersama para pelayat yang  senasib, saya mencari posko peminjaman pakaian. Setelah bolak-balik dan bertanya sana-sini, saya akhirnya menemukan posko yang dimaksud. Atasan dan bawahan yang disumbangkan warga digantung rapih  dengan hanger, sedangkan  sepatu dibiarkan menumpuk di samping posko.

Saya kembali menelan kecewa karena muka lokal saja tidak cukup ampuh. Pelayat harus meninggalkan kartu identitas penduduk Thailand untuk mendapatkan pinjaman cuma-cuma tersebut. Dengan berat hati, saya tereliminasi dari barisan pelayat setelah mengantre sekitar empat jam. Dua kawan perjalanan saya pun turut keluar barisan. Kami memutuskan untuk berkeliling di area pelayatan dimana ratusan posko berdiri.  Dari mulai posko kesehatan, makanan, minuman, buah, pijat, salon hingga posko foto dengan potret raja.

Saya sangat tertarik berfoto sambil memegang potret Raja Bhumipol. Tapi niat itu saya urungkan karena tidak ingin menambah panjang antrean warga Thailand yang sedang khusyuk mengenang rajanya.  Mereka cukup antusias dengan posko foto ini.  Sebelum berfoto, beberapa pelayat  memoles bedak bayi yang disiapkan pemilik posko. Alhasil, minyak di wajah berkurang saat berhadapan dengan kilat lampu studio.

Warga, pelajar, pramuka, militer, pemerintah hingga perwakilan negeri tetangga mendirikan posko ini untuk memberikan support kepada pelayat. Tentu semuanya tanpa pengutan biaya. Banyaknya pelayat anak-anak dan lanjut usia mengharuskan sukarelawan disiagakan. Mereka berseliweran memastikan terpenuhi kebutuhan pelayat yang mengantre. Selama seharian berada di sana, saya sudah mendapat bubur kacang, sup bakso ikan, nasi goreng, ice cream, sari buah dingin, softdrink, macam-macam minyak angin, balsam, handuk basah, berbotol-botol air mineral dan komik yang berkisah hidup Raja Bhumipol.

Tangis histeris sudah tidak terdengar pada hari ke-delapan belas kepergian raja. Namun, duka masih kasat di wajah mereka.  Sampai saat ini, saya masih kagum dengan loyalitas rakyat Thailand mengantar hari-hari terakhir raja sebelum dikremasi.

“Saya berikan bunga ini gratis. Doakan untuk raja kami,” pesan salah seorang ibu. Kapunkha. 

 

Baca juga perjalanan saya Thailand lainnya  ROTI SAI MAI, ARUM MANIS ALA THAILAND

Advertisements

2 thoughts on “For The King

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s