Saya Nge-Blog, Biar Ga Goblog

sumurdiladang-2016bestnine

Obrolan ringan tentang masa depan, selalu menjadi topik menarik di antara kami para penghuni Jatinangor saat itu. Menyenangkan sekaligus bikin galau. Istilah keren jaman itu adalah disorientasi. Dinding-dinding kosan yang lembab jadi saksi obrolan remeh-temeh kami. Kami di sini bukan bercerita tentang masa depan dua orang atau jamak. Melainkan, masa depan tunggal. Jalan hidup macam apa yang akan saya, dia, dan kamu jalani selepas melepas status mahasiswa nanti.

“Nanti, lu mau ngapain?” Tanya seorang kawan.

Pertanyaan pendek itu langsung meniup awan-awan mimpi yang sudah lama ngapung di atas kepala saya. Senyum simpul melengkung di sudut –sudut bibir. Saya itu pemimpi. Tapi tidak pandai merealisasikan mimpi yang saya ciptakan. Awan-awan yang barusan melayang seketika terbang tanpa daya. Otak saya pun rasanya sepadat jalanan Jakarta jelang buka puasa. Padat merayap.

“Ga tau. Pengennya moto dan travelling. Hahaha.. enak bener ya,” jawab saya sambil terkekeh.

Tahun-tahun berlalu, status kami pun berganti rupa dari mahasiswa menjadi lebah-lebah ibukota. Tapi pertanyaan masih sama. Jawaban pun masih sama. Saya itu pemimpi. Tapi ternyata saya cukup mampu menjada konsistensi mimpi. Walau realisasinya masih belum nyata.  Karena selain pemimpi, saya juga makhluk yang ga percaya diri.

Mereka bilang saya penggila travelling dan cukup mumpuni di fotografi. Kadang, saya merasa itu bukan point kuat untuk saya unjuk gigi. Lagian, siapa sih yang ga bisa travelling hari gini? Dan, siapa sih ga bisa fotografi jaman pintar begini? Siapa yang ga bisa nulis perjalanannya abad gini?

“Gw!” Acung jari tinggi-tinggi untuk pertanyaan retoris ke-tiga.

Tergodok dalam panci berlabel jurusan jurnalistik di dapur ilmu komunikasi lantas tidak membuat saya bertalenta dalam mengurai kata.  Akhirnya, perjalan-jalanan saya kebanjiran foto tanpa cerita yang mengaitkannya. Padahal, banyak cerita dibalik satu bingkai citra. Sekali lagi, saya itu pemimpi.  Tapi berbanding terbalik dengan kemampuan mewujudkannya. Yang saya tahu cuma tentang konsistensi. Berkali-kali saya membuat ruang untuk merangsang saya bermain kata. Dari mulai membuat cerita singkat dalam instagram @sumurdiladang, menulis berbagai ulasan di tripadvisor, meluncurkan photoblog nita kelana, hingga nge-blog bareng kawan-kawan senasib se-Jatinangor.

“Pakai hastagnya #CelotehTukangJalan,” usul si pelopor.

Inilah posting pertama nitakelana.wordpress.com bersama:

Edisi perdana #CelotehTukangJalan bertema “kenapa nge-blog”. Temanya sederhana, cuma lumayan bikin saya bertanya-tanya.  Selamat membaca dan berkelana. Salam Sumurdiladang!

“Kalau ada umur yang panjang, boleh kita menumpang mandi. Kalau ada @sumurdiladang, boleh kita berjumpa lagi”

Advertisements

8 thoughts on “Saya Nge-Blog, Biar Ga Goblog

  1. gpp ga pake tulisan yg panjang lebar mbak… kdg hanya melihat foto plus caption singkat aja, aku bisa lgs kepengin datang ke tempat yg ada di foto itu ;).. malah bikin penasaran… jd lgs cari tau sendiri itu di mana… di sana letak serunya.. 🙂 apalagi kalo berhasil datangin tempatnya :D..

    alasanku sndiri ngeblog, krn aku pelupaa 😀 hihihi… makanya semua pengalaman traveling dan kulinerku, perlu ditulis di blog, supaya ga lupa 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s