Primadona Baru di Botubarani

This slideshow requires JavaScript.

 

Sherly , nama yang diberikan nelayan setempat kepada tamu yang kedatangannya tak pernah diundang ini. Asal-usulnya masih menjadi tanda tanya. Berapa usianya pun belum ada yang mengetahui pasti. Tapi yang jelas, ia kini menjadi sang primadona baru di Desa Botubarani, Gorontalo. Layaknya kembang desa,  pesona Sherly mampu menggoda orang-orang dari berbagai belahan dunia untuk  bertandang ke Desa yang berjarak tak sampai 20 menit dari Pusat Kota Gorontalo ini. Begitu pula dengan saya. Setelah mendengar kabar kehadiran sang primadona, saya memutuskan kembali terbang ke Gorontalo. Padahal, belum enam bulan sejak kali pertama saya menginjakan kaki di Gorontalo.

“Sherly, Sherly, Sherly…” panggil seorang nelayan sambil mengetok-ngetokan dayung ke badan jukung.

Tak lama, seekor hiu paus bergerak mendekat. Ia mengadahkan kepalanya ke permukaan dan membuka mulutnya lebar-lebar. Dua orang pengunjung pun berteriak kompak dari atas Jukung yang mereka sewa. Mereka sangat ketakutan melihat makhluk sebesar itu berenang hanya satu meter di depan mata. Namun, Sherly tak ambil peduli. Bersama kawanannya, ia tetap asik menikmati sarapan favoritnya, yakni sekantong ampas udang.

Sherly terbilang paling belia di antara kawanannya. Panjangnya hanya sekitar 3 meter. Sedangkan hiu paus yang terpanjang  di Botubarani mencapai 10 meter. Yang terpanjang ini dinamai Hercules. Mendengar nama itu membuat saya tertawa. Saya membayangkan “Hercules si paus” memiliki tubuh maco seperti pahlawan dalam mitologi Yunani tersebut.

Padahal, jenis kelamin paus-paus ini belum jelas.  Belum ada penelitian resmi terkait mereka saat saya datang di awal Mei. Maklum, keberadaan Sherly dan kawanannya baru diketahui sekelompok penyelam lokal secara tidak sengaja.  Saat melakukan penyelaman Apri lalu, mereka melihat kawanan hiu paus di Botubarani.

Walau sebenarnya, hewan bernama latin Rhincodon typus ini sudah kerap muncul dua tahun belakangan di perairan Botubarani. Tepatnya, di area pabrik pengelolaan udang.  Ampas udang yang dibuang pabrik telah mengundang  kedatangan hiu paus. Namun, nelayan belum tertarik dengan kemunculan tamu tak diundang ini, sampai sosial media meramaikannya.

Desa nelayan Botubarani yang lengang langsung kebanjiran wisatawan lokal dan mancanegara. Tepian pantai yang tadinya kosong berubah menjadi pos masuk dan warung jajanan. Banyak pula warga menyulap pekarangan rumahnya menjadi lahan parkir dengan tarif Rp 2,000-5,000. Sedangkan untuk masuk, wisatawan dikenakan retribusi Rp 50,000/ kepala. Mahal memang, tapi harga tesebut bisa ditawar. Biaya tiket masuk masih diluar sewa jukung dan ampas udang.  Warga juga menyediakan sewa snorkel dan masker untuk pengunjung yang ingin snorkeling . Harga sewa satu setnya sekitar Rp 30,000.

Bagi pengunjung yang ingin mengamati hiu paus dari kedalaman, sejumlah operator selam menyediakan paket penyelaman di spot hiu paus. Saya sendiri bergabung dengan operator selam Miguels untuk menyelesaikan misi utama kembalinya saya ke Gorontalo. Di atas perahu cepat Miguels, saya bersama empat penyelam lain yang juga memiliki misi serupa. Sepasang penyelam asal Swiss dan sepasang penyelam asal Jakarta. Namun, saya tidak menyelam bersama mereka di spot hiu paus. Saya memilih mengabadikan kelincahan Sherly dan kawan-kawannya tanpa tabung dan pemberat.

“Mbak Nita, tidak takut?” Tanya Dive Master Miguels sebelum penyelaman.

Saya menggeleng bingung. Mungkin perjalanan bertemu makhluk berukuran besar ini memiliki arti yang sama besarnya bagi saya. Antusiasme yang kelewatan ini menggerus rasa takut hingga tanpa sisa. Apalagi, ketika seorang kru memberitahu  bahwa seekor hiu paus sedang mendekati kapal kami. Saat si kepala tutul-tutul menyembul di balik air, adrenalin saya langsung melonjak. Ah…. Itu Sherly!

“Selamat pagi, Sherly!” sapa saya dalam hati.

Hiu paus  Botubarani sering muncul ke permukaan. Mereka menghampiri jukung-jukung nelayan dan memberi kode untuk segera diberi sarapan. Saya terpengarah melihat sosok-sosok besar itu berenang  dengan perlahan. Mana Sherly dan yang mana Hercules sudah tidak terlihat bedanya. Mereka semua tampak sangat besar di dalam air.

Dari informasi terakhir, ada 17 ekor hiu paus yang menghuni sekitar perairan desa Botubarani. Pagi itu, saya hanya bertemu lima di antaranya. Namun, lima saja sudah berulang kali membuat saya salah tingkah. Hiu paus bisa tiba-tiba melintas di balik punggung. Bahkan, seekor hiu paus menganga di depan lensa saya. Sudah tak sempat untuk saya berenang menghindar. Saya hanya diam pasrah sambil berharap semoga tidak ditabrak atau minimal kesepak ekornya yang setinggi badan saya. Membayangkan wajah saya ditampar kulit yang tebalnya bisa 10 cm pasti rasanya lumayan. Untunglah, hiu paus cukup lihai mengemudikan ekornya untuk menghindari benturan.

Geger lintang—sebutan hiu paus dalam masyarakat Jawa—ini merupakan hewan yang jinak. Oleh karena itu, mudah sekali mengambil gambar mamalia raksasa ini. Apalagi jika di dekat mereka ada gelembung udara yang dihembuskan para penyelam. Hiu paus sangat suka melintas di atas gelembung, sama seperti saya. Hiu paus mungkin mengira gelembung tersebut adalah sumber makanan. Atau mungkin juga, mereka mengambil udara yang tersimpan di dalam gelembung.

Hampir satu jam saya menyelam bebas bersama Sherly dan kawanannya. Dive master Miguels di bawah sana mengetuk tabung oksigennya beberapa kali. Tandanya, kami harus kembali ke kapal. Dengan wajah berbinar, kami melanjutkan perjalanan ke spot penyelaman ajaib lainnya di Taman Laut Olele yang berjarak 10-15 menit. Gorontalo memang surga bagi para penggiat selam. Ada sekitar 38 titik selam di Gorontalo. Penyelam akan disuguhi pengalaman yang berbeda di tiap titiknya. Berenang bersama hiu paus adalah salah satu pengalaman yang sangat luar biasa.  Tidak akan cukup dilakukan sekali.

Saya pun memutuskan kembali ke desa Botubarani di hari-hari berikutnya. Kali ini, saya ditemani para nou dan uti—sapaan untuk laki-laki dan perempuan di Gorontalo. Bersama kawan baru ini, saya berenang menuju zona makan hiu paus yang hanya terentang 10 meter dari  bibir pantai. Jika ingin berenang leluasa, datanglah saat masih pagi. Pengunjung belum ramai dan visibiliti masih baik. Cahaya matahari pun jatuh lebih indah di atas tubuh besar sang primadona .

“Selamat pagi, Sherrly!”

* Perjalanan ini dilakukan pada Mei 2016. Kini, Sherly dan kawanannya sudah migrasi meninggalkan  warga Botubarani, Gorontalo

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s