SURGA TERSEMBUNYI DI BARAT DAYA NUSA PENIDA

nusapenida-nitadian__1

Perjalanan dilakukan pada Mei 2016

Napas sudah setengah terengah-engah, tapi yang dicari belum juga tampak. Saya kembali mengecek ponsel berharap ada sinyal untuk mencari arah. Ah, sinyal sial! Ia ikut mengering di padang rumput tandus ini. Kiki, adik saya yang menjadi patner perjalanan kali ini, mencoba meyakinkan bahwa jalan setapak yang dipilihnya benar.  Kami pun kembali melangkah sambil menyisakan beberapa teguk air mineral. Sesekali saya mengambil gambar panorama yang memang indah dari atas punggungan. Hamparan laut, langit biru, tebing-tebing karang, dan rerumput yang mengering menjadi pelipur mata. Tak terbayangkan keindahan macam apa yang akan disuguhkan Pantai Atuh, surga tersembunyi yang sedang kami cari.

Pantai Atuh tersembunyi di Desa Pejukutan, ujung barat daya Pulau Nusa Penida, Bali. Di peta wisata Bali yang saya bawa, pantai Atuh tidak tercantum. Namun, informasi mengenai kemolekan surga tersembunyi  ini sudah tersiar di dunia maya.  Namanya  juga surga, untuk sampai dibutuhkan perjuangan yang tidak biasa. Sebelum bertemu jalan setapak, kami lebih dulu berjibaku dengan kontur menanjak, aspal rusak, jalan berbatu, hingga matahari Bali yang menyengat. Sekitar 2 jam, kami menyiksa motor matic yang kami sewa dari pelabuhan Toyapakeh ini. Untunglah motor matic pak Made ini cukup bandel walau beberapa kali bagian bawahnya beradu dengan bongkahan batu. Kami sempat berpapasan dengan sepasang wisatawan yang menyerah dan memutuskan kembali.

Nita Dian Afiantinitadianafianti@gmail.com
instagram @sumurdiladang
Malu bertanya sesat dijalan

Namanya juga surga, selalu ada malaikat penolong di sekitarnya.  Malaikat kami siang itu adalah dua penebang kayu yang kebetulan melintas. Dengan logat Bali kental, malaikat tak bersayap ini mengarahkan kami ke jalan yang benar.  Kami seharusnya belok kiri setelah 50 meter dari lokasi kami parkir motor. Parkir motor di sini bukan lapangan luas dengan karcis berbayar. Melainkan, semak-semak teduh yang menyisakan lapak 2 x 2,5 meter. Asal tidak ganggu orang melintas, saya anggap sudah parkiran. Jangan takut curanmor. Pemilik hotel tempat saya menginap menyampaikan bahwa Nusa Penida aman dari segala tindak pencurian. Seperti umumnya orang Bali, mereka sangat percaya karma.

Akhirnya, saya menemukan belokan yang dimaksud para penebang kayu. Wajar tadi belokan ini terlewati karena tidak terlihat seperti jalur yang sering dilalui orang dan tanpa petunjuk arah.  Namun, perjuangan untuk bersantai di Pantai Atuh belum tamat. Di depan mata, titian puluhan anak tangga menunggu untuk kami turuni. Tak sempat saya hitung jumlah persis anak tangga yang bertengger di tebing sisi kiri pantai Atuh ini. Yang jelas  jumlahnya tampak lebih manusiawi daripada jalur tangga di tebing seberang.

Nita Dian Afiantinitadianafianti@gmail.com
instagram @sumurdiladang
Landscape pantai Atuh dari tangga di jalur kiri

Ada dua jalur yang bisa dilalui untuk sampai ke Pantai Atuh. Keduanya tertulis jelas di satu papan penunjuk jalan: Pantai Atuh panah lurus dan Pantai Atuh panah ke kiri.  Panah lurus akan berujung pada tebing sisi kanan pantai Atuh, sedangkah belok kiri berakhir di sisi tebing yang kami pijak ini. Pemilik warung di pertigaan  jalan  menyarankan untuk memilih jalur ke kiri. Menurutnya, jalur kedua ini lebih dekat walau kondisi jalannya kurang bersahabat. Beberapa kali saya harus turun dari motor karena medan curam dan berkerikil. Singkat cerita, sampailah saya di anak tangga tebing kiri.  Walau jumlah anak tangganya lebih manusiawi, lutut saya tetap terasa berdenyut. Tangga-tangga ini kurang cocok disebut sebagai ‘anak tangga’. Mereka lebih cocok disebut sebagai ‘emak tangga’.

Segenap perjuangan ini langsung terbayar tuntas saat kepingan surga yang kami cari terhampar di depan mata. Terlebih lagi, surga ini serasa milik saya dan kiki. Hanya ada dua pengunjung lain yang sedang asik berguling-guling dengan ombak. Hari itu, ombak Pantai Atuh memang lebih besar dari biasanya. Saya sendiri memilih bersantai di bangku pantai sambil menyeruput sekaleng cola dingin. Ada beberapa penjual kelapa dan minuman ringan dingin di pantai Atuh, tapi tidak untuk makanan berat. Perbekalan cukup sangat penting jika ingin menikmati pantai Atuh dengan perut terisi.

Nita Dian Afiantinitadianafianti@gmail.com
instagram @sumurdiladang
Pura Sad Kahyangan Atuh

 

Tidak jauh dari bibir pantai, sebuah komplek bangunan khas Bali berdiri dengan anggun. Bli Made, seorang pecalang Atuh, menjelaskan bangunan itu adalah Pura Sad Kahyangan Atuh. Di pura yang dikeliling kebun kacang ini, sembahyang pujawali akan digelar pada hari raya yang jatuh pada purnama ke-10. Atau, bulan ke-9 dalam penanggalan masehi. Dalam perayaan mohon keselataman ini, sebagian sesajen akan di larung  ke laut. Mendengar cerita Bli Made, saya ingin sekali bisa kembali ke Pantai Atuh di bulan tersebut.

Konon, matahari terbit sangat indah di Pantai Atuh. Pada bulan ke-8, sunrise akan merayap naik tepat di tengahnya. Oleh karena itu, beberapa situs menyarankan untuk berkunjung ke Atuh saat hari masih fajar. Mengingat beratnya medan perjalanan, saya merekomendasikan para pemburu sunrise untuk bermalam di area pantai. Namun, jangan harap menemukan homestay apalagi hotel di Atuh. Fasilitas penunjang wisata di pantai yang masih perawan ini masih minim.

Kamping adalah solusi paling seru. Malam hari, pengunjung akan diselimuti bintang-bintang yang bertabur di langit pantai Atuh. Saat pagi, matahari terbit akan menyapa dengan cantiknya. Untuk menggelar tenda, pengunjung  tidak dibebani tambahan biaya. Pengunjung hanya membayar Rp 5,000/ orang untuk retribusi masuk ke Pantai Atuh.  Biaya yang sama jika kita masuk ke setiap destinasi di Nusa Penida. Tidak perlu repot bawa tenda dari kota asal. Nusa Penida berjamuran tempat penyewaan tenda dan keperluan kamping lainnya.

Nita Dian Afiantinitadianafianti@gmail.com
instagram @sumurdiladang
Santai-santai di Pantai

Di sekitar Pantai Atuh, ada beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi antara lain pantai Volcom (Swehan) dan bukit Teletubbies. Namun, petualangan bukit kami rasa tidak tepat saat mahatari sedang tegak-tegaknya di atas kepala. Di saat itu pula, sekelompok pengunjung tampak kepayahan meniti anak tangga tebing kanan. Bli Made sepertinya akan kedatangan banyak tamu hari ini. Saya dan kiki pun pamit untuk melanjutkan pencarian kepingan surga lain yang disembunyikan Nusa Penida. Selamat menjelajah!

 

Catatan:

Jika ingin kamping di Pantai Atuh, bisa menghubungi Bli Made untuk informasi lebih jelas  melalui  nomor +6285338544471

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s